Tampilkan postingan dengan label senior. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senior. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

Happy 27 May Celebration, Tedjo!

So, this is for you, Djo. You know who you are.

Anyway, HAPPY 22nd BIRTHDAY YOU SWEET LITTLE PUMPKIN ROTTEN PIE!

Btw, she is my most favourite senior in campus recently, tipikal-tipikal senior yang bikin gue pengen sksd dan jadiin temen banget sebetulnya. Semacam, manis, berambut panjang, Ipnya tinggi, tingkah rada jutek, dan sebagainya.

Minggu, 24 Mei 2015

Temen Setan

“Mengatasi kangen berlebihan tuh gimana? Kayanya gue beneran sayang deh. Ugh, despise this kind of situation.”
“Yaa, tahan aja sampe lo di titik terbawah rasa kangennya.”
*emo sedih*
“Udeh sihhh, lo pernah juga terpuruk sama orang lain. Pasti lo bisa ngatasin semuanya.”
*emo sedih lagi*
Dibales emo ketawa
“Jangan baper, dia Cuma iseng.”
“Iseng?” *emo sedih lagi*
“Iyalah, emangnya lo siapa dia?”
“Gue berani taruhan, ya. Boong deh kalo dia ga ada perasaan buat gue.”
“Silahkeeuunn, kalo ada juga paling Cuma buat selingan.”
“Jahat...”
“Makanya jangan mau diboongin.”
“Iya, dia lebih jahat sih.”
“Nah itu lu tauu.”

This is a late night conversation with my most kampret yet favourite friend via line. Cuma satu yang bisa gue bilang, emang dasar temen setan... Tapi sesetan-setannya itu bocah, omongannya jarang salah. Setan.

Jumat, 15 Mei 2015

Sistmance... Ummn... Ada, ya?

Ceritanya, ada satu hal lucu terjadi pasca postingan gue yang kemarin. Btw, sebelum masuk ke dalam topik utama, fyi gue lagi di kampus dan ini jam setengah delapan pagi. SETENGAH DELAPAN PAGI SHIT. Seumur-umur gue kuliah semester 6 ini pertama kalinya gue dateng ke kampus sepagi ini.

Kamis, 21 Agustus 2014

Gerakan Move On Ala Virgo

Sebelumnya gue kasih tau dulu ya, isi blog ini sepenuhnya berdasarkan pengalaman gue dan Imas. Yang mana kita emang sama-sama Virgo. Ga akurat, ngasal, dan Cuma dilakukan based on “kata internet” sampai “pengalaman patah hati pribadi”. Dan bukan, bukan pengalaman pribadi gue, tapi pengalaman pribadi Imas. *diganyang Imas segera*

Senin, 06 Agustus 2012

Anak Kuliahan To Be


Ehm. Gue… udah bikin ktp loh. Dan gue seneng banget. yang mana artinya, kemungkinan gue untuk di bully sama temen-temen gue, *dan sebetulnya gue suka nge-bully satu temen gue yang gak punya ktp* itu semakin berkurang.

Gue gak tau hal apa yang gue dapet seiring pengesahan ketujuh belasan gue. Apakah itu artinya gue harus jadi dewasa, lebih diam, lebih banyak berpikir, atau lebih bijak dalam mengambil keputusan. Terlepas dari seluruh hal itu, kadang gue masih suka.. errrr. Kesel kali ya…

Jumat, 03 Agustus 2012

Book Review: Limelight (by: Aisyah Ning Asih)


Penulis: Aisyah Ning Asih

Judul: Limelight

Panjang naskah: 44.883 kata, 106 hal

Status: Belom/dan akan diterbitkan.

Genree: Teenlit

Kopdar Baju Hello Kity..


Oke, juju raja. Postingan ini udah menjamur di dalem folder gue. Dan gue masih belom ketemu passion tepat buat menyampaikannya. Gini, jadi sekitar tiga abad yang lalu, gue kopdar sama seorang temen penulis. Dan gue sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama gigi kelincinya. *uhuk*.

Gue ketemu dia, dari kumpulan penulis ff, tadinya gue pikir, orang yang bawel di dunia maya, bakal bisa pendiem kayak patung dinosaurus berjamur di dunia nyata. Ternyata enggak. Dia jauh lebih… errr..

Senin, 05 September 2011

Ups.. Salah Orang..

Gue punya satu penyakit akut yang sulit di sembuhkan. Namanya penyakit “salah panggil”. Yang paling miris, setiap kali gue melakukan kesalahan ini, teman-teman gue seringnya melengos, pura-pura gak kenal, dan meninggalkan gue yang kebingungan di tengah jalan. Rada ngeselin, tapi toh urat malu gue memang tipis-tipis gampang putus. Bahahahahahaha…


Rabu, 06 April 2011

Masih Jaman Aja Jadi Kafir..


Merasa gak sih hari-hari ini Jakarta nambah panas dan panas aja?? Gue pikir ini hanya perasaan gue semata, sampe si Jenny ngomong.. ‘Ini gara-gara gue yang sakit darah dingin, apa emang cuacanya seharian panas banget ya??’ errr, kelihatannya sihh. Jakarta sedang terpanggang sekarang. Begitu juga si cete yang memang kebetulan dua hari yang lalu sedang sakit.. “Kayaknya sakit gue parah banget nih, badan gue sampe kepanasan keringetan gini.” Errrr kayaknya emang panas buanget deh.



