Minggu, 17 Juli 2016

Language(s)

Waktu itu gue lagi di dalam transjakarta. Lupa mau kemana. Tepat di sebelah gue ada dua orang, satu orang indonesia, dan satu bule. Mereka kayanya mau ke museum-museum di Jakarta (tapi gue beneran nggak inget waktu itu gue mau kemana). Gue rasa peran si orang Indonesia ini semacam guide untuk si bule itu. Dan waktu gue nengok, ternyata ada sekitar 3 bule dengan 3 orang Indonesia dan mereka saling kenal.


Si cewek yang di sebelah gue tadi dan satu bule emang berdirinya paling deket sama gue. Lalu mereka ngobrol. Si Indonesia tadi ngomong inggris dengan terbata-bata berusaha ngejelasin tentang daerah tersebut, something’s like, “So this... umn, this... what. This place is where many, you know.. museums of Jakarta.”

Si bule mendengar dengan sabar lalu banyak nanya-nanya sama dia. Dan dia berusaha ngejelasin dengan kemampuannya tadi, at some point si cewek itu akhirnya ngomong, “I’m sorry, my english is not so good.”

“Oh, no, that’s okay.” Kata si bule.

That moment...

Gue mencibir dalam hati.

Iya gue mencibir, seolah-olah inggris gue jago. “Kalo itu gue, gue bisa lebih lancar dari dia.”

Can I?

No.

The answer is no.

Lalu gue teringat momen suatu hari gue, Andry, dan Antoni dateng ke kedubes Belanda karena lagi ada seminar tentang persatuan pemuda Belanda-Indonesia. Hmn, Youth of Netherland Indonesia, I think? Gue agak lupa singkatannya. The day had been interesting. Kita bertiga seneng ketemu hal baru kaya gini. Lalu gue baru dapet informasi tentang beasiswa yang disediakan oleh Belanda untuk mahasiswa Indonesia dan sebagainya.

Kebetulan salah satu bule yang presentasi adalah anggota konsultan arsitektur yang ngebantu proyek Muara Angke (dan di hire sama Jokowi). Menarik, karena itu dekat dengan bidang gue. Jadi gue ngomong sama Andry, “Dri, kayanya entar gue mau nanya-nanya sama dia, deh.”

Lalu seminar kelar, dan peserta dapet kesempatan untuk makan malem bareng dan nanya-nanya sama pembicara. Pembicara-pembicaranya beredar dan ngeladenin peserta yang mau nanya-nanya. Then I stopped there. “Gue ga bisa ngomong inggris.” (kata gue dalem hati).

Bukan, gue bukan ga bisa bahasa inggris. Gue belajar itu dari gue kecil, nilai gue bagus-bagus aja. Though, grammar gue berantakan. Tapi kalo sekolah pokoknya gue bisa deh. Lalu masuk masa awal kuliah, gue mulai suka baca fanfiction bahasa inggris, gue juga mulai nonton dengan subtitle bahasa inggris. Hingga gue memasuki satu masa dimana gue mulai menulis fiksi gue dalam bahasa inggris, nonton film tanpa subtitle sama sekali, dan mulai baca novel-novel dengan bahasa yang lebih berat.

But, still. I can’t speak in english.

I know I can, but I can’t.

Setiap mau buka mulut untuk pembicaraan kasual gue langsung, “Anjir kalo salah, aduh grammar gue kan ancur. Kalo dia ga ngerti gimana? Kalo dia jawab terus gue yang ga ngerti gimana?”

Andry dorong-dorong gue pas udah di belakang bulenya, “Udah sana, Mar, tanya.”

“Aduh, ga jadi deh.”

“Lah, kenapa?”

“Nggak, gajadi.”

This awkward moments happen everytime. Waktu itu gue lagi jalan sama temen gue, lalu ketemu temen gue yang lainnya yang lagi bareng sama orang Jepang. Si orang jepang itu fluent dalam bahasa inggris, btw. Lalu si temen gue memperkenalkan gue ke si orang Jepang ini. And I can’t even say... any word. At all.

Padahal kenalan sama orang asing dengan kewarganegaraan yang lain itu hal yang menarik, yang bisa ngasih gue pengetahuan banyak. And I was tongue-tied.

Lalu sekarang gue lagi tertarik untuk belajar bahasa asing selain Inggris. So i searched the most effective and efficient way to learn any language at all. Ketemulah gue sama video ini.

Jadi dua cowok ini travelling ke 4 negara dalam 1 tahun. Dengan waktu 3 bulan untuk setiap negara. They did a research about this, how to speak any language in a short time. Ini menarik, karena mereka Cuma menerapkan satu peraturan, “No English” (They’re american btw), dan mereka ngobrol dengan para native di sana. Hingga memasuki bulan ketiga, mereka bener-bener fluent di bahasa negara yang bersangkutan. Bener-bener lancar, I mean, mereka bisa terlibat dalam suatu percakapan tanpa harus buka kamus atau terbata-bata.

https://www.youtube.com/watch?v=G1RRbupCxi0 (what I'm talking about)

https://www.youtube.com/watch?v=xNmf-G81Irs (Ini video lainnya, Breaking the language barrier. It's a good one also)

Kenapa gue tiba-tiba tertarik soal ini?

Karena setiap negara itu adalah satu halaman buku. Means, if you stay, you only read a page of the whole book. (Ini quote dari siapa gue lupa, Susi Pudjiastuti apa ya?)

Doesn’t mean that I’d like to travel, not that kind of person anyway. Tapi gue rasa, belajar satu bahasa baru... satu lagi bahasa baru lainnya, dan seterusnya... will be a good idea.

Lagian gue suka dikatain ama banci salon, “Aduh ciii. Masa cina ga bisa mandarinnn? Sayang loh.” Emang kepoh jir tuh banci.

P.s. Gue keracunan Andry.

P.s.s. After second thought, fiks gue keracunan Andry.

Salam Roti!


3 komentar:

Desi Anwar mengatakan...

Hahahaha yang 'Cina masa nggak bisa Mandarin' tuh emang asem banget.
Btw Mar, mau rese dikit nih, ada koreksi, 'language' bukan 'languange'.
Ehehehe. :p

Fradita Wanda Sari mengatakan...

Ih sama banget, aku udah masuk tahap biasa nulis&baca english tapi kadang berasa snob. Tapi pas beneran dilepas di Bali dan maunya ngomong banyak malah gak ngomong samasekali. Sedih.

Marisa Roti mengatakan...

Desi: HAHAHAHA astaga gue sering melakukan kesalahan memalukan ini. Anyway, corrected! Tq, Des! Iya, kan. Asem kaaannn..

Dita: Ayok, deh. Kita ga usah jauh-jauh ke Bali. Ke jalan jaksa aja, banyak bulenya. Asal jangan dikira jablay sih.