Jumat, 09 Januari 2015

Review Film: Perfect Sense (2011)

Manusia. Emosi. Dan Indra.

Abaikan aja kalimat sok dramatis di atas. Tapi film ini tersangkut dengan tiga kata di atas. Dari awal hingga akhir film. Mengisahkan bagaimana dua orang bercinta di tengah epidemik yang mewabahi seluruh dunia.

Maksudnya, gue baru menyelesaikan film yang dibintangi oleh Eva Green dan Ewan McGregor ini. Jadi wajarin aja kalau gue merasa harus untuk membuka review ini dengan kalimat-kalimat macam itu.


Gue pikir romance ini akan picisan ala chicklit (judulnya Perfect Sense, but I should’ve known better, eh?), I mean. Tentu aja ga mungkin Eva Green membintangi sesuatu yang picisan. Though, ini bukan roman satir seperti yang gue harapkan akan dia bintangi. Tapi film ini benar-benar membekas untuk gue.

Sedikit mengenai film ini, berhubungan dengan tiga kalimat di atas. Dikisahkan terjadi sebuah epidemik dimana seluruh manusia di muka bumi mengalami sindrom emosional secara bertahap lalu mereka kehilangan salah satu indra mereka. Dimulai dengan rasa sedih, mereka kehilangan indra penciuman mereka. Disusul dengan jenis emosi lainnya dan kehilangan indra lain secara beruntun.

Tapi manusia selalu menemukan cara untuk melanjutkan hidup, dan itulah yang digambarkan di dalam film. Setiap sindrom itu menyerang seluruh dunia, manusia langsung menyesuaikan diri mereka dengan situasi yang baru. Dunia tanpa bau, dunia tanpa rasa. Nggak mau kebanyakan, entar jadi spoiler. Lah lo nonton aje sendiri.

Gue merasa mungkin “penyakit” di sini adalah metafora akan gejolak emosi manusia. Apa yang mungkin terjadi ketika manusia ngerasain emosi yang sama dan kuat pada saat bersamaan. On top of that, kehilangan salah satu indra mereka setelahnya. Apa yang manusia lakukan ketika mereka nggak bisa lagi merasakan atau mencium sesuatu.

Salah satu hal yang gue suka dari film ini, adalah pertemuan Susan (Eva Green) dengan Michael (Ewan McGregor). Michael adalah seorang chef yang bekerja di restauran dekat rumah Susan. Pertemuan mereka dimulai dengan sebatang rokok dan obrolan ringan Susan dari balik jendela dan Michael di depan restorannya. Nggak ada yang berlebihan.

That’s just how they found each other.

Sama-sama dua orang yang yakin akan mati sendirian, dan tidak akan menemukan belahan jiwa mereka karena masa lalu yang ngeselin. Kemudian saling menemukan.

Kesan dan perasaan yang gue dapat ketika gue nonton film ini bisa dideskripsikan dengan tiga kata. Rindu, dalam, dan hangat. Coba aja lo nonton, kalau lo nggak ngerasa hangat seperti yang gue rasain... yaudah, itu namanya selera. Hahaha.

Anyway, satu hal lagi yang gue suka, adalah premis yang unik. Mungkin ini akan jadi salah satu alternatif gue ketika membayangkan bagaimana caranya dunia berakhir. Adalah itu, ketika manusia satu per satu kehilangan indra mereka.

Eva green yang seksi...

Sebetulnya Eva Green adalah alasan mengapa gue nonton film ini. Mungkin kalo bukan Eva Green yang main gue nggak akan ngasih review positif seperti ini. Gue selalu suka dia ketika main film. Gesturnya, sudut-sudut pengambilan mukanya, gue menggilai artis satu ini memang. Tapi dia super seksi. Gue bener-bener nahan napas ketika adegan seks Susan dan Michael. Pasalnya kita sama-sama tahu, Eva Green cewek perancis, dimana adegan topless itu sama aja kayak lo nggak pake kaus kaki. Biasa aja.

Cuma ada satu hal yang bikin gue cukup mengernyit. Honestly, menurut gue eksekusi si sutradara dengan tema berat ini (buat gue sih berat), dan bagaimana dia menyempilkan kisah cinta dalam epidemik semacam ini bisa nyiptain kesan ironis dan tragis pada saat yang bersamaan. Hanya sajaaa... duh gue memang banyak maunya, tapi romannya nggak greget.

Pertama, Michael si playboy yang ditinggal mati tiba-tiba jatuh cinta dan clingy ke Susan. Just weird. Perasaan melankoli Susan sebagai cewek yang baru patah hati juga gue kurang suka. She seems desperate, but... errr... not really at the same time. Karakter Susan nggak konsisten. Kesan dingin yang ditampilkan Susan ketika berdialog dengan si Michael, agak lucu kalau disandingkan dengan melankoli yang dia tunjukkan ketika dia lagi sama kakaknya.

Kayak, si Susan ini punya kepribadian ganda.

Gue bahkan belum sempet ngebahas tentang... peran si Susan yang jadi nggak signifikan dalam urusan epidemik penyakit ini, padahal adegan awal dibuka dengan Susan yang mendiagnosis orang dengan gejala awal penyakit tersebut (meskipun itu bukan kerjaan dia). But then again, genree film ini kan bukan sci-fi atau thriller macam World War Z. Jadi mari kita berhenti di sana.

Sekian review gue tentang Perfect Sense. Telat banget ya, nih film keluar kapan, reviewnya kapan.

Anyway, gue belum research banyak tentang film yang disutradarai oleh David Mackenzie ini sebelumnya. Tapi waktu gue nonton, gue rasanya pengen teriak ini tipikal film Sundance banget (sok ngerti ente, Mar). Tapi sejauh ini, film-film Sundance yang gue tonton tipikalnya gini. “Gini” dimana gue belum bisa menemukan kata yang tepat untuk mendefinisikan tipikal2 film Sundance. Lalu ternyata dugaan gue benar.

Betewe, film ini juga memenangkan beberapa nominasi (setelah research) bisa lo cek di imdb http://www.imdb.com/title/tt1439572/awards?ref_=tt_awd

Udah, ah. Bosen.


Salam Roti!

Tidak ada komentar: