Tampilkan postingan dengan label Mistis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mistis. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Illuminati

Semenjak menyadari simbol-simbol illuminati yang udah familier di tengah-tengah kita (even banyak orang ignoran yang nggak nyadar/nggak peduli/ menyanggah dengan “ah orang ngada-ngada aja bawa-bawa setan melulu”), dan setelah pencarian beberapa bulan belakangan ini tentang illuminati (berangkat dari rasa penasaran), gue berani menyatakan bahwa. Illuminati itu ada di antara kita dengan rencana organisasinya sendiri.

Notes: Postingan gue di sini mungkin nggak objektif atau bahkan akurat, ini Cuma sekadar beberapa hal yang gue tau dari internet dan hasil ngobrol-ngobrol sama temen.

Minggu, 30 November 2014

8 Tips to Survive A Zombie Apocalypse

Ini serius. Peringatan ini serius, postingan ini nggak penting, kecuali lo percaya pada eksistensi zombie di masa mendatang. Jadi setelah beberapa hari ngestalk video dengan judul, “How to survive a zombie apocalypse...” gue mendapat beberapa kesimpulan tentang, bagaimana cara lo menyelamatkan diri ketika sekumpulan zombie menyerang. (Mungkin beberapa dari elo lagi bersiap-siap untuk komentar, what a freak I am)

Jumat, 14 November 2014

Teman Imajinasi

Seharusnya gue enggak baca website semacam ini malam-malam. Enggak bukan bokep, kalo bokep mungkin gue nggak akan mengungkapkan penyesalan seperti di kalimat sebelumnya. Maksud gue yaudah sih, nonton bokep asik-asik aja. Masalahnya ini bukan bokep, dan gue sendirian ketika buka website ini.

Senin, 04 November 2013

Sadako 3D

Jadi ceritanya, baru aja gue nonton film Sadako 3D. Iya, lo gak salah baca. Sadako, setan sumur yang suka basah-basahan itu. Gue tau seberapa besar film ini berhasil meneror gue di waktu sebelumnya, dan hal yang paling gue gak suka adalah tambahan 3Dnya dimana berarti, lo bakal ngeliat sesuatu keluar-keluar dari dalam layar.

Sesuai dugaan gue. Gue memang gak suka.

Sabtu, 30 Maret 2013

Teror Mandi Malam Hari (Ini Cerita Horor)


Ini adalah fase dimana otak gue buntu-sebuntu-buntunya. Untuk nulis apapun, yang berbau fiksi, yang berbau bukan gue, dan berbau imajinasi. Anyway, untungnya gue punya pengalaman untuk dibagi kesini. Karena satu hari tanpa nulis membuat gue merasa sangat tidak produktif dan bukan calon penulis yang sesungguhnya.
Berhubung gue ngetik ini di malam Jumat Kliwon. Gue mau cerita pengalaman gue, yang mengakibatkan gue jadi jarang mandi malem akhir-akhir ini. Jadi begini.

Jumat, 10 Desember 2010

Penulis dan Model


Penulis: kumpulan orang eksentrik dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak biasa, terlalu cuek untuk memperhatikan sekeliling selain dunia khayal yang di ciptainnya, memiliki pemikiran dan pandangan yang rada “lain”, tingkat intelejensitas yang lumayan. Bisa jadi di atas rata-rata, karena bagi gue, untuk menjadi penulis yang hebat harus punya otak yang cerdas.

Model: orang-orang dengan penampilan fisik yang oke, sangat oke, pede, siap tampil di depan, familiar dan ramah dengan kehidupan malam dan liarnya. Cenderung menjadikan kecerdasan otak dan keindahan bagian dalam sebagai daftar terakhir atau kalau perlu ga disentuh.

Sekian deskripsi yang gua buat sendiri tentang dua profesi yang berbeda itu. Gua memang terlalu picik untuk mengatakan kebanyakan model ga memiliki kecerdasan sama seperti penulis. Bukan secara tingkatan, tapi kecerdasannya berbeda. Ada dalam dunia yang berbeda. Cara pandang dan pemikiran yang berbeda.

Jadi sama sekali belum pernah terbayang di pikiran gua dua profesi itu berdekatan atau jadi satu. Atau bahkan seseoragn yang memiliki dua profesi itu sekaligus? Terlalu dahsyat. TAPI ADA!!

