Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2016

The Alchemist, though

So... Di tengah balada yang dialami kebanyakan pengangguran (which is a state that I’m in right now) adalah memusingkan masa depan, apakah rencana sudah settle, apakah rencana yang sudah settle itu sudah yang terbaik, apakah yang dilakukan sekarang untuk rencana yang sudah settle dan entah itu adalah yang terbaik adalah hal yang tepat? Kata temen gue, “Sekali-kali ngobrol sama hati lo sendiri.”

Minggu, 17 Januari 2016

Review: Tribute to Adinia Wirasti

Caca selalu bilang sama gue bahwa ada dua kriteria penting untuk define apakah sebuah film itu bagus  atau enggak: 1. Script. 2. Jalan cerita. Gue bilang, gue ga percaya. Karena menurut gue apa yang membedakan film dan buku adalah visualisasi itu sendiri. Itu kenapa efek visual dan teknik cinematografi penting. “Iya, tapi sekeren apapun visualnya, kalo jalan ceritanya pada dasarnya emang jelek, film itu bakal jelek kan? Cinematografi itu Cuma masalah teknologi, Mar.”

Senin, 04 Mei 2015

Review: Whiplash (2014)

Just watched the most inspiring movie in my whole life. Mungkin karena dua alasan berikut. Satu, film ini tentang drum. Dua... satu alasan udah cukup sebetulnya. Gue bahkan nggak ngerti bagaimana mungkin rating film ini bisa Cuma 8.4 di IMDB. If it were me, gue akan kasih 10.00 untuk film ini. This movie is amazing!

Jumat, 09 Januari 2015

Review Film: Perfect Sense (2011)

Manusia. Emosi. Dan Indra.

Abaikan aja kalimat sok dramatis di atas. Tapi film ini tersangkut dengan tiga kata di atas. Dari awal hingga akhir film. Mengisahkan bagaimana dua orang bercinta di tengah epidemik yang mewabahi seluruh dunia.

Maksudnya, gue baru menyelesaikan film yang dibintangi oleh Eva Green dan Ewan McGregor ini. Jadi wajarin aja kalau gue merasa harus untuk membuka review ini dengan kalimat-kalimat macam itu.