Kamis, 03 Oktober 2013

Pencitraan Itu Penting

Wawasan itu segalanya.

Minimal di kehidupan gue sekarang.

Ceritanya, semenjak gue kuliah, gue seperti disadarkan oleh dunia realita, bahwa ada tiga jenis hal yang sangat kuat dan akan selalu dilihat oleh semua orang. Tiga hal ini pernah di ucapin oleh seorang temen yang juga senior, yang juga pernah pesen roti gue, dia bilang, “Ada tiga hal yang bisa bikin kamu di pandang orang. Kekayaan, kedudukan, kepintaran. Ketika kamu punya salah satunya, orang akan segan sama kamu.”

Gue gak ngelupain kalimat itu begitu aja, gue memikirkannya. Seperti biasa, gue berpikir keras untuk kata-kata itu, gue bahkan bikin list khusus, akan masuk ke kategori manakah gue. Kaya, belom. Kedudukan, belom. Gue Cuma punya satu opsi yang tersisa. Gue harus pinter. Karena gue belom kaya, dan belom punya kedudukan.

Dulu, waktu gue masih alay dan suka baca novel teenlit apapun (yang dipinjemin enci gue). Maksud gue bacaan apapun yang bisa gue baca, gue gak menyadari seberapa pentingnya arti “membaca”, gue gak beranggapan membaca bisa bawa suatu hal yang berbeda buat hidup lo. Jadi anggapan gue, lo membaca sebagai bukti bahwa lo gak buta huruf. Yang mana sebenernya salah, terutama ketika gue punya hobi nulis.

Nah, setelah gue kuliah, gue ketemu temen-temen yang keliatan menonjol dan intimidatif di kelas, anak-anak yang kerjaannya suka nanya, kritis, dan punya wawasan. Kebanyakan dari mereka hobi baca. Entah si itu yang suka baca buku investasi (karena dia suka segala hal yang berbau saham), si itu yang suka baca berita, si itu yang suka baca koran, atau si itu yang suka baca semua jenis novel menang penghargaan.

Rasanya itu.... nyes. Kayak lo turun dari kopaja, salah kaki, jatoh, terus ngegelinding. Rasa nyes itu bikin gue sadar betapa kurangnya gue dalam hal membaca. Wawasan gue cetek, secetek cerita stensilan yang gue suka ketemu di website bokep favorit gue.

Dulu, waktu gue masih begitu naif dan menggemaskan *muntah aja lo sana*, gue pikir dengan jadi orang yang apa adanya lo akan bertahan dengan lebih baik. Setelah kuliah, gue berpikir menyembunyikan potensi yang lo punya akan membuat hidup lo terhindar dari masalah. Lantas kemudian, gue melihat sekeliling gue dan gue menyadari sesuatu. Semua orang berlomba-lomba menunjukan potensi yang dia punya. Dalam semua bidang.

Gue gak tau itu hal yang buruk atau baik, tapi buat gue itu bukan masalah. Karena gue gak melihat ada yang salah dengan hal itu. Lo pamer potensi lo, selama lo memamerkan sesuatu yang memang lo punya, dan bukan sesuatu yang lo “sok” punya, gue rasa itu gak masalah.

Salah satu contoh temen yang akhir-akhir ini sering bikin gue berpikir keras.. sebut nama aja deh, inisialnya Harry, Harry ini adalah salah satu temen sekelas yang menonjol di mata gue. Beberapa bilang dia songong, beberapa bilang dia sok pinter, beberapa bilang dia memang beneran pinter. Apapun kata orang-orang, dia sering mengungkapkan kalimat-kalimat yang sekali lagi.. bikin gue berpikir keras. Seperti tadi siang.

“Tuhan itu adil. Ketika lo melakukan yang terbaik dalam mengerjakan sesuatu, hasilnya pasti bagus. Gak mungkin biasa-biasa aja.” Katanya dengan gaya songong itu.

Jeger.