Jangankan mereka yang badannya mungil-mungil, gue yang gede begini aja serasa oksigennya terserap habis, pengap! Keringetan, dan tak berdaya. Enci gue pun juga bilang kemarin, cuaca akhir-akhir ini semakin parah. Itulah, fenomena ini yang memancing gue untuk membahas mengenai bumi dan kiamat. Seperti satu quotes yang pernah gue bagikan sewaktu presentasi, “The only thing, human have in common, is earth.” Well, gimana jadinya kalo bumi kita terbombardir oleh hujan meteor ataupun sinar ultraviolet?

Gak kebayang. Tapi gue gak pengen lagi membahas soal proses ilmiah tentang terjadinya kiamat bla  bla  bla.. terlalu membosankan, gue punya hal yang lebih menarik lagi *setidaknya buat gue*. Kisah ini mungkin udah ada beberapa di antara kalian yang denger, tapi cici dari teman gue tercinta si juvendi itu mengalami satu mimpi yang aneh. Mimpi yang di ceritakan ulang oleh si juvendi meskipun pake “emmh, emmh, gue lupa nih ya. Tapi gue cerita garis besarnya aja ya..” dan itu diucapkan kurang lebih 5 kali oleh dia. Errr, berhubung gue belom mendapat cerita lengkapnya, menyusul ya.

Anyway, gue inget banget gimana dulu, gue bukan tipikal orang yang percaya Tuhan. Ngomong-ngomong, gue bahkan sempet membuat pernyataan semacam ini “Tuhan itu mungkin Cuma karang-karangan yang di buat manusia supaya kita merasa punya pegangan dan keyakinan aja. Cuma sugesti, Tuhan itu gak ada. Cuma permainan yang dibuat pikiran manusia..” dan jangan Tanya seberapa sering gue bertanya “Dinosaurus apa Adam duluan sih yang muncul? Gak jelas banget.” Atau “Jadi Tuhan tuh tiga apa satu???” pokoknya pertanyaan2 skeptis dan sok logis itu ibarat udah jadi menu sehari-hari di pikiran gue deh.

Gue hobi banget, hobi debat sama orang Kristen dan memojokan Tuhan maupun si Kristen itu sendiri, dengan segala pandangan-pandangan gue yang sinis. Dan setiap kali tante gue nyuruh ke gereja, gue bakal memberi pertanyaan2 sok logis itu sampe dia mati kutu dan akhirnya pertanyaan terakhir gue.. “Buat apa ke gereja?” well, gua SEKIA banget. Sekia=childish

Hingga, gue dateng dan mengikuti komunitas orang-orang katolik. Gue suka di sini, mereka semua terbuka dan ramah. Pokoknya gue merasa seperti di rumah gue sendiri lah. Padahal sebelumnya gue selalu alergi di gereja, ibarat kayak ada kutu yang di tempel di bawah kulit gue. Dari sini gue baru belajar banyak tentang memuji Tuhan, karena kebetulan gue tiba-tiba jadi aktivis pemusik di sana. Gue punya banyak pertanyaan untuk si koko gereja, karena kebetulan dia juga ngalamin masa-masa gamang kayak gue.

“Tuhan itu dari mana sih? Tiga apa satu?” dan tiba-tiba dia cerita sama gue tentang kisah seorang anak bernama Santo. *err kyaknya udah gue ceritain di blog lalu. Yaudah deh cerita lagi*

Si anak bernama Santo ini tipikal bocah pintar yang penuh rasa ingin tahu, dan suatu hari dia mempertanyakan mengenai keberadaan Tuhan. Dia beli semua buku yang dia liat berhubungan sama hal itu, dan dia cari. Tapi bertahun-tahun dia nyari, dia gak pernah ketemu jawabannya. Hingga satu hari, dia jalan-jalan di pantai. Dia liat seorang bocah kecil yang gali pasir hingga membentuk satu lubang, lalu dia ambil ember dan dia ngisi lubang itu pake air laut. Terus-terus, hingga si Santo penasaran lalu nanya.

“Kamu ngapain mindahin air laut ke dalam sini?” dan ternyata si anak itu pengen mindahin air laut ke dalam lubang kecil itu. kemudian Santo baru berpikir, gimana mungkin, semesta yang sebesar ini di jejalkan ke otak dia yan gkecil? Seperti gue, yang mungkin nyerna teori fisika pun gue harus jambak rambut sampe botak?? Gimana mungkin gue mau mempelajari seluruh isi dunia?? Dan senior gue memang pernah bilang … “Tuhan jauh lebih jenius dari pada lo..” perlahan-lahan gue sih baru mulai mengendurkan hati dan membuka pikiran. Jadi gue gak mau ngebahas banyak soal Tuhan blab la bla, gue bukan orang yang sereligius itu. intinya satu, gue percaya. Dan semua langkah kehidupan gue itu sudah ada jalannya. Yang pasti itu yang terbaik.

