Selasa, 23 Juni 2015

Writing Tips Based on Clara Ng's (and A Lil Piece of Mine)

“I despise work out, but always feel terrible everytime I’m not doing it.” – Gue

Setelah melewati masa euforia “seneng keterima GWP dan nerbitin novel”, teman-teman terdekat gue selalu nanya, “Ada projek terbaru apa, Mar?”, atau keluarga gue yang, “Lo ga nulis lagi? Duitnya kan lumayan.”. While, banyak orang bilang nulis nggak selalu tentang diterbitin atau enggak. And it’s true. Tapi nulis bisa dapet duit dan menggiurkan itu bener juga. HAHA.


Gue kembali tenggelam di kesibukan perkuliahan dan mencari minat hidup gue yang sebenarnya. Entah kenapa beberapa hari lalu, gue mulai menggebu untuk nulis lagi. (alasan gue update terus di sini). Dan gue mulai nemuin lagi kenapa gue seneng nulis, karena nulis itu bisa release stress dan bikin gue ngerasa berdaya (in many ways). Terlepas tulisan itu bagus atau jelek, layak terbit atau setara sampah. I love to write.

Sedikit picisan sih, tapi nulis juga salah satu alasan gue survive menghadapi banyak hal. Kuliah yang berat, lingkungan yang nyebelin, ketakutan gue keluar dari zona nyaman, dan sebagainya. Nulis itu (it’s a verb) jadi semacam objek di pikiran gue. Kayak, “Hari ini gue sial banget. Oh untung gue bisa nulis ntar malam.” Atau “Brengsek banget orang kayak gitu. It’s okay, gue bisa nulis entar malem.” Menaikan mood gue dan bikin gue punya jaminan bahwa gue punya tempat untuk lari.

Btw, sekian tentang gue. Gue sebetulnya pengen cerita ini sejak dua tahun lalu gue ikut kelas GWP yang dimentori oleh Clara Ng. Bukan penulis favorit gue, but she is my favourite person/figure sejak sekian tahun lalu. Tbh, gue nggak ngerti makna kelas dia ketika diaplikasikan ke dalam tulisan gue, sementara temen-temen yang lainnya seolah ngerti dan bisa improve gaya menulis mereka.

Sampe beberapa hari lalu, it starts to make sense. Jadi, dalam rangka berbagi. Gue akan share beberapa tips yang gue dapet dari kelas kemarin (dan gue bandingin ke tulisan-tulisan yang gue baca juga tulisan gue sendiri). Kalo sampe ada informasi yang ga sesuai dan kurang, pardon me, then.

Don’t Brag About Yourself

Yang jamak terjadi di penulis-penulis pemula macam gue adalah hasrat untuk pamer pake karya tulisan lo. Pengen diliat gimana cakepnya gaya nulis lo ataupun cerita lo. Which mean akan berakibat kepada dua hal: Satu, lo memasukan kata-kata yang nggak perlu di dalam satu paragraf (demi estetika gaya menulis yang menurut lo kece itu). Dua, lo akan mencari ide-ide yang extraordinary (menurut lo sendiri). Bagus, sih. Tapi... apalah ide tanpa eksekusi yang konsisten.

Distribusikan Detail dengan Baik

Jangan taruh detail penuh di satu paragraf secara bersamaan. Which ini sesuatu yang (berkali-kali) di edit sama Kak Asty dalam tulisan gue. Misalnya di dalam tulisan lo ada karakter cowok ganteng, kesalahan yang sering banget dilakuin adalah lo menjelaskan si cowok itu dalam satu paragraf sekaligus. Rambutnya hitam, hidungnya mancung, bibirnya tipis kaya Syaiful Jamil. Kalo lo adalah penulis yang suka pake deskripsi, “Wajahnya mirip dengan artis Adam Levine (atau ganti Adam Levine dengan artis manapun).” Maka hentikan sekarang juga. Lo kayak nulis cerita stensilan di website bokep tau ga. Yang suka nyama-nyamain cewek pas pra adegan pemerkosaan sama artis tahun 90an kaya Nafa Urbach atau Sarah Azhari. (Read one if you dont believe me).

