Jumat, 13 Agustus 2010

Doll And Crime

Semasa gua kecil, saat teman-teman gua memeluk boneka lucu mereka, mengajak boneka mereka minum teh bareng, digendong kemana-mana, di pakein baju, di errr di buat main rumah-rumahan, maka pada saat yang sama, gua sedang merencanakan, kisah horror apa yang gua buat dengan inspirasi boneka itu. kira-kira seberapa keras gua harus berusaha agar kepalanya segera terputus dari tubuhnya, atau… mungkinkah boneka itu hidup dan membunuh manusia pada malam hari?

Pada intinya. Marisa TIDAK suka boneka.

Tolong. Sekali lagi, TOLONG. Kesampingkan faktor bahwa gua takut dengan bentuk boneka yang serem, apalagi yang bentuk orang. Atau gua terkadang ngeri melihat matanya, yang kalau di amatin makin besar, makin besar, seolah hendak menelan gua bulat-bulat dengan matanya itu. dan ya, sekali lagi tolong kesampingkan, bahwa gua takut tidur dengan memeluk boneka yang penuh bulu, kalau-kalau dia hidup di saat gua tidur lalu menyumbat nafas gua hingga gua mati.

Jadi terkadang gua suka bingung ngeliat kamar cewek-cewek yang pinky abis, kasur bermotif strawberry, lalu di penuhi dengan boneka-boneka di sampingnya. Begini, bukan karena gua takut boneka itu akan membunuh gua, tapi gua melihat dimana sisi kegunaan serta material nya?? Dimana sisi untung dengan menyimpan boneka itu? selain nambah biaya perawatan untuk pewangi dan rinso, tentunya boneka itu Menuhin tempat. sampe bingung mau tidur di mana saking kebanyakan boneka. Oh pleaseeeee… bunuh saja bonekamu itu!

Karena pada masa kecil, gua sungguh takut menjadi berbeda, pada suatu hari cici gua berkomentar gini “idih, kamu kok cewek-cewek ga suka boneka?” dan gua bertekad sejak hari itu, gua akan suka dengan boneka. Dulu gua pernah dapet boneka babi, oke boneka babi LEBIH DARI SATU. Kenapa saat ulang tahun gue, semua orang HOBI ngasih boneka babi?? Kenapa ga boneka princess or something else yang lebih baik dari pada piggy things? *mungkin mereka niat nyindir muka gua yang kaya babi??* Dan setelah di amati, boneka babi ini lucu juga. Mungkin gua bisa suka.

Dan akhirnya, tetep aja, nasib boneka itu sungguh tragis sekarang. teronggok di antara kawah laba-laba dan debu. Di dalam kardus pengap, yang bahkan sudah ga gua ketahui di mana letaknya sekarang.

Faktor selanjutnya manusia menyukai boneka adalah karena ROMANTIS. Please.. please.. please… mari kita lihat bersama, dimana sisi romantisnya??? Dimana?? Selain boneka itu akan di bakar, di buang, dan tidak memiliki nilai lebih kalau, kalau suatu hari cinta dari romantisme itu kandas seiring berjalannya waktu dan perubahan. Coba kalau di kasih satu kado yang berguna, contoh satu unit apartemen di taman anggrek? Atau cincin berlian? Atau err, oke. Sebelum gua di anggap matre, pada intinya maksud gua boneka tidak memiliki nilai lebih. Kenapa ga coklat? At least, coklat bisa dimakan, dinikmati, dirasakan. Atau bunga, bunga hidup, tumbuh, dan lebih bagus.

Gua masih inget banget dulu, jaman-jamannya gua lagi naksir cowok temen sekelas gua. dia ngasih gua boneka, gua pikir rasa suka dan naksir itu akan merubah persepsi gua tentang boneka dan seputarnya. Gua pikir, karena gua naksir orang tersebut, maka gua akan mengabadikan boneka itu tidak hanya di hati gue *ceileeehh* tapi juga di kamar gua. kalau perlu gua jadiin guling buat dipeluk. *Jesus Christ!!!*

Lalu bagaimana sesudahnya? Gua ingat sekali, boneka pertama yang dia kasih ke gua. yang ukurannya hanya setelapak tangan itu sudah tercabik di gigit oleh almarhum alfa golden retriever gua. Boneka kedua, errr entah apakah ini bisa di sebut boneka atau enggak, karena bentuknya seperti bantalan bentuk love dengan inisial nama gua. sudah RESMI di gunakan sebagai lap tangan yang di gantung deket mesin cuci, dan sekarang telah hilang entah kemana. *maafkan aku, kawan*. Lalu boneka ketiga, alias boneka terakhir yang dia kasih di hari ulang tahun gua, jujur sih lucu, karena keponakan gua juga suka. Bentuk kucing, berbulu, ukurannya lumayan sedang lah.

NAH. Justru karena keponakan gua suka, padahal! Padahal gua sudah bertekad loh gua akan menyimpan boneka terakhir itu, errr sebetulnya sih, hanya karena faktor gua ingin mengenang, bahwa wow dulu gua pernah naksir dia loh. Ini loh, cowok yang ngasih boneka ini lohhh! Tapi toh tetap saja, ending si kucing ga berbeda jauh dari 2 boneka sebelumnya.

Keponakan gua begitu menginginkan boneka yang lucu itu, dan dengan kerelaan yang dipaksakan gua serahkan boneka kucing itu. kelanjutannya, yah. Tentu seperti biasa, boneka itu naas! Hilang! Musnah! Entah kemana!! Lalu gua ingat, suatu hari si pemberi pernah menanyakan kabar bonekanya, sambil ketawa ketiwi. Dengan senyum menawan, gua jawab “Masih ada lah boneka lu, gua simpen dooonkk.” PADAHAL, pada saat yang bersamaan boneka itu sedang terungsi di dunia antah berantah, yang bahkan gua sendiri ga tau ada dimana. Intinya, gua simpen ya. meskipun gua ga tau simpen di mana.

Dan setelah gua sudah melewati fase merasa bersalah karena telah dengan suksesnya menghilangkan ketiga boneka pemberian cowok mantan taksiran gue, gua kembali menemukan pembenarannya “Siapa suruh ngasih gua boneka. Wong gua keki sama boneka. Ga tanggung lagi ngasih tiga, yang 2 pertama aja udah ngilang entah kemana, masih aja ngasih boneka.”

Jadi intinya ada tiga. Satu, gua ga suka boneka. Dua, gua amat ga gitu suka boneka. Tiga, gua tidak memiliki rasa suka terhadap boneka.

Intinya begitu loh. Gua ga suka ya ga suka. Jadi intinya gua memang ga suka.

Boneka adalah hadiah yang sangat tidak sesuai untuk image gua. gua menyukai orang yang kreatif, tidak hanya kreatif di dalam lingkungan sosial, kreatif membuat terobosan baru, kreatif dalam membuat pilihan, dan tidak ketinggalan. Kreatif dalam memberi bingkisan atau hadiah.

Ambil kesimpulannya, NO BONEKA.

P.s gua mencium harumnya planning tak terduga dari somebody out there. Depannya I blakangnya H. inget ya IJAH, NO BONEKA. *ga usah bilang geer deh*

1 komentar:

Je mengatakan...

=.= nggg... gagal deh... dasar jelek...