Yang membuat gue geli, gue menemukan duplikat gue yang dulu baru-baru ini. Orang yang skeptic dan sinis. Man. Gue tau gimana rasanya jadi orang yang begitu, dan debat bukan satu solusi. Tapi gue juga gak memegang teguh “Persepsi kita beda, buat apa di perdebatin? Mungkin buat dia itu bener, dan gue harus bisa maklumin.” Karena tetep menurut persepsi gue pendapat-pendapat dia dan gue yang dulu itu kurang tepat, dan bukan satu hal yang bisa maklumin. Cuma seperti gue juga, selalu ada hal yang bisa merubah persepsi dan pemikiran orang lain, gue pikir pemaksaan dan tindak anarkis bukan satu cara yang baik untuk di praktekan. Makanya gue suka mendadak sebel kalo bokap gue dipaksa masuk ke agama oknum yang suka memaksa itu.

Mungkin si senior, temannya, dan teman gue yang lain itu orang-orang yang dikirim Tuhan untuk merubah gue. Well. Mungkin banget.

Ngomongin soal kiamat *berhubung paragraph pertama gue soal itu* gue percaya kiamat itu ada, dan seperti gue pernah ngomong dulu banget. silahkan anda datang. Bukannya memang itu pasti ada? Manusia hidup ada matinya. Mobil baru ada rusaknya. Kenapa bumi enggak??

Pasti gue kesurupan karena gue nulis ini jam sebelas malam, dan mat ague udah redup2 lima watt gimana gitu..

Senin, 10 Januari 2011

Sirikmu Itu Bisa Beranak Loh..


Sebagai anak SMA yang mau sok aktif dan mengikuti kegiatan ke organisasian, tentu aja gua punya pendapat sendiri buat beberapa kalangan murid. Sepertinya sih dulu gua termasuk orang yang ga tau dan ga perduli soal kegiatan organisasi di sekolah sih. Mungkin, bisa juga karena faktor osis yang belum jalan waktu SMP dengan ketua si cowok begajulan yang entah orientasi hidupnya apa.

Gua mengenal dan deket dengan beberapa orang yang begitu membenci OSIS, entah atas dasar apa. tapi yang sepengelihatan gue, untuk memecahkan persepsi mengerikan dari orang-orang pembenci osis. Osis itu bukan sekedar adu eksis atau mau sok kepoh dan pengen di liat satu sekolah dengan bergaya aktif sana-sini. Se yang di omong oleh senior gue sebagai mantan wakil ketua osis, osis itu melayani.

Dulu gua kagum dengan seseorang yang memiliki sisi musikalitas yang tinggi, berbakat, lumayan ganteng, dan pintar. Bisa di bilang dia itu pedoman gue belajar music. Seperti satu tokoh yang gua idolakan. Meskipun dia ga hebat banget, tapi buat gua karakter dia yang kuat itu cukup bikin orang kagum. Tapi ada satu kekurangan dia yang suka bikin gue gendek. Cara dia meremehkan anggota musik PPK dan aktivis-aktivis lainnya di sekolah. Oke, gua ga bilang dia ga berbobot. Errr, apa kata yang tepat. Dia hanya PERNAH sirik karena ga mendapat kesempatan, dan rasanya sirik itu berubah menjadi satu yang lebih besar entah apa namanya.

Si Juvendi cerita ke gue, karena dia sebangku sama si cowok itu setiap ppk, Juvendi cerita setiap kali ada kesalahan di drum atau gitar, dia bakal langsung ketawa mengejek. Jujur aja sih, dulu gua juga begitu. Tapi setelah gua pikir-pikir lagi, masih bagus ada mereka yang mau melayani anak-anak gajelas seperti kita. Yang mau rela menghabiskan sore di mana orang lain santai mereka harus latihan buat kita. Jujur aja, yang seperti itu sirik. Sirik yang menyebalkan. Dan dulu gua begitu karena gua merasa ga dikasih kesempatan untuk bermain musik di ppk. Man, tapi itu waktu gua smp. Waktu sifat gue lagi konyol-konyolnya.

Sepertinya orang-orang yang begitu *termasuk gue dulu* merasa kita memiliki kualifikasi dan kemampuan untuk bisa ikut bergabung, tapi lalu kita terlalu sombong untuk merendahkan hati dan meminta atau memberi tanda bahwa kita pengen bergabung. Lantas kita merasa komunitas itu ga ngasih kesempetan yang pada akhirnya menimbulkan sudut pandang super sinis dan menjadikan mereka kambing hitam atas ketidak mampuan kita itu.

Mungkin seperti satu keinginan untuk di dengarkan karena kita merasa terlalu hebat. Itu sesuatu yang menyebalkan menurut gue.

“17 Agustusan buat apa pake panita? Ga ada guna. Elo orang tuh Cuma buat eksis doank.”

Iyuuuhhh! Gua kesal sekali mendengar pernyataan ini dari dia. Gua pengen ngejawab dengan gaya seperti yang fan-fan ajarin dengan bahasa simpel namun ngena seperti ini “Kalo ga ada panitia, acara ga bakal bisa jalan.” Tapi namanya juga gue, ngomong kalo ga panjang lebar bukan marisa namanya. Sampe akhirnya inti dari nasehat yang gua berikan itu ga tersampaikan, karena gua sengaja memasukan ilustrasi, demonstrasi, dan acara tele tele lainnya tapi lalu kepotong oleh temen gua yang lain.

