Jumat, 14 Juni 2013

Ironisme Kejebak di Toilet Dunkin...

Hari ini, dalam rangka mulia untuk menyelesaikan tugas kuliah gue dimana gue harus mencari artikel mengenai etika lingkungan, dan internet di rumah lagi mati, akhirnya gue ke Dunkin di deket rumah gue untuk well, ya. Nyelesaiin tugas sekalian donlod video (porno. Enggak denk. Hehehe), ya lebih ke, donlod video sekalian nyelesaiin tugas. Apapun itu.


Anyway, gue inget banget pengalaman gue poop (BAB) di tempat umum sejak gue SMP, pernah ada kejadian memalukan waktu gue SD, dimana gue pernah poop di celana karena gue terlalu malu untuk ijin. 
Percaya atau enggak, gue sangat pemalu waktu SD, mungkin itu juga yang menyebabkan gue bertransformasi dengan mengerikan sewaktu SMP, jadi... gak tau malu. SMA, semakin gak tau malu, hingga sekarang, kuliah, gue tidak tahu apa itu arti malu.

Mengingat kejadian memalukan sewaktu gue SD itu, akhirnya gue berjanji pada diri gue sendiri, bahwa apapun yang terjadi, dimanapun gue berada, ketika gue mules, gue akan poop dimanapun. Di mall, di sekolah, dikampus, karena sekarang, pemahaman gue tentang buang air besar adalah sesuatu yang manusiawi dan menyehatkan. Menahan hasrat panggilan alam itu, menjadi sebuah dosa bagi gue. Sekarang.

Seperti biasa, karena gue terlalu banyak minum kopi di dunkin, dan dapet donat gratis, akhirnya perut gue mules. Gue ke WC. Dan gue menuntaskan hasrat tersebut. Gue dengerin lagu, karena biar gimanapun, ketika gue tahu bahwa gue berada di tempat umum dengan kesadaran bahwa mungkin ada yang nunggu wcnya diluar. Itu bikin gue nervous dan susah konsentrasi untuk buang air besar. Jadi gue akan dengerin lagu pake headset kenceng-kenceng ketika gue ada di wc umum.

Pengalaman mendebarkan gue berawal dari sini.

Ketika gue selesai, gue ngeflush tanpa berdiri dan belum melakukan pembersihan terakhir. Gue sebetulnya paling benci wc umum di mana untuk cebok itu pake puteran yang bakal ngeluarin air dan bukan semprotan atau gayung. Minimal, kalo wc itu pake gayung, gue gak harus ketakutan kehabisan air, atau alat pengucur airnya gak nyala. (pembahasan selanjutnya akan menjijikan. Silahkan anda close jika tidak berkenan).

Setelah gue flush. Gue gak tau, kalo air di closet itu harus nunggu proses untuk dia refill. Jadi dengan begitu saja gue memutar alat pengucur air yang ada di samping closet. Dan. JENG.

Airnya gak nyala.

Sama sekali gak nyala.

Gue panik.

Di dalem kamar mandi itu, Cuma ada wastafel dan kloset/

HELL YES. KAMAR MANDI YANG SEGEDE KANDANG DINOSAURUS ITU CUMA PUNYA WASTAFEL DAN KLOSET.

SHIT.

Gimana caranya lo cebok ketika gak ada gayung, keran air, atau bahkan galon aqua untuk menggantikan air yang gak nyala itu. GIMANA????????

Opsi pertama: Gue nunggu sampe gue beruntung dan airnya nyala. Yang mungkin akan terjadi entah berapa lama lagi.

Itu adalah opsi yang masuk akal. Tapi gimana kalo ada orang yang nunggu gue diluar wc? Gimana? Gimana kalo dia ngetok wc, dan gue gak bisa keluar karena belom cebok? Gimanaaaaaaaaaa??????????

Opsi kedua: gue teriak dari dalem wc, minta tolong, bilang sama emasnya kalo di dalem wc ada alien yang Cuma bisa dibunuh pake air. Dan setelahnya gue akan lapor ke polisi kenapa di wc segede kandang dinosaurus itu CUMA ADA WASTAFEL DAN KLOSET TANPA EMBER, GAYUNG, DAN KERAN AIR! MODERNISASI MEMANG MENGERIKAN!

Setidaknya opsi itu tidak begitu memalukan dibanding, gue teriak, minta tolong sama emasnya dan bilang gue gak bisa cebok karena gak ada air. Ya kan? Bener gak?

Opsi ketiga: opsi yang sedikit nekat adalah, gue pura-pura gak tau kalo gue belom cebok, me-mindset diri gue bahwa manusia gak perlu cebok untuk tetap hidup. Pake celana, dan keluar dari dalam toilet tanpa rasa bersalah. Apapun. Yang. Terjadi.