Detail mengenai karakter, tempat, atau apapun akan lebih menarik ketika lo selipkan dalam adegan. Which is lebih banyak kata kerjanya daripada kata sifatnya. Misal

“Rambutnya berwarna hitam.”

“Rambut hitamnya sedikit terempas ketika aku mengibaskan map besar itu di hadapannya.”

Mana yang lebih menarik? Nomor dua. Nomor dua adalah jawaban yang relevan untuk postingan gue ini. Haha.

Do don’t Tell

Ini berhubungan dengan poin pertama tadi sebelumnya, biasanya lo akan pamer gaya menulis berbunga-bunga lo lewat curhatan dan pemikiran si karakter. Ngedeskripsiin setting aja bisa satu bab penuh. Dan contoh yang oke gue dapet dari novel-novel terjemahan, cerita yang bagus dan ga ngebosein ketika masuk ke adegan langsung. Apapun itu, mungkin si cewek sama si cowok ciuman, karakter utama berantem sama antagonis. Lo menjelaskan segalanya lewat adegan, lewat kejadian. Buatlah kejadian sebanyak mungkin.

Bayangin aja lo nonton film, lo bosen ga kalo yang ditampilin itu Cuma gambar pemandangan, terus ada suara ngedeskripsiin pemandangan atau kegalauan si tokoh utama. Tentu aja akan lebih menarik misalkan kegalauan si tokoh utama itu digambarin dengan gestur, atau adegan dia dengan tokoh lainnya. Got what I mean?

“Saat mereka menyelesaikan tugas mereka dan mengizinkan kami masuk, Amy menggandeng tanganku dan hampir harus setengah menarikku berserta kakiku yang gemetar ke arah ibu, yang sedang menunggu kami.” – Slated, halaman 97

Di atas adalah contoh yang menurut gue cukup mewakili maksud gue. Dalam paragraf itu diceritakan gimana si tokoh ngerasa ketakutan, dan digambarkan dengan karakter Amy yang sampe harus narik dia karena dia ketakutan. Dia menggambarkan ketakutannya dengan adegan. Coba paragraf di atas gue ganti dengan...

“Aku merasa ketakutan ketika petugas itu menyelesaikan tugas mereka dan mengizinkan kami masuk. Kakiku terasa lemas dan gemetar hingga aku tidak mampu berjalan. Degup jantungku juga jadi tidak seperti biasanya karena tatapan mereka yang lekat padaku.”

Kalau tokoh lo merasa ketakutan, jelaskan bahwa tokoh lo ketakutan. Tapi kemudian buktikan hal tersebut dengan kejadian, adegan, gestur. Do, don’t tell.

Climax, Anti-Climax, Climax, Anti-climax, Orgasm, Heaven Bliss

Sebetulnya ini poin yang gue (personally) kurang ngerti. While gue paham bahwa pembuka itu harus “menggebrak” untuk menarik minat pembaca. Gue kemudian menyimpulkan bahwa akan lebih baik kalau lo membuka adegan pembuka yang masuk kategori “klimaks” (nulis judulnya bikin guengerasa lagi bikin erotika deh, heran). Tapi lalu, Clara Ng menjelaskan bahwa cerita yang akan bikin pembaca terus penasaran adalah klimaks-klimaks palsu. Ketika pembaca ngerasa bahwa ini akhirnya, ternyata bukan akhirnya. Sementara sih gue orang yang realistis kalo baca buku. Kalo bukunya masih tebel berarti belom tamat. HAHAHAHA.

Ketegangan dalam cerita harus juga lo imbangin sama anti-climax. Ini akan kontradiktif banget sama konsep yang lo pahamin tentang urutan sebuah cerita pas jaman sekolah dulu. Klimaks itu ditaruh paling terakhir. Mari kita anggap si pembuat konsep cerita pas jaman sekolah dulu nggak pernah bikin novel sebelumnya.

Jadi kalau intensitas ketegangan novel lo itu dibikin grafik, maka bentuknya harus begini...



