Rabu, 01 Juni 2016

Funerals

I  come to many funerals, but never of my beloved one.

Gue jarang nangis di pemakaman. Bahkan di kematian kakek yang seharusnya relatif dekat hubungan darahnya sama gue. Terakhir gue nangis histeris di pemakaman amah gue. Itu pun waktu gue kecil, gue belum ngerti artinya kematian. Yang gue tau, kalo nanti udah waktunya tutup peti dan penguburan, I will never see her anymore. Jadi gue nangis.


Bahkan gue rasa, sebenernya gue nggak pernah bener-bener paham sama makna kehilangan itu sendiri. We feel it many times. Tapi nggak pernah bener-bener tentang kehilangan, karena orang datang dan pergi, and it’s an usual thing. Kita masih punya jaminan that somehow, someday, kita bisa ketemu lagi sama orang itu. But not with death.

I often write about my father here. Dengan cara nyeleneh, ngeledek, kesel setengah mati, sampe kekaguman gue pada sosok bokap gue. I used to be his favourite daughter karena gue anak bungsu dan gue cewek, and he is my most favourite man in the world. Karena gue kenal sosok bokap sebagai orang yang hebat dari gue kecil. I believe it even until this second, bahwa bokap gue bukan orang biasa. Dia berani, kuat, bertanggung jawab, dan punya jiwa kepemimpinan yang tinggi. That’s why I respect him.

Beberapa minggu belakangan, and as stated at my writings entah kenapa gue lagi sering banget kepikiran soal orangtua. That I haven’t done much for them, sementara orangtua nggak pernah berhenti ngasih dan berkorban buat anak-anaknya. Setiap liat bokap nyokap bawaannya gue jadi sedih. Karena anak, ketika mereka beranjak dewasa dan menghadapi kehidupan, mereka, termasuk gue, suka lupa kalo orangtua makin tua, nggak sadar sampe berapa lama lagi kita punya waktu untuk berbakti. Gue nggak tau, mungkin sebenernya itu pertanda.

Bokap meninggal bulan April lalu. And I dont even know how to feel.

Tiga hari pertama gue Cuma bisa nangis, lagi makan bakcang gue nangis, makan kfc sambil nangis, ngopi nangis lagi, nggak heran kenapa badan gue makin gede. Karena gue selalu nangis sambil makan. Nangis gue terjadi setiap waktu, berarti gue juga makan setiap waktu.

Detik-detik sebelum bokap pergi, nyokap suruh kita semua masing-masing bisikin papa untuk minta maaf. And I couldn’t even say anything. Gue Cuma ngebayangin omongan nyokap gue, waktu bokap masih sakit di RS, “Yang kuat, jangan kenapa-kenapa. Aicia wisuda nanti Oktober. Elu ga mau liat anak lu wisuda?”

Bokap nggak kuat, it’s okay. Yang penting gue udah berhasil nunjukin bokap kalo gue bisa. Dia udah persiapin semuanya buat gue sebelum dia pergi. Nasihat, biaya kuliah S2. Bokap punya ekspektasi yang tinggi buat gue supaya gue bisa maju. Dia selalu ngomong itu ke nyokap, waktu bokap kritis. Nyokap cerita sambil nangis, “Papa pesenin terus ke mama, duitnya harus dipisahin buat kuliah lu S2. Biar lu ga dikecilin sama orang.”

Kita berantem, diskusi, lalu berantem lagi. One thing I really understand lately, tantangan bokap gue selalu karena dia peduli. Bukan karena dia mau menjatuhkan gue.

I’m not sad. At some point gue tetep ngerasa bahwa bokap gue masih ada. That I will meet him weekend ini, biarpun everything that’s exist inside his house is screaming that he has already gone. Kondisi yang berubah mendadak, rencana-rencana cadangan yang harus kita susun ulang (gue dan keluarga gue). Rumah yang mulai dirapih-rapihin, barang-barang yang masuk ke dalam kardus. Karena sekarang kita Cuma berlima. Nggak ada lagi bokap yang bisa ngelindungin atau marah-marahin kita.

Cuma satu hal yang ada di otak gue waktu detik-detik terakhir kepergian bokap gue, that gimanapun kehilangannya gue, I need to stay sober. Karena gue yakin itu yang bokap harapin dari gue. Gue harus tetep lanjutin skripsi gue dengan sadar dan ambil S2 secepetnya sesuai amanah bokap.

