Sabtu, 16 Maret 2013

Karena Kamu, Kita Berbeda..


Ada tema percakapan yang sedikit menarik hari ini di kampus gue. Sesuatu yang menjadi pemacu inspirasi gue menulis tema yang (Mungkin) sama sekali belum pernah gue bahas di blog ini, secara vulgar atau secara.. gue.


Gue bukan tipe puitis romantis yang jago bikin kata-kata manis sejenisnya, tapi hari ini gue pengen membawa tema tentang menjadi berbeda. Makna yang mungkin gak gue ngerti bahkan sampai detik ini, tapi gue tau perbedaan itu ada jauh di dalam diri setiap manusia. Dan gue adalah si remaja yang (mengaku) cukup open minded untuk menerima segala perbedaan tersebut dengan tangan kingkong gue yang terbuka lebar.

Sebut saja dia Panjul, yang sedikit membawa gosip mencengangkan di siang hari. “Oh iya, gue pengen cerita, tapi kalian jangan cerita siapa-siapa ya.. gue punya temen cantik banget, tapi... lesbi.” Ucap Panjul sambil bisik-bisik.

Gak lama kemudian dia nunjukin gue foto cewek super gorgeous berambut pendek ala cowok, pake kemeja, dan kacamata. Bahkan dengan segala aura maskulin itu, gue tau cewek itu memang cantik.

“Pacarnya cantik-cantik lagi..”

Gue gak tau apakah ini isu biasa atau mungkin isu luar biasa yang gue denger. Karena gue, sudah terlalu terbiasa dengan berita ini. Yang membuat gue sedikit tidak terbiasa adalah bagaimana orang-orang kebanyakan mendeskripsikannya dengan ekspresi seperti itu, atau kode bisik-bisik semacam itu. Itu yang membuat gue gak terbiasa. Seperti yang si Panjul lakukan, atau seperti reaksi yang teman-teman lainnya keluarkan.

Malam ini, baru aja. Gue buka sebuah blog dari temannya temannya teman gue. Intinya gue gak kenal orang itu secara personal. Tapi gue kenal, temannya teman gue. Ha ha ha. Jayus. Di mata gue, dia cantik, dia langsing, dia punya betis impian yang gak pernah gue punya (Hiks), dia punya sense fashion yang extraordinary, dia punya impian besar, dan dia seorang transgender.

Atau banci. Seperti kebanyakan orang Indonesia (yang idiot gak ngerti kata transgender) menyebut dia. Apapun itu, hanya dalam sekali kunjungan ke blognya gue udah nge-fans abis. Gue suka, dia pede, dia bangga, dan dia selalu (berusaha) berpikir positif dengan apapun keadaannya. Apapun keadaannya, sama kayak gue,yang membosankan, yang gak ngerti selera fashion, yang gak tau cara bersenang-senang, tapi gue juga mau belajar berpikir positif kayak dia.

Beberapa waktu lalu, seorang teman menunjukan akun twitter transgender (lainnya) di kelas, dan langsung dikerumunin temen-temen cewek. Gue super duper gak nyaman waktu ada seorang temen cewek komentar semacam ini... “Ih pede banget sih, banci, kayak cakep aja. Jijik tau liatnya, mana gemuk gitu, liat deh tuh betisnya. Ih kayak gitu banget...” (oke, BUKAN, gue bukan gak nyaman waktu temen gue ngomongin BETIS YANG GEDE KAYAK BETIS GUE! Please, bukan itu pointnya!)

Dan hanya kalimat-kalimat ini yang terlintas di pikiran gue pada saat itu.. “Ini cewek berasa paling cantik ya ngatain orang kayak gitu...” atau “Elo berani gak pede kayak dia foto gitu?” aataaauu.. “Lo pernah bayangin gak sih kalo lo yang digituin waktu lo foto? Mungkin sekali-kali lo harus coba ya dihujat semacam itu.”

Jreng.

Tapi karena itu teman baru, dan gue jaim, dan gue gak mau mengeluarkan tabiat gue semasa SMA dulu, gue memutuskan untuk diam dan nyimpen hal-hal seperti itu cukup di pikiran gue.

Gue belajar banyak hari ini, bahwa semua orang berbeda, dan gue tau perbedaan itu ada. Gak memberikan lo satu alasan tepat untuk menghakimi perbedaan-perbedaan itu bikin lo mencibir atau sebagainya. (satu dari sekian alasan gue kadang males ngegosip sama cewek-cewek arisan).

