Sabtu, 12 Oktober 2013

Kisah Lain Tentang "Pencapaian"..

Buat gue kata “Pencapaian” itu selalu mengandung preferensi pribadi yang sangat privasi. Semua orang punya pendapat tersendiri mengenai definisi itu untuk mereka. Sekecil apapun hal itu, pencapaian merupakan sesuatu yang ada artinya dimana lo telah meraih sesuatu. Karena ketika lo menyebut itu pencapaian, hal tersebut bukanlah hal kecil buat diri lo.

Gue mengenal orang-orang di sekeliling gue yang satu persatu menemukan pencapaian-pencapaian hidup mereka. Apapun itu.


Yes, apapun itu. Mungkin sekedar menyelesaikan novelnya, fanfictionnya, lolosnya dia di lomba nyanyi, atau pencapaian kecil seperti IP cumlaude (itu gak kecil, bego!)? Buat gue itu pencapaian. Senajis dan senista apapun gue di kampus, (slengean, suka telat, gak fokus ujian, dan sebagainya), gue punya berbagai visi untuk pencapaian-pencapaian yang hendak gue tuju. Oke itu baru visi. Tapi gue punya. (kedengeran kongtay dan banyak ngomong, gue tau).

Suatu hari, gue nongkrong di sekertaris jurusan kampus, gara-gara mau asistensi salah satu tugas mata kuliah. Disitu gue ngeliat dosen yang bersangkutan lagi duduk, dan mulailah kita asistensi. Gak lama keluarlah para asisten dosen, dan dimulailah percakapan yang bikin mulut gue menganga lebar. Selebar badan gue.

Ada 4 tokoh di sini. Ketua jurusan gue singkat KJ, Dosen, Asdos 1, dan Asdos 2

“Cie, Pak, abis jemur dimana nih? Asik banget tanning gitu?” tanya si salah satu asdos kepada ketua jurusan.

“Iya nih, abis nongkrong di...” (menyebut satu nama negara yang sangat asing di telinga.)

“Lah, kamu sendiri gimana? Udah apply?” Tanya si dosen pada si asdos 1.

“Udah nih, pak. Nanti bulan depan mungkin. Saya kesana.” Jawab si asdos 1.

Tolong ikuti percakapan yang gue cantumkan di sini, karena intinya adalah ini.

“Kok dia gak diajak?” kata si dosen menunjuk asdos 2.

“Wah, kalo dia mah, besok udah mau liburan pak. Keliling eropa.” Jawab si asdos 2.

“Oh iya? Kamu kemana aja? 4 negara?”

“Iya, pak. Perancis, Italia, Inggris, terus...” (satu negara lagi dan gue lupa).

Dan dimulailah bercandaan tentang hal tersebut.

Asdos 1 yang gue bahas tadi adalah seorang cewek berumur 22 tahun, hobi travelling, dan dia cumlaude. Gue sangat menyarankan kalian untuk buka blog dia di sini www.meldistrict.weebly.com disana dia cerita tentang pengalaman-pengalaman travelling dia lewat foto. Iya, gak kayak gue yang comberan apa-apa maunya ngomong. Dan jangan bandingin blog kita ya, konsepnya sangat beda.

Gue suka blog dia, untuk orang yang kerjaannya Cuma doyan ngomong kayak gue, ketemu blog asdos gue dengan foto-foto (dia suka fotografi juga) tentang dunia luar, buat gue blog itu kerasa kharismatik. Post terakhir adalah tentang perjalanan dia ke Kamboja. Foto-fotonya seru.

Dia menemukan pencapaian-pencapaian dia di umur yang semuda itu. Bisa travelling ke kota-kota yang gak lazim, memang menunjukan kecintaan dia pada dunia travelling, dan buat gue itu keren. Karena dia merealisasikan hal-hal yang dia mau. Dia mencapai itu.

Kalo lo mengamati percakapan di atas, orang-orang yang ngobrol itu mereka yang udah pernah menyentuh dunia lain diluar Indonesia (bahkan di negara yang lo bakal lupa namanya apa). (yang entah duitnya dari mana), asdos 1 dan asdos 2 yang gue bahas adalah lulusan dari jurusan gue, dan umur kita gak terpaut jauh. Serius deh. Beda 3 tahun.

Orang-orang itu memiliki pencapaian.