Setelah pemikiran panjang, gue hampir memutuskan untuk mengambil opsi termudah dan termasuk akal. 

Opsi ketiga. Keluar dari kamar mandi tanpa dosa dan tanpa cebok.

Tapi....

That is so EUWWWWWHHHHHH!!!!!!!!

Gue gagal. Gue gagal memindset otak gue kalo manusia bisa tetap hidup tanpa cebok. Karena itu. 

Menjijikan.

Gue mulai mencari akal setelah lima belas menit berlalu. Gimana caranya gue bisa keluar dari toilet jahanam ini dengan selamat, tanpa harus mempermalukan diri gue. Gimana.

Gue liat tempat tissue roll. Kosong. Gak ada tissue, jadi gue gak bisa pake cara ala bule untuk membersihkan pantat gue hanya dengan tissue. Tapi ternyata, setelah gue nengok ke belakang, masih ada sedikit sisa tissue.

Gue kembali berpikir.

It would be better than nothing, right?

Dibanding gue gak cebok sama sekali?

Tapi serius. Dilahirkan di keluarga indonesia dimana cebok harus dengan air. Gue menggila hanya membayangkan pantat gue ada tissuenya.

Strateginya begini.

Gue masih duduk di atas kloset, dan gue gak tau apakah air wastafel nyala atau mati juga. Gue berharap tidak ada cctv di toilet ini. Karena gue akan terlihat konyol sekali. Operasi di mulai, gue ngambil tissue tadi, dan gue agak berdiri sedikit buat arahin tangan gue ke wastafel otomatis itu. Airnya keluar. AIRNYA 
KELUAR!

Airnya keluar.

Tapi jauh lebih sedikit daripada pipis keponakan gue yang baru disunat. HELL! APA YANG BISA GUE LAKUKAN DENGAN AIR SEGINI?!!!!

Lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali. Dan gue belajar bersyukur pada momen itu.

Oke. Lalu gue mulai cebok mengandalkan tissue yang udah jadi tissue basah itu. GUE TETAP MERASA ADA YANG SALAH!

Dan gue mulai berdoa.

Yes. Gue yang tidak religius ini mulai berdoa. “Jika Kau berkehendak. Nyalakanlah air di dalam toilet ini, Tuhan.”

Tok.. tok.

BENER KAN DUGAAN GUE. BAKAL ADA YANG NGETOK. Jangan-jangan udah ada selusin orang yang nungguin gue diluar. Otak gue berpikir keras.

Dan gue hampir memutuskan untuk memakai opsi ketiga tadi. Iya. Keluar tanpa dosa dan tanpa cebok.

Lalu sepertinya doa gue dijawab.

Akhirnya gue denger suara pompaan gitu. Dan gue coba di wastafel tadi. Airnya mengalir. Kali ini airnya ngalir seperti pipis keponakan gue sebelum di sunat. LANCAR!

Gue mulai nyalain pengucur air di kloset tadi. YES NYALA!!! YEEEEEEESSSSS!! GUE SELAMAT!

Dan kemudian gue cebok dengan tenang.

Ternyata.

Air di tempat umum kayk gini memang butuh proses refill setelah lo ngeflush. YES, TAPI GAK SAMPE 
DUA PULUH MENIT JUGA BRO!!!!!

Gue mengutuk konsep teknologi modern YANG TANPA GAYUNG, EMBER, DAN KERAN AIR.

Hikmah yang gue ambil dari kejadian hari ini adalah. Next time, gue akan bawa aqua ke wc manapun. MANAPUN.

Setelah gue keluar, tampaklah tante-tante gaul yang terlihat begitu khawatir seperti muka nahan mules dan guilty pleasure, dan bernafas lega ketika gue keluar. Semoga tante tadi. MENGALAMI KEJADIAN YANG SAMA KAYAK GUE. HAHAHAHAHAAHAHAHAHA

Oke, jadi untuk membersihkan gue dari kotoran dosa, gue cuci tangan di wastafel luar wc, dan beruntunglah ada sabun. Kemudian gue kembali ke tempat duduk gue, nulis kisah ini, dan berharap kalian juga akan mengalami hal yang sama kayak gue. AMIN.

Hikmah kedua adalah, gue belajar bersyukur, gue belajar bersabar, gue belajar bahwa ketika dalam suasana genting, otak lo akan berpikir keras untuk menjadi lebih kreatif. Dan mungkin di lain waktu, lo akan lebih siap. HAHAHAHAHAHAHA.

Salam roti!


2 komentar:

Jun Junaidi mengatakan...

Gokil bener2 cewek yg dah putus urat malunya. Salut gua. Keren.

Hasnah ibrahim mengatakan...

Aku suka blog kamu..๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