Dia sepertinya mendoktrinasi itu juga ke ceweknya, buktinya ceweknya dia yang dulu aktif dalam berbagai kegiatan sekolah kini tenggelam. Entahlah. Gua sendiri ga ngerti. Terlepas dari semua hal baik yang orang itu punya. Ada lagi satu teman gua yang gua kenal sebagai komikus, dan designer. Gambar-gambar dia itu WAH. Dia punya bakat dan komitmen untuk itu. Gua pikir dia juga ikut ngurus madding di OSIS, nah ini pandangan gua yang lain. Banyak banget murid-murid di angkatan gua yang punya kemampuan tapi dia memang ga punya kesempatan.

Mungkin, dari ketua osis kita yang kurang mengamati orang-orang kayak mereka. Ga semua orang tahu dia punya bakat. Karena gua pikir semua orang bukan paranormal sehingga harus mengamati bakat dan kualifikasi yang dia punya. Well, gua masih bingung siapa yang salah. Tapi gua pikir, pandangan yang picik dan pemikiran sinis itu bukan satu hal positif untuk manusia.

“Elo kenapa gak gabung madding?” Tanya gua sama dia. Karena yang gua liat dari bagian madding itu. Menyedihkan. Yang bisa memenuhi tanggung jawab gua rasa Cuma si Lili. Yang lain. Cuma Menuhin jabatan. Maaf tersinggung, tapi ini sedikit kritik aja dari gue.

“Osisnya ga ngasih kesempetan.” Lalu dia curhat bahwa kegiatan ini seperti adegan nepotisme pejabat yagn di masukin Cuma orang-orang yang deket sama si ketua. Itu kan yang dia liat, waktu gua curhat sama juvendi, dia ngasih pandangan lain seperti paragraph yang gua ketik di atas tadi. Ketua osis kan bukan paranormal yang bisa ngeliat bakat orang lain. Sebetulnya kita kan di kasih kesempetan buat mendaftarkan diri kalo memang merasa mampu. Kenapa harus nunggu di jemput?

 gua kagum sih sama itu cowok. Gaya dia, semuanya. Cuma satu hal aja yang ga mau gua ikutin dari dia, cara pikir picik dia karena rasa siriknya itu. Itu kayaknya menyedihkan banget. Selalu ada kesempetan buat orang-orang yang membuka diri dan mau berhenti berpikir negatif, tapi ngeliat suatu hal dari sisi bersahabat dan menyenangkan.

Kata-kata yang bagus untuk menampar kesombongan gue saat ini.

Jumat, 10 Desember 2010

Penulis dan Model


Penulis: kumpulan orang eksentrik dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak biasa, terlalu cuek untuk memperhatikan sekeliling selain dunia khayal yang di ciptainnya, memiliki pemikiran dan pandangan yang rada “lain”, tingkat intelejensitas yang lumayan. Bisa jadi di atas rata-rata, karena bagi gue, untuk menjadi penulis yang hebat harus punya otak yang cerdas.

Model: orang-orang dengan penampilan fisik yang oke, sangat oke, pede, siap tampil di depan, familiar dan ramah dengan kehidupan malam dan liarnya. Cenderung menjadikan kecerdasan otak dan keindahan bagian dalam sebagai daftar terakhir atau kalau perlu ga disentuh.

Sekian deskripsi yang gua buat sendiri tentang dua profesi yang berbeda itu. Gua memang terlalu picik untuk mengatakan kebanyakan model ga memiliki kecerdasan sama seperti penulis. Bukan secara tingkatan, tapi kecerdasannya berbeda. Ada dalam dunia yang berbeda. Cara pandang dan pemikiran yang berbeda.

Jadi sama sekali belum pernah terbayang di pikiran gua dua profesi itu berdekatan atau jadi satu. Atau bahkan seseoragn yang memiliki dua profesi itu sekaligus? Terlalu dahsyat. TAPI ADA!!

Vasca Vannisa, seorang penulis yang *katanya* masih seumur jagung menyajikan novel pertamanya dan cukup membuat gua tercengang. Don’t Tell Me Anything. Novel yang bikin kepala gua muter-muter sambil nganga, tapi jelas bukan karena ceritanya yang ribet dan terlalu muter otak sampe bikin pala gua pusing. Enggak, justru dia bisa menyajikan cerita thriller ini dengan begitu ringan, tapi bisa dapet feelnya gitu loh. Tapi emang otak gua aja yang ga nyampe nyerna ceritanya dengan baik.

Satu hal lagi yang membuat gua berdecak kagum. Dia menggabungkan cerita roman, psikopat, dan bisa menyajikan ketegangan dengan begitu baik. Dan gua akui, dia bisa mendeskripsikan ini dengan sadis. Dan kesadisan itu modal novel thriller. Ga semua bagiannya selalu menjijikan dan penuh darah, justru ceritanya ini menarik. Bukan dengan sadisnya, tapi alurnya yang bikin kita menerka-nerka.. apa ya selanjutnya?