Hal kedua yang gak gue sangka terjadi baru-baru ini. Kalo lo baca post2 lama gue, harusnya masih inget sama (bukan) temen gue yang namanya Monic www.wehatediary.wordpress.com Yang pernah gue promosiin blognya juga. Sedikit tentang dia. Seperti yang pernah gue bahas, dia gaul, tipikal-tipikal anak preman yang jarang masuk kelas di kampus, slengean, IPnya terpuruk, seterpuruk kertas absensi kehadiran karena dia gak pernah masuk.

Kalo lo ngeliat tipe-tipe anak kuliahan yang gaul, profesinya penongkrong sejati, ngeliatin langit, dan gak pernah ngerjain tugas (eh atau mungkin pernah)? Itu dia. ITU DIA BRO. ITU DIA.

Baru-baru ini dia mendapatkan pencapaiannya sendiri. Dia buka kafe. Dan dia seumuran gue, gue emang norak, tapi ketika anak seumuran gue mampu berwiraswasta, gue menganggap itu pencapaian. Itu terasa waktu gue menanyakan perihal usaha baru dia ini, antusias dia berasa sampai ke Jakarta. Gue suka waktu dia menyumbangkan passion kedalam suatu usaha, dan gue (meskipun gak pernah doa) berdoa yang terbaik.

Katanya waktu gue tanya kenapa kepikiran untuk buka usaha:

“Karena gue pengen cari duit. Untuk seseorang yang males kuliah kaya gue, kerja kantoran (buat sekarang, which means jadi pegawai orang) itu agak ga banget sih.”

Ga usah protes. Itu namanya perspektif. Perspektif dia beda aja dari kebanyakan orang.

*pesan buat monic*

Gue gak bisa muji banyak, karena ceritanya lo masih diuji pada tahap ini, Mon. *ceritanya ini pesan khusus buat Monic*, gue masih pengen liat pilihan apa yang lo ambil ketika batu sandungan nongkrong di tengah perjalanan lo dan usaha lo. Apa lo bakal nyerah, atau lo berhasil menjawab tantangan nyokap lo untuk mengembangkan modal awal itu dan merombak kafe lo jadi makin oke dalam setahun kedepan.

Gue berharap lo mengambil pilihan kedua.

*sekian pesan buat monic*

Buat gue pada masa ini, semua orang lagi berkejar-kejaran untuk mengejar pencapaian-pencapaian mereka, termasuk gue. Mungkin itu gunanya visi, Visual akan jadi apa lo nanti kedepannya. Seperti gawang dimana lo harus mengatur strategi untuk berhasil menendangkan bola. Itu gunanya goal dan tujuan.

Anyway, kayaknya sekian postingan gue tentang pencapaian. Setelah gue galauin mata kuliah MAP, dimana pada saat uts tadi gue telat setengah jem. SETENGAH JEM MAMEN! Dan itu artinya gue gak keburu ngerjain semua soal. Belum lagi tatapan (sok) concern para teman-teman terhormat yang gak telat, dan pertanyaan. “Gila kok bisa telat sih?”

Iya gue emang gila... Gila gara-gara jakarta macet, dan gue bangunnya ngepas. Ini, salah gue. Murni.

UAS, aku pasti ngejar kamu...................

Sekian untuk hari ini.

Sekali lagi selamat buat teman-teman dengan pencapaian itu.

Oh iya, kalo kalian penasaran, nama kafe baru Monic adalah Monel.

Gue sih nunggu franchise-annya aja di Jakarta. *nyengir*


Salam roti!

5 komentar:

monica amanda mengatakan...

duh..jangan sampe brenti tengah jalan lah ya. sayang aja, soalnya kalo gue pengen tambah gaul, tuh modal tadinya bisa gue buat beli honda jazz satu noh hahahahaha
anywayzz, belum pencapaian lah ya. masi proses (bagian serem, dimana biasanya gue gapernah tahan sama proses)
but thanks loh..nama gue numpang disini.

p.s I (hate) that name. kenapa sih harus dicantumin -________-

Rika Priwantina mengatakan...

Kafenya di mana? :)

Marisa Roti mengatakan...

Rika: esssh mantep.. kafenya di semarang rika, kamu suka ke semarang gak? tanya tuh sama si monic kafenya dimana persisnya kalo pake peta. hehehe

Anonim mengatakan...

Gue bahkan belum nentuin apa 'goal' dari hidup gue. Mungkin lagi on the way kali ya ;D

Marisa Roti mengatakan...

Ano: bisa jadi on the way, tapi dari pengalaman gue. lebih cepat lo tau, lebih baik. fase ngambang lo jadi gak usah lama2 hehehe..