Gue gak sedang membicarakan jaman yang telah bergeser, atau kata mereka, orang makin “gila” makin hari. Tapi gue sedang membicarakan tentang se-terbuka apakah elo, seluas apakah cara pandang lo, atau sebijak apakah cara berpikir lo. Gue gak memiliki ketiga itu, tapi gue tau gue tengah belajar untuk memiliki ketiganya.

Gue juga gak sedang membicarakan tentang neraka dan segala atributnya. Gue Cuma sedang membicarakan  “Siapa elo untuk menghakimi seseorang masuk neraka? Tuhankah elo?”. Atau “Siapakah elo untuk maksa dia berubah? Elo kah yang bekerja keras untuk impian-impian besarnya? Yes? No?” gue adalah orang pertama yang akan mengacungkan jari bahwa gue, sama sekali gak memiliki hak untuk itu.

Gue juga bukan membicarakan tentang kesetaraan dari perbedaan (orientasi seksual, gender, atau perbedaan ekstrim lainnya). Bagi gue, manusia gak ada yang setara, manusia gak pernah boleh jadi setara. Semua ada porsi masing-masing untuk setiap individunya. Dan gue akan jadi orang yang mengacungkan jari bahwa gak ada istilah kesetaraan. Semua berhak menjadi lebih, hebat, apapun.

Gue adalah pembaca fanfic paling ekstrim yang suka banget mengaplikasikan cerita-cerita mustahil itu kedalam kehidupan gue, dan gue percaya pada impian juga hidup bahagia selama-lamanya.

Jadi gue percaya, apapun keadaan lo. Overweight, minder, ngerasa jelek, transgender, lesbian, gay, cacat, buta, tuli, bisu, autis, atau mungkin aids, gak ada seorangpun yang berhak menyetarakan lo, lo selalu memiliki kapabilitas untuk menjadi hebat, lebih tinggi, lebih keren, lo punya impian? Raihlah itu. Karena Tuhan Cuma satu (bagi yang percaya), dan Tuhan gak menghakimi. Atau kalaupun iya, ada saatnya, yang jelas itu bukan tugas mereka buat menghakimi elo.

Bla bla bla.

Anyway, special buat temennya, temennya, temen gue. Kalo blog gue udah terkenal (rasanya udah deh *ditimpuk rame-rame*) dan lo baca postingan ini, atau ketika lo udah terkenal sebagai model internasional, tiba-tiba dapet mimpi ada onta yang bisa ngomong dan nyuruh lo untuk ketik www.marisasukamakanroti.blogspot.com di hape lo, apapun itu. Inget aja, karena malam ini. Lo telah menjadi inspirasi gue. Bahwa gue juga harus punya optimisme dan impian itu apapun keadaannya, sesulit apapun situasinya. So thanks.

Bla bla bla.

Sekian.

Salam roti!

5 komentar:

Fika D A mengatakan...

Hi!

gue baru disini , penggemarmu *tulisan lo yang unyunyu* :D

gue setuju banget sama pemikiran lo, ngga banyak temen gue yang bisa nerima "itu" *sigh*

and... gue juga salah satu dari bagian yang elo jadiin tema kali ini :)

Salam Roti ^^/

Desi Anwar mengatakan...

wey mar, tiap u bikin post pasti gw baca, tapi jd sider(silent reader) doang :p
tapi kali ini gw mau komen, soalnya ini post paling bagus menurut gw, kita emang ga boleh sembarangan ngejudge orang seburuk apapun dia. two thumbs up d('-')b

Marisa Roti mengatakan...

fika: hahahaha. itu masalah perspektif aja sih, untungnya aja gue orang modern, dan orang modern kan harus punya pemikiran yang terbuka. entah bagian mana yang adalah elo, tapi tetep semangat ya.

desi: beneran niiihhh?? deeuuuh jadi tersandung gitu blog gue dibaca sama lo. ahahahahaha...

Tiffany Frederika mengatakan...

Gue adalah pembaca fanfic paling ekstrim yang suka banget mengaplikasikan cerita-cerita mustahil itu kedalam kehidupan gue, dan gue percaya pada impian juga hidup bahagia selama-lamanya.

Kata orang kita beda banget, tapi sebenernya kita mirip-mirip juga, kan? Kecuali fisik, ya.

Marisa Roti mengatakan...

ASEEEEMMMM BAWA2 FISIK ENTE. hahahahahahahahahah..

tapi kan kita tetep opposite attract gitu fan. ngakngakngak.
kalo menurut teori yang gue anut, dua orang bakal sulit berteman ketika mereka gak memiliki kesamaan sedikitpun, jadi ya... kita pasti punya kesamaan meskipun sedikit.

asik sabtu jalaaaaannnnn..