Vasca Vannisa, seorang penulis yang *katanya* masih seumur jagung menyajikan novel pertamanya dan cukup membuat gua tercengang. Don’t Tell Me Anything. Novel yang bikin kepala gua muter-muter sambil nganga, tapi jelas bukan karena ceritanya yang ribet dan terlalu muter otak sampe bikin pala gua pusing. Enggak, justru dia bisa menyajikan cerita thriller ini dengan begitu ringan, tapi bisa dapet feelnya gitu loh. Tapi emang otak gua aja yang ga nyampe nyerna ceritanya dengan baik.

Satu hal lagi yang membuat gua berdecak kagum. Dia menggabungkan cerita roman, psikopat, dan bisa menyajikan ketegangan dengan begitu baik. Dan gua akui, dia bisa mendeskripsikan ini dengan sadis. Dan kesadisan itu modal novel thriller. Ga semua bagiannya selalu menjijikan dan penuh darah, justru ceritanya ini menarik. Bukan dengan sadisnya, tapi alurnya yang bikin kita menerka-nerka.. apa ya selanjutnya?

Oh ya, review novelnya nanti aja. Gua belom selesai baca, tapi udah nepsong nulis tentang penulisnya. Karena satu keunikan buat gue kalo seorang model bisa multitalented seperti Vasca ini. Bayangkan, paling mentok gua pikir, dia nulis cerita roman yang cetek cetek ga jelas, you know lah. Tapi ternyata enggak, dia justru bikin cerita ini dengan segitu cerdasnya. Sungguh hebat.

Kini gua malu dengan kepicikan gua sendiri, sepertinya Vasca ini satu profil yang sangat cocok gua acungi jempol, selain karena dia seorang penulis baru, juga karena kepintaran dan sajian penuh intriknya untuk novel ini JUGA telah memecahkan persepsi gua yang sangat salah tentang dua profesi bertolak belakang tersebut.

Iri. Marisa sungguh iri.

Betewe, *ga ada hubungan dengan topic di atas* gua akhirnya ga jadi ngamuk dan ngelabrak si Item *cerita sebelumnya*, melainkan karena gua ga enak, gua pikir ga perlu berlagak preman gitu toh? Gue kan murid. Ternyata dia memberi nilai yang cukup bagus untuk ujian perbaikan gue. Jadi, apa yang perlu di permasalahin? 

Oh ya, semoga yang baca blog gue ga bosen. Akhir-akhir ini gue lagi kesambet setan nulis, bawaannya dapet inspirasi terus buat ngepost di sini. see ya..

Selasa, 23 November 2010

Promosi

Waktu lagi iseng-iseng ngeliat orang-orang yang follow di blog gue, lalu gua ikut ngecek-ngecek apa lagi yang di follownya, gua ketemu website ini.

www.browiez.blogspot.com

bagi yang ga suka hal-hal berbau mistis, menyeramkan dan menjijikan, HARAP jangan di buka. Karena isinya sungguh menarik untuk gue, menyajikan info hal-hal yang tabu secara lengkap dan banyak gambarnya. Jujur aja, gua suka ini blog, tapi jarang buka. Serrrrreeeemmm..

Dan ga Cuma sekedar hal serem, tapi ada banyak info-info unik di dalemnya.

Patut di buka. Satu kata, keren lah.

Sabtu, 31 Juli 2010

Sendirian... Brrrrrr...

Sebetulnya, di balik perangai Marisa yang agak mirip setan ini, gua justru adalah makhluk yang sangat menakuti setan. Tentu saja ga lepas dari faktor doktrinasi melalui film-film horror jepang dan Thailand, yang setannya tuh jelek, amit-amit punya.

Jadi ceritanya, sabtu siang telah di putuskan bahwa seluruh keluarga beserta tante-tante gue akan di boyong beramai-ramai ke Tanggerang untuk merayakan ulang tahun ke 50 bokap gua. Cuma perayaan kecil-kecilan sih. intinya acara itu selesai jam 10 malam. Gua sekamar sama cici gua yang ke 2, dan tentunya embak yang udah ngurusin gua dari kecil.

Enci gua yang ke2 bawa cowoknya ke Tanggerang. Dan TERNYATA mereka menginap di sana. Dalam hati gua pada saat itu sewaktu mendengar kabar ini, “YES YES YES! TIDUR TANPA DIA! YES! MERDEKA”

Gua naik ke mobil dengan rasa girang yang membuncah. Hingga di tengah jalan gua menyadari. Ponakan gua nginep, embak gua nginep, enci gua nginep. Lalu gua tidur sama… SAMA SIAPA????