There’s one thing I’m sad about. Bukan tentang kepergian bokap gue, tapi gimana kurangnya waktu ketemu gue dan dia. If only I knew.

I never understand how he actually was. Nyokap banyak cerita setelah bokap nggak ada. Obrolan-obrolan mereka tentang gue dan cece koko gue. Gimana bokap gue pusingnya mikirin kita dan mau yang terbaik buat kita. How kind he was also. Nyokap sempet cerita, waktu lagi pas-pasan dulu, bokap tetap usaha ngumpulin duit untuk disumbangin ke orang-orang susah sekitar situ.

Gue tau bokap gue bertanggung jawab, tegas, dan berani. Gue Cuma nggak pernah tau kalo dia orang baik.

Anyway thanks buat temen-temen yang sampe hari ini tetep kepoh gangguin gue untuk nanya gimana kabar gue setelah kejadian ini. The truth is, I don’t really know how to feel. Everything’s good. Akademik baik-baik aja. Rencana gue tetap jalan. Though gue nggak bener-bener ngerasa kehilangan akan bokap gue. Seolah bokap emang masih ada dan gue masih bisa ketemu.

He left us in a good condition. Kayanya bokap emang udah persiapin semuanya. Mungkin bokap udah tau. Dan gimana begonya gue karena nggak sadar sama pertanda-pertanda belakangan ini.

I made a promise, yang gue bisikin sebelum bokap bener-bener pergi. And I’m sure as hell that I will keep it. For him and for myself.


Semoga papa tenang di sana. I’m sure you will. Aicia aman di sini, pasti bakal jadi orang hebat sesuai harapan papa.

13 komentar:

Fradita Wanda Sari mengatakan...

Rest in your peace for your father :(
Semoga kamu dan semua keluarga yang ditinggalkan juga tetap kuat dan sabar :) This blogpost somehow gives me a reminder about my parents also. Thank you for that :)

Desi Anwar mengatakan...

Mar, gw berkaca-kaca baca ini.
Gw nggak sering ketemu sm bokap u dulu, gw juga nggak tau dia orangnya gimana, dan bahkan gw nggak ingat wajah bokap u, tapi gw tetep turut berdukacita atas kehilangan u dan semua anggota keluarga u.
Stay strong, Mar. For your sake, and for your father's sake.

Rest in peace, om.

Sekar✿ mengatakan...

Dear Kak Marisa,
mungkin aku nggak kenal kakak in personal, apalagi kakak, pasti nggak tau siapa aku. Aku cuma salah satu dari followers blog kakak yang masih masih sering blogging juga, dan setiap kali kakak update post baru, aku nyempetin baca.

Aku pernah left komentar di postingan blog kakak, entah di postingan mana aku lupa, aku coba cari tapi ngga ketemu. Udah agak lama sih. Tapi aku inget apa isi komenku waktu itu, intinya aku suka cara kakak bercerita di blog, banyak hal yang bisa jadi pelajaran buat aku sebagai pembaca.

Kak Marisa,
aku turut berduka atas berpulangnya papa kakak. May his soul rest in peace.

Ayahku juga meninggal April kemarin, karena sakit. "...bahwa bokap gue bukan orang biasa. Dia berani, kuat, bertanggung jawab, dan punya jiwa kepemimpinan yang tinggi. That’s why I respect him." Aku merinding waktu baca itu kak, since I respect my father for the same reason.

Kakak bilang, kakak menghadiri banyak pemakaman, but never of your beloved one. Dalam hal ini, kita berbeda. Bisa dibilang, aku sudah mengalami banyak kehilangan orang yang aku sayangi: ibuku, nenek, ayah, bahkan juga cowok yang pernah kutaksir (it's really really personal, i dont even know why i talked so much here). Aku mengalami banyak kehilangan yang tak terduga dalam hidupku yang 18 tahun ini, dan aku banyak belajar dari situ.

Maaf ya kak jadi komen panjang dan mengandung unsur curcol(?) teruslah berkarya, untuk orang-orang yang kakak sayangi dan menyayangi kakak. :)

Regards,
Sekar.

Marisa Roti mengatakan...

Thank you, fra. Do the best you can ya.

Marisa Roti mengatakan...

Pernah ketemu lo nyet duluuu hahahaha. Thanks ya, Des.

Marisa Roti mengatakan...

Sekar,

Thanks udah komen ya.