Oh ya, review novelnya nanti aja. Gua belom selesai baca, tapi udah nepsong nulis tentang penulisnya. Karena satu keunikan buat gue kalo seorang model bisa multitalented seperti Vasca ini. Bayangkan, paling mentok gua pikir, dia nulis cerita roman yang cetek cetek ga jelas, you know lah. Tapi ternyata enggak, dia justru bikin cerita ini dengan segitu cerdasnya. Sungguh hebat.

Kini gua malu dengan kepicikan gua sendiri, sepertinya Vasca ini satu profil yang sangat cocok gua acungi jempol, selain karena dia seorang penulis baru, juga karena kepintaran dan sajian penuh intriknya untuk novel ini JUGA telah memecahkan persepsi gua yang sangat salah tentang dua profesi bertolak belakang tersebut.

Iri. Marisa sungguh iri.

Betewe, *ga ada hubungan dengan topic di atas* gua akhirnya ga jadi ngamuk dan ngelabrak si Item *cerita sebelumnya*, melainkan karena gua ga enak, gua pikir ga perlu berlagak preman gitu toh? Gue kan murid. Ternyata dia memberi nilai yang cukup bagus untuk ujian perbaikan gue. Jadi, apa yang perlu di permasalahin? 

Oh ya, semoga yang baca blog gue ga bosen. Akhir-akhir ini gue lagi kesambet setan nulis, bawaannya dapet inspirasi terus buat ngepost di sini. see ya..

Selasa, 27 April 2010

HIDUP IPA, IPS JUGA! HIDUP DUA-DUANYA!

Entah apakah gua sudah gila di malam itu, ataukah akal sehat gua sudah tidak berada di tempatnya lagi. Yang jelas gua mengucapkan sebuah kalimat ajaib bin aneh. ditambah lagi dengan ekspresi penuh keyakinan dan percaya diri, seolah-olah gua tidak menyimpan sedikitpun ketakutan di dalam diri gue. ya ampuuuunnn!!!

“Ya! gue milih IPA.” IPA si kelas yang gua hujat dan maki-maki dulu, IPA si jurusan yang menurut gua tidak berbobot diisi anak-anak culun. Anak-anak yang dipikirannya Cuma ada belajar, belajar, dan belajar. IPA si jurusan yang isinya anak-anak picik penghina kaum IPS. Oh tidaaakk. Terus kenapa sekarang gua milih IPA?

Tepat 3 hari sebelum penentuan. Wali kelas gua membagikan angket. Gua harus mencoret dua pilihan dan menyisakan satu aja. PENGETAHUAN ALAM/PENGETAHUAN SOSIAL/BAHASA. Mari kita lewati jurusan bahasa. Karena satu, di sekolah gue Cuma ada bahasa Jepang, Mandarin, dan Inggris. Tentunya gua ga akan menjatuhkan pilihan kesana. TERKECUALI. Sudah tersedia bahasa korea, prancis, jerman, Arab, dan India.

Kedua, dari jaman bahela, kelas bahasa tuh Cuma terpampang di daftar doank, tapi ga pernah dibuka. Karena pesertanya ga pernah mencukupi untuk dibukanya satu kelas, dan pada akhirnya tuh anak-anak bahasa ditendang semua ke IPS. Jadi mari kita fokuskan pada IPA dan IPS.

Hari pertama. “Mar, jadi lo pilih apa ni?” si Jentong nanya ke gue.

“YA IPS LAH YA. kita kan barengan nanti! tos dulu dooonkkk.” Jadilah gua bertos ria bareng si jentong, sambil bersama-sama mengibarkan bendera IPS dan teriak teriak “HIDUP IPS! HIDUP IPS!”

Hari kedua. “Mar, Lo ips ya?” Si gigi renggang nanya ke gue. gua diem sebentar. Aduh apa ya? kok gua jadi bingung sih? kok gua bingung?? Gimana donk? Jawab apa nih?

“Errr, IPS sih. tapi… yah IPS kok. Gua milih IPS kok. Pokoknya IPS.” (sedang meyakinkan diri sendiri)

Kenapa gua jadi goyah di hari kedua. Gua punya beberapa pertimbangan. Oke,gua ga akan memungkiri bahwa anak IPA lebih dipandang. Di manapun, kalo di ijazah kita tertera IPA biasa kita udah langsung dapet label. “Mantan anak rajin”. Yah kan gua bilang mantan. Karna untuk bisa masuk IPA itu dibutuhin KERAJINAN. Dan target gua itu UI loh UI!! Gua rasa jurusan pengaruh.

Dan juga. Gua ga bisa hapalan. Hapalan gua parah. Itungan gua lumayan. Memang di IPA ada hapalan. BIOLOGI. Dan semua nilai biologi gua itu jelek, hancur, serta lebur. Gua sekarang mulai lemah di pelajaran kimia atau fisika ya karena gua selalu tidur pas pelajaran.