Simplicity is The Best

Pernah nggak sih lo ngebaca satu novel yang bahasanya menurut lo biasa-biasa aja, tapi bisa bikin lo tenggelam ke dalam ceritanya selama berjam-jam? Ini menurut gue pribadi, kalo makin simpel dan mudah dimengerti itu makin baik. karena tulisan gue itu boros dan bersayap banget (sering masukin kalimat-kalimat nggak perlu yang sebetulnya tanpa kalimat tersebut orang udah ngerti apa maksudnya). Misal, Pria tua itu ketakutan, napasnya tercekat dan keningnya berkeringat. Sebetulnya kalimat yang gue italic itu nggak perlu. Ketika kita ngejelasin si pria tua itu ketakutan, people know it. Alih-alih dijelasin dengan kalimat yang gue italic tadi, lebih baik kalo diganti dengan adegan atau gestur yang nunjukin si pria tua itu ketakutan.

Plus, ibarat ngedeketin cewek, (seperti kata dosen gue, you have to fuck their mind first), lo harus memberi mereka ruang untuk mengimajinasikan keadaan yang ada. Ngasih ruang untuk calon gebetan lo itu mikir dan mengimajinasikan elo (misalnya bikin kangen, tarik ulur, dsb). Itu juga menurut gue yang seharusnya terjadi dalam tulisan, ciptakan ruang untuk pembaca lo mikir dan berimajinasi sendiri. Nggak perlu dijelasin semuanya. That’s the art, right?

“The greatest possible mint of style is to make the words absolutely disappear into the thought.” –NATHANIEL HAWTHORNE

Act as if You’re Telling Your Wonderful Story on A Camping Night

Ini tips yang gue dapet dari baca beberapa quotes penulis. Cara yang baik untuk menulis adalah bayangkan lo seorang story-teller yang selalu bisa menarik minat penontonnya. Lo tentu akan ninggalin hal-hal yang (sekiranya) bosan untuk diceritakan dan langsung masuk ke bagian-bagian menariknya, kan? Karena lo punya penonton yang butuh untuk dihibur. In this case, tuangkan konsep tersebut ke dalam tulisan lo.

WRITE

Seluruh tips di atas hanya berlaku kalo lo seorang penulis. Means, lo nulis. HAHAHAHA... *ketawa garing*.

Semoga cukup membantu, meskipun gue ngerasa ada yang miss dan bisa gue share di sini. Menyusul aja kalo gue udah kepikiran. So what should I do now? Oh iya, tidur. Karena gue akhirnya menghabiskan liburan gue semester ini untuk internship di salah satu perusahaan konsultan Jakarta. Anyway...

Salam Roti!


3 komentar:

Sekar ; Echa ✿ mengatakan...

Halo Mbak Marisa!

Sebenernya aku belum selesai baca post yang satu ini. Tapi gak tau ya, aku merasa ini saatnya aku mengenalkan diri sebagai salah satu penyimak blogmu hehehehe, duh SKSD ya. Dulu awalnya aku googling tentang GWP dan nemu blognya finalis-finalis gitu, sejak itulah aku mulai ngefollow dan rajin menyambangi blognya Mbak Marisa.

I like the way you share your experience. Sekonyol apapun, seaneh apapun, selalu ada hikmah yang bisa diambil dari situ. Thank you for giving me inspiration though you didn't even realize :p

Sekarang kalo aku nyantumin quotes by Mbak Marisa dan ngasih link blognya mbak di postingku, boleh dong ya. Hahahaha. Maap mbak kalo rada risih pake aku-kamu.

Regards, Echa from Jogja~

Tsaki Daruchi mengatakan...

Mbak Marisa, suka deh sama tulisannya.

Marisa Roti mengatakan...

Hai echa dari jogja? Mau sekalian rekues lagu buat siapa? *berasa penyiar genfm* hehe.
Thanks a lot ya udh baca blog roti, this place is really personal for me. Semoga gue ga kebanyakan nyampahin elo... ;)

cowo ganteng: makasih dek. Mbaknya ditraktir holycow ya, asikkkk...