Gue agak salut baca komen lo di sini. Orang2 kaya lo yang bikin gue kuat2in mental. Mainly, lo stated the fact bahwa lo baru 18 tahun udh mengalami segitu banyak. If my father passed away when i were your age, mungkin gue ga sekuat sekarang. Itu masa labil2nya manusia fyi.

So good luck for both of us, sekar.

Turut berduka cita for you, too. He'll be glad to have you as a daughter.

Rika Priwantina mengatakan...

Mar, I just heard about your Dad's passing. Turut berduka cita ya Mar dan it's okay for you to feel sad and even to cry kok. Tapi kupikir kamu akan selalu tough buat ke depannya, bahkan lebih. Tetap jaga amanah beliau, Mar. Do the best! :)

Sekar✿ mengatakan...

Ah iya bener kak. Aku juga sadar aku masih labil banget, emosional, dan most of all sebenernya aku ini cengeng dan rapuh hahaha........ karenanya aku sering memandang kasus yang Kak Marisa ceritakan di blog dengan cara berbeda, kayak "well kakak ini cuek banget ya, diledekin temennya mah santai aja nanggepinnya. Kalo aku digituin udah sedih banget kali" karena aku terlalu masukin ke hati :D

Kerennya adalah, kakak sendiri sadar gitu loh akan karakter personal kakak, aku lihat kakak cukup mengenali diri sendiri. Itu yang aku maksud bisa jadi pelajaran buatku.

Marisa Roti mengatakan...

Yep, Rika. Thanks ya. :)

Marisa Roti mengatakan...

Sekar: Labil dan emosional wajar untuk anak seumuran lo, yang hebat adalah lo tetap bertahan dan berusaha untuk positif despite hal-hal yang udah lo hadapi selama ini. That's the reason why i think, at some point you inspire me also. Gue ga sekuat itu.

Waktu dan pengalaman ngajarin banyak hal. Baper diledekin? Semester awal kuliah. Yes I did. Insecure dan childish. Bukan cuek juga, sih. Errr, ya dasarnya gue emang agak cuek. Tapi lama-lama mulai memilah aja hal yang penting dan harus dipikirin sama yang harus dicuekin dan dibawa santai.

Lo bakal ngerti maksud gue nanti. hahaha

Lorisca Cessia mengatakan...

speechless mar, gw rasa komenan ini bakal berantakan ga jelas apa maksud yang mau gw sampein. karena baca postingan ini bikin perasaan sama mata ikut berantakan, aduh apasih..
tapi mar, turut sepenanggungan yah, gw baru baca jadi baru tau.

btw, curcol. gue alamin ini 10 tahun lalu, persis, papa sakit, meninggalnya bulan april juga, menjelang gw ujian juga (ujian SD tapi, whaha). waktu itu, di usia segitu mar... sempat mikir, shock kehilangan beliau bakal bikin gw ga bisa konsen ujian, gw sempat pasrah kalo ntar ga lulus. masih ga rela, dan seumuran gitu juga gue udah tahu dan mikir, soal persiapan keluarga untuk hidup kedepannya, yang mana belum se well-prepared kayak yang lo alamin.
tapi nyatanya gw lulus, tetap dengan posisi teratas.
dalam usia 11 tahun, masih rada bengong gitu gw sempat takut jangan-jangan gw ga punya hati, masa gw baik-baik aja, masa waktu kelar pemakaman gw masih bisa ketawa ngakak pas ngobrol sama temen-temen yg datang menghibur. masa gw kok keliatannya ga kehilangan... Padahal beliau itu sosok yang paling gw sayang, berat sebelah gitu pokoknya jauh lebih deket dan sayang sama papa dibanding mama. yah dan mostly, anak cewek selalu menggambarkan ayahnya adalah sosok terhebat dll atau kayak yang dikutip Sekar itu kan mar...
tapi gimana yah, menjadi kuat atau baik-baik aja justru harusnya is a need kan? bukan berarti perasaan kita ga ada kan? buktinya makin kesini gw makin berantakan gegara ngetik komen sambil nangis. wuh. tau ah udah ah.
pokoknya gw kagum lo hebat deh mar, lo kuat, haha bye

Marisa Roti mengatakan...

We're never really that strong ca. Well maybe we are included in strong women species. Tapi tetep kan, at some moment ada trigger, keinget bokap. And we'll cry easily. We love our father deep down. People don't need to understand, so I can really relate for you. Thank you for the comment, Ca.

Steven Lim mengatakan...

Turut berduka cita yah... dan apapun yg terjadi, musti sama kyk si johnny walker, keep walking!