Dan apalagi. Di malam itu (kembali ke paragraph paling atas) gua chatting lagi sama si senior gua si anak IPA. Monkey!! Dari jamannya gua mau masuk SMA 1, dia emang lebih nyaranin gua untuk di IPA. Dan gua selalu menentang dia abis-abisan. Dia itu salah satu kaum IPA yang hobi menghina anak IPS. Liat aja di blognya. Beuh, kayaknya IPS tuh rendah bener dah. Yang gua bingung, kenapa sekarang gua kayak kehabisan kata-kata lagi untuk menentang dia. Hingga akhirnya gua telan bulat-bulat semua pertimbangan dia kenapa gua harus memilih IPA, kenapa ga IPS.

Satu, memang gua bilang gua ga boleh meng-underestimate-kan anak2 IPS, tapi marilah kita semua akui. IPS itu seperti kelas sisaan, yang ga bisa masuk IPA pasti masuk IPS.dan kenapa pada ga bisa masuk IPA? Karena kebanyakan otak mereka ga mampu menyerap pelajaran IPA. Atau karena mereka anak-anak males. Jadi coba bayangkan, gua MARISA JAYA yang males ini berkumpul di tengah lingkungan bejat dan males juga. MAU JADI APAA??

Dua, dengan kehadiran gua di IPA, gua pasti akan terpacu untuk menjadi rajin. Ga mungkin kan gua bangga melihat ranking gua yang ada di urutan paling bawah? Pasti itu akan memacu gua untuk bekerja lebih keras dan lebih keras lagi hingga akhirnya sifat males gua itu hilang.

Tiga, kalau gua di IPA, gua pasti akan menjadi lebih pintar. Karena gua rajin. Gua akan dipaksa untuk memakai logika dan semua kemampuan hitung-menghitung gue. tentu, ini berguna untuk jurusan hukum gua nanti, dan kata guru matematika gua, mat IPA dan mat IPS tuh beda. Yang di IPA jauh lebih susah. Cih, untuk anak sepeti gue, gua akan memilih yang lebih susah deh ya. gua kan anak pintar. yang jelas ilmu gua bertambah lah.

Empat, kata senior gue anak-anak IPS pada mabok semua pas UAN, bahan ulangannya banyak. Cara belajar merekapun ga santai lagi. Karena mereka itu HAPALAN, jadi butuh konsentrasi, sedangkan IPA, kita bisa belajar rame-rame dan saling ajar mengajari, oke gua ga terlalu concern di bagian ini.

Lima, semua keluarga gua itu menganggap gua anak paling bontot yang juga paling bodoh. Sedangkan mereka semua anak IPS. Jadi coba bayangkan gua menjadi satu-satunya anak roti yang masuk ipa? Bangga kan, kalo kata senior gua. “Ayo Mar, break the rules!!”

Enam, gua masih pengen bergaul dengan teman-teman pintar gua dulu. Gua pengen duduk sama anak pinter. Pokoknya gua pengen ketularan pintar. Dan itu hanya bisa gua dapatkan di IPA.

Tapi sebenarnya begini, gua Cuma membuat keputusan dengan mencoret angket. Itu KEPUTUSAN GUA LOH YA. bukan keputusan sekolah, yah dengan kata lain. Belom tentu gua bisa masuk IPA. Karena gua sudah mendoktrin diri gua selama ini bahwa GUA HARUS IPS, jadi gua santai2 di IPA.dan banyak nilai gua yang anjlok anjlokan. Sedih ya?

Waktu gua mengungkapkan itu ke senior gue, dia bilang gini. “Yah, itu urusan nanti. yang jelas sekarang lu pilih dulu IPA. Yang penting lu ga penasaran. Jadi nanti lu ga bakal menyesal dan bilang ‘yah, andai dulu gua pilih IPA, pasti gua tau rasanya jadi anak IPA’ dan kalau ternyata lu jatuh ke IPS, yaudah.”

Ya, baca artikel gua yang the best choice. Semua ini tentang cara menjalankan pilihan tersebut dengan baik. Jadi, ga ada bedanya dari IPA. Kalau sampai gua jadi anak IPA nanti, gua akan menjalankan kehadiran gua di IPA dengan sebaik-baiknya. Sehingga gua tidak menyesal dengan pilihan IPA gua nanti. HIDUP IPA. Eh.. HIDUP IPS JUGA! HIDUP DUA-DUANYA!!

Sabtu, 17 April 2010

Marisa Mau Berubah

Gua mau berubah.

Berubah tidak dengan segala perlengkapan kostum yang mentereng warna-warni beserta topeng yang nutupin satu muka. Bukan-bukan, bukan juga teriak BERUBAH dan jeng jeng jeng jeng, gua jadi ultraman yang punya kekuatan super. Gua mau berubah dari Marisa yang dulu jadi Marisa yang sekarang.

Sekarang gua tau, kenapa kemampuan bermusik gua ga pernah berkembang. Dari jaman dahulu kala, kalau yang namanya main musik gua paling benci sama yang namanya guru, pembimbing, whatever it is. Intinya gua ga pernah suka sama mereka. Satu, gua merasa setiap kali bersama mereka, kreativitas gua dalam bermusik itu terkekang. Dua, gua merasa cara mengajar mereka monoton bagi orang yang mengaku bergerak di bidang music. Tiga, gua memang ga bisa menerima kritik mereka saat music yang gua mainkan dikatakan parah.

