Oh kalo lo lupa, Jacko adalah hamster yang gue beli beberapa
bulan lalu di pasar Jatinegara. Gue pilih dia karena dia unik mirip sama tikus.
Btw, balik ke paragraf atas... Jacko itu... jelek. Karena dia mirip sama tikus
got yang suka muncul deket rumah gue.
Beberapa minggu lalu wi-fi di rumah gue rusak dan ngaco
banget, sementara banyak tugas kuliah dan video-video youtube yang harus gue
akses menggunakan internet. Alhasil gue ke dunkin hampir tiap malem, sampe gue
rasa si mbak-mbak dunkin udah hafal gue mahasiswa slengean yang bawa-bawa tas
segede gaban kemana-mana, pesen kopi, terus duduk dari terang sampe gelap.
Saking... ga mau ruginya.
*Satu lagi postingan kebanyakan mikir nggak ada aksi*
Ada beberapa hal yang menjadi concern gue akhir-akhir ini.
Satu aspek yang penting (tapi nggak sepenting “harus diprioritaskan”) biasanya
masalah-masalah kayak gitu yang menyangkut hati. Tapi balik lagi ke masalah
prioritas tadi. Kedua adalah hal-hal yang penting dan layak masuk prioritas,
tapi nggak benar-benar menjadi sesuatu yang menggelisahkan gue.
Kenapa judulnya seperti di atas? Kalau lo pernah membaca
betapa songongnya gue tentang “berdiri sendirian”, maka lo akan ngerti bahwa
gue benar-benar nggak mengerti “How to...” berteman sama orang lain. Terutama
karena teman gue semasa SMA tempat gue sharing dsb juga sama mandirinya kayak
gue.
Ceritanya, setelah ngidam beberapa lama pada akhirnya rumah
gue beneran punya anjing lagi. Fyi, dulu bokap gue itu peternak herder. Jadi
kebayanglah tanah gue yang terletak di pinggiran kota itu isinya beneran anjing
semua. Salah satu alasan gue ngeliat anjing kampung yang sok-sok galak malah
jadi keliatan culun.
Sebetulnya ada yang lebih mengerikan daripada kehilangan,
Ini juga salah satu hal yang suka gue takutin. Kadang ketika
lo benar-benar merasa kehilangan dan terbiasa sama rasa sakitnya, lo mulai
takut kalau rasa sakit itu hilang. Karena buat gue, ketika rasa sakit itu
hilang, gue mulai lupa sama alasan akan rasa sakit gue. Berarti gue mulai lupa
bahwa gue pernah kehilangan. Ketika gue lupa bahwa gue pernah kehilangan...
Gue juga lupa akan apa yang sudah hilang dari hidup gue.
Ketika hal itu penting, ketakutan gue akan melupakan hal
penting itu jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit kehilangan itu sendiri.
P.S. Untuk bebe yang udah gue pakai dua tahun dan menghilang
begitu aja. Sekarang bukannya jaman ngangenin lagi, tapi ketika siluetnya sudah
mulai memudar dari pikiran. *You might wanna say, “Yaelah masih aja?” the truth
is, yes. Still.*
Sembari mendengarkan playlist White Shoes and The Couples
Company secara online (yang mana gue suka suka suka suka banget), dan lagi
siap-siap bikin prolog untuk projek novel kedua gue (dimana tenggat waktunya
seharusnya malam ini), gue pengen menceritakan beberapa hal yang dari kemarin
nggumpal di otak gue.
Sebelumnya gue kasih tau dulu ya, isi blog ini sepenuhnya
berdasarkan pengalaman gue dan Imas. Yang mana kita emang sama-sama Virgo. Ga
akurat, ngasal, dan Cuma dilakukan based on “kata internet” sampai “pengalaman
patah hati pribadi”. Dan bukan, bukan pengalaman pribadi gue, tapi pengalaman
pribadi Imas. *diganyang Imas segera*
Dulu, karena gue mengemban profesi sebagai mak comblang yang
ga pernah berhasil nyomblangin orang, ada banyak temen-temen yang dateng curhat
ke gue. Atau mungkin si orang ini curhat bukan karena gue mak comblang kali ya.
