Minggu, 27 Maret 2016

Review: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children - Ransom Riggs (2011)

I think I have to, must, write my opinion about this book here. Ada dua alasan, karena satu it left an uneasy feeling inside me after I’ve done. Dua, sebenernya karena alasan pertama aja, sih, tapi mungkin disebabkan karena open ending di halaman terakhir. Bukan titik, bukan akhir kisah. Semacam rasa gusar tapi bikin lo senyum lalu menutup cerita dengan rasa tidak ikhlas karena kisah karakternya harus berakhir. Anyway, gue menghabiskan buku ini dengan lantunan lagu dari playlist Billie Holiday, baru sadar that she’s an awesome singer. Baru sadar juga gue ada playlistnya bersandingan sama Frank Sinatra. (My favourite, Solitude and Just The Way You Look Tonight).


First, it’s not a thriller at all. Fantasy, maybe. Adventure, maybe. But not thrilling for me. Bercerita tentang Jacob Portman, seorang remaja berusia 16 tahun yang sering mendengarkan kisah-kisah petualangan aneh dan ajaib kakeknya Abraham Portman, melawan monster bertentakel dan super jahat, juga tempat menyenangkan dengan anak-anak aneh di dalamnya, “Peculiar Children”. Jacob kecil yang masih lugu dan belum paham logika percaya dan selalu ngebayangin that someday he would be like his grandfather, berada dalam dunia itu.

Sampe ketika Jacob mulai beranjak dewasa dan mempertanyakan cerita-cerita kakeknya yang nggak terasa realistis lagi. Konflik pertama dari buku ini dimulai ketika Jacob harus membuka rahasia-rahasia yang disimpan oleh kakeknya seumur hidupnya. Juga tentang monster bertentakel dan dunia para anak-anak aneh itu.

What I like about this book dan juga menurut gue memang salah satu hal yang spesial adalah foto-foto hitam putih yang menggambarkan kondisi masing-masing peculiar children dan keanehan mereka. At first, gue pikir foto ini memang sengaja dibuat untuk kebutuhan tulisan si Ransom Riggs sendiri. (Mengejutkan karena di halaman akhir ternyata memang itu hasil fotografi dari beberapa fotografer ternama. Dan foto-foto itu diambil secara impulsif. Atau gue nangkepnya sih gitu). Sebetulnya itu yang bikin gue ngerasa gusar sih. Because I relate with the characters too deeply.

Another plus for this book. Ransom Riggs menggambarkan masing-masing karakter dari anak-anak aneh itu secara mendetil, somehow gue relate dengan masing-masing karakter, dengan kondisi mereka pada saat itu. Bahkan gue mungkin lebih relate pada Echon atau Bronwyn dibanding Jacob. They’re adorable children who have lived longer than me. J

Gue suka jalan ceritanya, though I really hope di buku ini akan terjadi perang besar-besaran antara protagonis dan antagonis, ternyata gue ditinggal dengan open ending. (Ternyata memang ada buku selanjutnya). Hate this.

Though I can guess the twist Ransom Riggs’ trying to suprise the readers with, it still is a good twist. Yang dibuka pada pertengahan cerita tentang siapa karakter antagonis selama ini. Ransom menaruh clue yang cukup banyak di awal cerita. I can do nothing but be suspicious. Meskipun ada beberapa penulis yang bilang, “Don’t try to guess. Just read and enjoy the journey.”. Kalo di kehidupan nyata aja gue suka nebak-nebak...

Gue suka perkembangan karakter Jacob, meskipun menurut gue dia cukup (terlalu) dewasa untuk pemikiran anak berumur 16 tahun. How he critizised his own father? His life, and the circumstance around him? Gue waktu seumur dia kaga gitu-gitu ama tuanya. Tapi itu salah satu hal yang bikin gue ngerasa klik sama buku ini sih. Sudut pandang Jacob.

Too heroic also. Gue emang nggak suka hal-hal picisan (hal-hal heroik termasuk picisan dalam definisi gue. Bodo amat). That, in anyway, Jacob should be the hero. Karena dia protagonis utamanya, meskipun in the end, Ransom Riggs nggak pernah melupakan karakter-karakter lain dan nggak too Jacob-oriented (balik ke poin plus untuk Riggs).

But... there is one thing I really love about this book. The romance.

I LOVE EMMA BLOOM SO DEARLY I THINK I WANNA SEE HER IN REAL BEFORE I DIE.

Emma adalah karakter cewek powerful dan rapuh tipikal yang bisa lo temukan di banyak cerita. Her element is fire. She can produce fire with her hands (spoiler dikit), though bukan itu yang bikin gue suka sama dia. Well, itu yang bikin gue suka sama dia sih...

Anyway, kisah cinta yang terjadi antara Emma dan Jacob is a little bit complicated, because Emma is Abraham’s ex? Kalo gue jadi Jacob sih (dengan deskripsi bahwa) cewek secantik Emma, mau jadi rebound boy atau bukan, sikat kali ya.

Oh dan romance di buku ini nggak picisan, nggak najis, kaya novel-novel teenager yang lagi dibikin film dan nampang di bioskop sekarang-sekarang ini. Gue jijik banget liat yang kaya gituan. Adegan ciuman di buku ini juga Cuma dua, it’s a good thing, right? Karena Riggs lebih terfokus pada jalan cerita dan konflik utama, jadi gue ngerasa romance ini bukan masalah utamanya. Semoga di buku selanjutnya Riggs nggak jadi lebay dan melankolis. Please. I count on you.

The point is, gue kebayang-bayang terus. As if gue pengen tau kelanjutan kondisi mereka, will they survive, and the photographs really interest me.

So that’s all for the review.

Oh katanya sebentar lagi mau difilimin sama Tim Burton. Gue seneng waktu tau film ini akan difilmkan sama Tim Burton, dan gue suka sama film-film dia. Tapi... gue nggak tau apakah konsep dark, gloomy, dan desperate that’s so identic with his movies akan cocok untuk cerita ini. But I hope they know better than me. (I hope Johnny Depp would be in it too. As Franklin, or... Dr. Golan maybe? Please, Johnny Depp be in it).

P.s. I’m reading The Alchemist by Paulo Coehlo right now. Mungkin akan berlanjut ke Hollow City setelahnya (sekuel buku yang lagi gue review ini). Gue butuh istirahat dari segala kegusaran ini dulu.


Salam Roti!

2 komentar:

Ms Bunny mengatakan...

Menurut gue ya, marimar.. Sebenarnya alur ceritanya ini ud bagus. Cuma ntah kenapa di filmnya terasa canggung, awkward dan ga alami. Actingnya kurang alami, dan bagaimana anak cowok ini bereaksi jika apa yang dikatakan kakeknya ternyata benar, itu aneh banget. Tapi ini film yang uaaapiiikk banget! Gue suka Miss Peregrine :3

Marisa Roti mengatakan...

Eeh, udah baca bukunya belom? Coba deh baca bukunya sambil denger lagu jadul. Beuuh superb!!

Btw, di filmnya itu ada bbrp yg berubah. For example kekuatan emma seharusnya api. Havent watched the movie btw.