Padahal music gua memang benar-benar parah. Suatu hari guru ekskul gua bertanya begini.

“Kamu pernah les piano Marisa?”

“Pernah ko.”

“Oh pantes, kamu pinter baca not baloknya,. (sekalian pamer ya gue dipuji). Kenapa kamu berhenti?”

“Karena aku merasa cara mereka mengajar itu ga sesuai sama aku. Terlalu monoton dan lambat. Jadi, mengesalkan ko.”

“Kamu tau ga Marisa, saat kita belajar bermusik, satu yang kita perluin. Rendah diri. Disini dikatakan dia pembimbing, tentunya dia lebih di atas kita skillnya, memang sebetulnya kita sedang belajar bersama pembimbing itu, tapi apa salahnya kalau kamu rendah diri sedikit dan mulai melihat tujuan dari pembimbing kamu.”

Oke, dan gua sadar. Gua terlalu sombong untuk mau mendengar guru les gua dari dulu. Ga Cuma guru les doank kok. Intinya gua merasa gua bisa bertumbuh sendiri tanpa seorang pembimbing. Well, memang, pada kenyataannya gua bisa berkembang sedikit tanpa pembimbing. Tapi inilah gua sekarang, ga sampe kemana-mana. Baca not balok pun gua terpatah-patah.

Dan gua mau berubah,. Sesuai kalimat di atas tadi. Gua mau berubah meskipun dalam kasus ini adalah menulis. Dulu, gua merasa tulisan gua itu bagusnya ga ada yang ngalahin. Hehhh. Ini bukan sombong. Bukannya wajar ya? Gua yakin semua penulis pernah melewati fase ini. Hingga gua bergabung dengan satu komunitas dan coba-coba belajar nulis di sana.

Tulisan gua akan di baca public, dari itulah gua dituntut untuk bisa menulis yang sesuai dengan criteria yang dipasang di sana. Dan gua berkenalan dengan salah satu editor yang kebetulan bertugas mengasuh anak gila kaya gua. Itu dia yang bikin gua kagum sama si editor. Dimana sang editor harus menahan gondoknya yang segede bola sepak saking gregetan, apalagi ketemu penulis bobrok kaya gue.

Gua tau, tau banget. Bahwa gua itu berbakat. Sekali lagi, BERBAKAT. Gua penulis yang berbakat, gua pemusik yang berbakat, dan gua seorang baker yang berbakat. Gua bukan sombong, tapi gua bangga dengan semua bakat itu. Sayang sungguh sayang, gua terkadang terlalu sombong untuk mengakui bahwa gua si orang berbakat yang tidak pernah berkembang. Pokoknya ini udah gua bahas di blog lalu tentang musisi.

Gua kirim tulisan ga berbobot itu, si editor mengatakan secara kasarnya sih, bahwa tulisan gua ga ada isinya. Intinya ga berbobot lah. Ini juga yang bikin gua kagum sama dia, dia ga pernah bikin gua tersinggung kalau jadi malu sama tulisan gua sih iya ya. Tapi kalo sampe sakit hati enggak. Gua selalu baca ulang tulisan dia buat nyari2 dimana maksud kesalahannya. Dan gua rencana mau ngirim tentang blog gua yang “the best choice” begitu gua lagi ngedit2 tau2 dia ngirim email, dia bilang dia tertarik sama tulisan itu. Pas banget. Akhirnya gua kirim lagi. Masih ada juga lah ya kurangnya. Mungkin karena over confident gua kebaca banget dalem tuh tulisan. Jadi gua merasa tulisan itu gugur juga.

Yang gua ga habis pikir, apa jangan2 gua itu salah satu dari daftar penulis bebal dia yang ga ngerti2 kalo dibilangin? Aduh gua jadi minder sendiri. Gua itu tipe orang yang suka berkoar-koar.. “tenang ya kak, aku ubah nanti.” Padahal gua bukan tipe orang yagn tahan banting kaya gitu. Kalau dulu, ada satu guru les gua yang ngomentarin gua kaya gitu, gua langsung pindah tempat les, karena menurut gua guru itu ga bisa cocok sama gua. Padahal itulah yang membuat gua ga berkembang. Ketidak adaannya rasa rendah diri, kadang rendah diri itu diperlukan. Apalagi saat kita sedang dalam fase belajar.

Dan itu juga kenapa gua lebih memilih jadi penulis di bandingkan jadi editor. Gua bukan tipe yang mau repot2 ngurusin tulisan orang. Ga kaya si editor gua yang super bikin gua salut ini. Entah, udah seberapa gede gondoknya sekarang. Gua Cuma bisa bilang, jangan menyerah ya kak! Terus berjuang buat ngeladenin aku!!

Sabtu, 13 Maret 2010

Marisa dan Blog si Anak Roti

Gua masih inget dulu, *lagi bernostalgia* kenapa blognya si anak roti ini tercipta (buka di blogroll, yang blog si anak roti gue). Inget persis alesannya. Karena salah seorang senior gua bikin blog. Dan gua ngefans abis sama blognya (kadang membingungkan. Sama blog atau orangnya). Dan itu menyambet gua buat ikutan dia bikin blog juga. At least, gua pengen bisa menghasilkan tulisan yang ehm apa ya? kalau boleh di bilang real, apa adanya, menarik, kaya tulisan dia.