Gara-gara gue aja yang mau dengerin curhatan dia. Intinya adalah, si cowok ini
pernah deket sama satu cewek, karena satu dan lain hal, mereka ga bisa jadian.
Dalam rangka (ikut) merayakan bulan puasa, gue jadi punya
ritual khusus yaitu ikutan sahur. Enggak, gue gak ikutan puasa, Cuma ikut sahur
aja. Semacam excuse kalo gue bisa makan subuh-subuh dengan tenang tanpa
diteriakin, “Badan udah segede kingkong. Masih makan aja, lu.” Karena toh,
semua orang makan pada jam segitu. HAHAHAHAHA
Ini sebetulnya postingan ucapan terima kasih, yang mau gue
sampaikan untuk seorang teman, sebetulnya pernah gue mention beberapa kali di
blog, tapi gak pernah sebut nama. Anyway, setelah sekian lama kita kenalan, dan
isu-isu yang telah terlalui. Gue mau kasih standing applause buat elo karena...
Itu adalah salah satu kalimat yang entah mengapa terus gue
ingat sampai hari ini. Mungkin kedengeran klise, sederhana, atau malah pasaran,
tapi setelah gue telaah lebih jauh, ada makna yang sangat baik dibaliknya
menurut gue, itu kenapa gue menobatkan kalimat ini sebagai kalimat pembangkit
motivasi terkeren di bulan ini.
Ada tema percakapan yang sedikit menarik hari ini di kampus
gue. Sesuatu yang menjadi pemacu inspirasi gue menulis tema yang (Mungkin) sama
sekali belum pernah gue bahas di blog ini, secara vulgar atau secara.. gue.
Setengah tiga pagi, dan gue posting ini. Gue masih
norak-noraknya pacaran sama si Super Wang jadi suka begadang. Bisa dimaklumin
kan? Namanya juga baru jadian, pasti masih suka-sukanya berduaan terus lah. Ha ha
ha ha.
Well, oke. Banyak hal yang terjadi di hidup gue sejak gue
terakhir memposting blog ini. Salah satunya adalah netbook rusak gue yang bikin
gue kehilangan arah. Gue jadi gak tau apa yang harus gue lakukan, bla bla bla. Sampe
hari ini, dia masih di rumah sakitkan, mohon doa teman-teman untuk leppie
tersayang.
Sabtu kemarin, masa
yang udah gue tunggu-tunggu akhirnya sampe juga. Oke, gue prom night. Kegiatana
umum buat perpisahan anak SMA, dan seperti udah jadi tradisi di sekolah gue. Menunggu
masa kelulusan yang menegangkan kita have fun di Ritz Carlton kemarin. Ada beberapa
hal menyenangkan selama prom kemarin, termasuk adegan nangis-nangisan.
Memiliki beberapa karyawan yang selalu kerja bareng gue setiap malem, membuat gue kadang belajar mempelajari orang lain dengan lebih baik. Ada beberapa scene yang terjadi menanggapi sikap-sikap aneh karyawan-karyawan gue yang ajaib, dan kadang gue gak tau apa penyebab keajaiban mereka itu.
Gue lagi dalam situasi kesal tingkat tinggi hari ini. pasalnya, bokap gue jadi mengeksekusi gue perihal univ negeri impian gue. Berkali-kali gue di bilang gak konsisten, lagi, dan lagi. Karena tadinya gue setuju planologi, terus gue bilang gak jadi dan mau ui hukum. Lalu bokap gue langsung menekan gue *yang mana dia gak mengakui bahwa ya. Dia memang menekan gue*.