Dia punya wawasan dalam bidang yang dia suka, dan dia memang selalu menjiwai apa yang dia kerjakan.

Itu bikin gue merenung, sudah sejauh apa gue berusaha melakukan yang terbaik? Sebanyak apa usaha gue untuk melakukan yang terbaik? Dan, dalam berapa hal sih gue berhasil melakukan yang terbaik?

Ketika membaca dan menambah wawasan, bisa membantu gue untuk melakukan yang terbaik, sejauh apa gue bisa melakukannya?

Ketika aktif dan berusaha mengerti tugas di kuliah, bisa membantu gue untuk melakukan yang terbaik, seniat apa gue bisa melakukannya?

Itu pertanyaan gue buat diri sendiri sih. Belom bisa dijawab. HAHAHAHAHA.

Kesimpulan gue sih sebenernya, semua hal butuh usaha sama tekad. Butuh perjuangan untuk lo diliat sama orang. Butuh perjuangan juga untuk lo meraih ketiga hal di atas tadi.

Balik ke wawasan tadi. Wawasan itu bikin lo keliatan pinter, lo bisa berargumentasi dengan wawasan yang lo punya, lo bisa terlihat kritis, dan lo bisa memandang berbagai masalah dengan sudut yang beda-beda. Buat gue itu keren.

Oh iya, satu percakapan lagi sama si Harry. Gini.

“Har, gue gampang minder nih, kalo gue ngeliat orang yang lebih pinter atau punya wawasan yang lebih dari gue (dimana kayaknya wawasan gue emang cetek banget, soal bidang-bidang tertentu, bahkan bidang yang gue suka).”

“Kalo gua jadi lu, mar. Gua bakal belajar dari orang-orang itu. Bukan merasa dikalahkan, bukan merasa rendah diri. Tapi humble, rendah hati, dan lo mau buat belajar.”

Gue pikir permasalahan gue yang gampang insecure, akhir-akhir ini beneran jadi masalah banget. Dan keadaan dunia dimana semua orang berlomba-lomba untuk menunjukan apa yang mereka punya bikin gue makin ciut. (andai gue beneran bisa menciut), gue makin gampang ngerasa kalah. Dan gue ngerasa ini perubahan yang sangat drastis dari gue di masa dulu. Ini ngeri.

Jadi, gue bener-bener mengkutip kata-kata Harry tadi, bahwa gue harus belajar untuk rendah hati. Karena rasa insecure gue rasa ketika gue ngerasa mampu, tiba-tiba gue menemukan fakta bahwa sebenernya gue belom mampu, dan kemudian gue ngerasa insecure. Itu awalnya . ketikak mampuan gue untuk rendah hati, bikin gue ngerasa gak aman sama sekitar gue. Dunia mau bersahabat ketika lo juga mau bersahabat. Gue pikir ketika gue melihatnya dari sudut pandang positif, dunia akan bersahabat sama gue. Jadi ya...

Kesimpulan kali ini, Cuma gue harus semangat.

Gue dapet banyak kesempatan akhir-akhir ini, dan gue akan ngelakuin yang terbaik untuk kesempatan-kesempatan itu. Untuk gue bisa ngelist best effort yang pernah gue keluarkan dan untuk apa aja. Iya, jadi ini untuk nambah list hal-hal sukses yang pernah gue lakuin aja, bray.

Dan kalo keliatannya postingan ini gak nyambung sama judul. Sebetulnya itu pemikiran gue tentang bagaimana cara lo menciptakan pencitraan untuk diri lo sendiri. Melakukan yang terbaik adalah salah satunya, minimal itu yang gue belajar dari temen-temen kuliah gue.

Kayaknya sekian perenungan untuk hari ini. *tanpa penutup yang jelas. Bodo*


Salam roti!

2 komentar:

Tiffany Frederika mengatakan...

Temen lo si Harry bijak juga.

Btw, selamat, ya. Kita belom ketemuan buat ngerayain, nih..

fardi lustam mengatakan...

Keren mar postingannya yg ini.. hahaha