Oke. Stoplah, ga mau gua muji-muji dia (lagi untuk kesekian kalinya) disini. Daripada entar orangnya menggelembung tinggi dan terbang melayang ke awang-awang (lagi untuk kesekian kalinya). Gua Cuma pengen nginget-nginget, kenapa tulisan gua jika dibanding yang dulu itu mulai berubah. Secara keseluruhan, gua mulai memperhatikan penggunaan kata dan kalimat yang baik juga benar. Meskipun, kadang susah sih. adoh! Dimana lagi gua bisa bebas berekspresi dengan bahasa gaul kalo bukan di blog hah? Novel! Kan ga mungkin gua pake bahasa ga jelas kaya begini. Apalagi dikirim ke redaksi? Bisa dikemplang gue sama kak Ning pake gebukan kasur.

Sebenernya sih, dibanding yang dulu tulisan gua sudah lumayan lah. Coba, coba gua kutip tulisan yang dulu.. hehehe

“Waktu denger dia disuruh (seharusnya, disuruh itu jadi di suruh, atau sebetulnya kata di suruh itu kurang baik. Kan bisa gua ganti di beritahu, di sarankan, dan sebagainya..) pulang kampung.. gua langsung “yah…!” agak memalukan sih buat anak kelas smp 2.. gua mau nangis!!! Trus dia bilang “cia, ati mau pulang nih.. lu mau ikud (Ini nih yang gua bilang kaya alay. Sejak kapan “ikut” itu jadi “ikud”?) ga?” gua sih mauuu banget ikut kekampung dia.. gua sih lebih betah, kemana2 (alangkah lebih baiknya kalau gua mengetik itu kemana-mana) sama pmbantu gua dibanding nyokap gua sndiri (seharusnya gua mengurangi pemakaian kata yang disingkat. Karena itu tidak memenuhi kriteria bahasa Indonesia yang baik). Tapi gua mikir lah, mana boleh sama bokap gua.. wktu (harusnya WAKTU) dia pulang terakhir kali juga, gua udah nanya ke bokap gua.. bokap gua malah bilang “nanti aja, kalo lu udah gede, lu ajak pacar lu kekampung si ati.. nanti lu cari cowo yang bisa bawa mobil!” stress dah!!”

Coba di selidiki. Itu sepenggal paragraf yang gua kutip dari postingan, polosnya si anak Jakarta. Masih awal-awal banget tuh gua bikinnya. Tapi, setelah di lihat dan di tilik. Kok tidak berbeda jauh dari blog gua yang sekarang? lho? Berarti blog gua kemajuannya belum banyak donk?

Nah! Sudah ku edit di atas. Tambahan lagi, gua kebanyakan menggunakan pemakaian TITIK, entah kenapa saat mengetik gua hobi sekali memakai titik. Padahal, titik satu saja kan sudah cukup, Kalimatnya pun kurang efektif. Harus serius belajar sama Bu Oyong tercinta nih.

Padahal, pada waktu itu, gua sudah biasa menulis menggunakan bahasa baku untuk novel loh? Tapi entah kenapa kesannya berbeda sewaktu gua berhadapan dengan blog. Blog yang berarti menceritakan tentang kehidupan gua sendiri. Bukan orang lain. Fakta bukan fiksi.

Pada jaman dahulu itupun, blog gua intinya tidak jelas. Tidak jelas, entah apa yang mau gua ketik. Tidak jelas, entah apa yang mau gua ungkapkan. Malah kadang, bisa nyasar kemana-mana pembahasannya. Niatnya ngomongin politik, tapi ujung-ujungnya malah beralih ke pencuri ayam di kompleks rumah. Seperti yang gua bilang. Tidak jelas.

Kadang bisa sampai 5 halaman gua mengetik seperti pelajar yang kurang kerjaan. Saat membacanya pun mata gua sampai kicer-kicer-siwer-siwer saking panjangnya. Dulu, gua mengetik tanpa tema. Gua mengetik apa yang mau gua ketik. Judul? Belakangan. Sekarang, gua belajar untuk menyesuaikan judul dengan isi. Itulah yang membuat blog gua sekarang tidak terlalu panjang. Lagian, memang orang ga males kalau membaca blog sepanjang itu. Ya ampun…

Ah gua begah pake bahasa formal kaya tadi. Biar itu gua sisakan untuk novel dan saat gua kesambet mau ngirim artikel ke redaksi. Blog itu tempatnya gua puas-puasin bergaul ria. Ber elo gue. Karena jari gua rasanya keram kalau harus mengetik “saya, aku, kau, dan kamu” aduh aduh aduh.

Ah gua masih inget juga. Seharusnya untuk kelangsungan blog ini gua wajib mengucap syukur dan terima kasih kepada senior gua yang bersedia menjadi komentator sukarelawan yang suka ngasih gua kritik, yang meskipun kadang rada ga jelas, tapi sangat berguna ternyata. Arigatou senpai!

Intinya gua pengen terus belajar, mengimbangi beberapa penulis hebat yang gua kenal.

Kalau mereka bisa, kenapa gua ga bisa?