Hari ini. Iya. Hari ini, hari ini lima jam yang lalu gua sedang mencapai titik gamang dalem hidup gue. Bukan sok filsafah ya bahasa gue. Tapi seriusan nih. Gua seperti berjalan di tengah rutinitas tapi kehilangan arah. Begini loh maksudnya, sepertinya lebih baik seorang senior gue yang cita-citanya terlihat membosankan-sekolah pintar-dapet beasiswa-kuliah-mempertahankan beasiswa-lulus-jadi wanita karir yang sukses- selesai. Dia punya tujuan dan urutan kehidupan yang sudah terencana dan di bumbuin optimis sama daya juang.
Lihat aja gue sekarang. Anak SMA yang begini-begini aja. Cakep kaga, pinter kaga, keren kaga, tajir juga kaga. Ya ampun. Apa yang bisa gue raih dengan kehidupan yang terasa biasa aja? Gua ga menemukan satu aja alasan yang cukup tepat untuk membenarkan apa yang selama ini ada di bayangan gue. Apalagi kalo bawa-bawa kemuliaan nama Tuhan dan sebagainya. Rasanya ga ada habisnya. Cita-cita gue jadi orang kaya itu kan ga ada hubungan sama sekali dengan rohani dan spiritual. Seperti yan g selama ini di omongin pendeta sama BOKAP GUE!!
Gua ga punya langkah, apalagi strategi untuk kedepannya. Gue punya keinginan. Iya banyak! Besar semua lagi kaya body gue! Permasalahannya adalah, kebimbangan gue ga mentok hanya di keinginan materi. Gua bimbang akan semua hal. Gua bahkan sekarang bimbang sama kecintaan gua sama gitar gue sendiri. Coba bayangkan,se lama ini gua ga pernah maju atau meraih sesuatu dari bermain music. Nah apa bedanya gua dengan orang lain? Karena gua bertindak sama dengan mereka. Maka gua mendapat sama seperti mereka. Ya. Gitu-gitu aja deh.
“Gue berani jamin, waktu gua ngeluarin uang ini gua ga akan sama kayak orang lain. Gua pasti berkembang.” Kata seorang drummer di kelas gue. Dia menghabiskan banyak uang yang dia cari sendiri buat les drum, dan di awali dengan keyakinan, uang yang dia keluarkan itu ga sia-sia. Nyatanya, dia udah punya band beraliran jazz sendiri sekarang. Skill drumnya pun boleh gue bilang keren banget.
Tambah lagi gua bimbang soal satu hal yang akhir-akhir ini jadi masalah sensitif banget di keluarga gue. Ga perlu gua sebut masalahnya apa.
“Kenapa kamu milih ini?”
“Enggak tau.”
“Kok bisa ga tau? Kamu yakin kok. Orang yakin itu punya seribu alasan untuk menyanggah.”
Karena gue remaja yang ga mau berfikir untuk kedepannya. Karena gua ga begitu kuat menanggung beban yang menunggu untuk menimpa bahu gue secara bersamaan sampe gua tenggelam ke dasar pasir. Masalahnya hanyalah gua yakin. Gua tau. Tapi gua bingung kenapa gua ga bisa menyampaikan alasan-alasan tersebut? Kenapa? Karena gua merasa bersalah atas apa yang ditanggung keluarga gue. Jadi intinya adalah ga ada hubungannya dengan yang di atas.
Oke, balik ke topik. Sebetulnya yang ingin gua cari selama ini adalah, alasan-alasan kenapa gua memilih ini dan itu. soalnya pertanyaan itu yang sering sekali mengganjal di otak gue. Gua pengen punya mobil mewah, pengen punya perusahaan. Lalu pertanyaan kenapa dateng. Dan gue bergeming. Bukan. Gua ga akan menjawab.. “karena gua pengen hidup enak.” Emang itu satu jawaban yang menjelaskan, tapi ga cukup memuaskan pertanyaan kenapa yang gua cari di dalem diri gua sendiri. Nah bingung kan?
Sepertinya yang perlu gua cari saat ini adalah alasan atas setiap keinginan gue. Alasan yang cukup kuat dan menjelaskan orang-orang TERSEBUT yang bertanya.