“O EM JI!” gua berteriak di mobil. “Entar aku tidur sama siapa donk ce? Si cekit kan nginep di sana! Oh tidak!!” dan enci gua yang pertama tertawa terbahak-bahak. SEMANGKAAAA!!!! “ce, tidur sama aku donk ce?? Ya ya?? entar aku sendirian??” ternyata dia tidak menggubris ketakutan yang sudah mengambang di ubun-ubun gua ini. katanya, ogah dia juga pengen berduaan sama lakinya. Oh TIDAK

“Yaudah, elu yang sabar aja. Pokoknya nanti kalo ada apa-apa merem aja…” sial. Nih koko ipar gua pasti lagi nakut-nakutin. “Lu kalo ngerasa kaki lu di raba-raba, ya ngomong aja dalem hati. Jangan ganggu, itu yang putih-putih di rumah kita emang suka iseng kok.”

Dan imajinasi gua dengan segera melanglang buana, mengunjungi pulau paranoid yang telah gua ciptakan sendiri. Gua teringat cerita si tiffany sabtu siang di sekolah.

“Mar, elu tau ga? Masa kemarin malem adek gua cerita. Katanya waktu mati lampu, dia melek ngeliat gua. kata dia ada putih-putih di atas gua. terus dia merem ga berani melek lagi.”

Jujur. Gua bukan penakut. SUWER. Gua ga penakut, hanya imajinasi gua aja yang terlalu hebat. Lalu gua membayangkan cerita sederhana yang sama sekali tidak menakutkan itu, sehingga entah bagaimana gua seperti sedang menyunting film horror Thailand dengan si setan melayang-layang di atas kepala temen gua dalam gelap. Hiks.

Semasih imajinasi gua melanglang buana, koko ipar gua masih terus berceloteh semakin memperkaya kreatifitas gua dalam menciptkan zona ketakutan gua sendiri. Siallllllll!!!!!

BAGAIMANA INI?? lalu gua ingat dengan si ijah. Gapapa, at least gua bisa ngerjain si Ijah supaya ga tidur semaleman nemenin gue lewat telepon.

“Pokoknya jangan tidur sebelum ogud tidur.”

“Emang kenapa si?”

“Aduuuh pokoknya gitu deh!” gua sms si Ijah. Permasalahannya adalah gua tau kalau Ijah tau bahwa gua penakut. Dan gua merasa adalah sebuah aib yang besar kalau sampai si Ijah tau bahwa gua takut hanya karena GUA TIDUR SENDIRI DI KAMAR GUA YANG EMANG RADA ANGKER ITU!!! Ijah pernah ngeledekin gue karena gua ngerengek waktu mati lampu. Ya, jangan samakan gua dengan dia yang ga bisa tidur klo ga mati lampu. Gua itu semacam kebalikannya, ga bisa tidur kalau mati lampu.

“Pokoknya jangan tidur.” Ultimatum terakhir.

“Iye.”

BERUNTUNG. Tidak ada yang terjadi pada malam itu, Ijah si nona jail sempet ngiseng-ngisengin gue.

“Eh, kamu hati-hati, iya liat ke kiri ya entar…”

“Jaaahh, diem ya jaaahh. Jangan yang aneh-aneh.”

“Ya, abis kamu panik begitu sih. kamu nyalain tivi ya? kedengeran.”

“Iya.” Dengan volum maksimum. Biar rame. Gua setel tivi itu sampe pagi.

Ternyata. Suara Ijah memang seperti obat kencing kuda penangkal setan, sekaligus juga obat tidur yang menghipnotis. Karena ga lama kemudian, gua sudah jatuh tertidur. Tinggal Ijah yang gua tinggal tidur *seperti biasa*, say thanks to sweety monkey, yang pandai menghipnotis gue

Iya. Malam itu memang tidak terjadi apa-apa, tapi gua mendengar kisah di pagi harinya.

“Cia, gimana kemarin malam ada yang narik-narik kamu ga?” tanya enci gue. lalu salah seorang karyawan gua nyeletuk

“Kemarin, Aicia keluar kamar ya? Cuma aku rada bingung.”

“He? Enggak. Kemarin malem, aku di kamar aja kok.”

“Loh? Terus siapa yang keluar kamar? Soalnya pas aku tidur, denger suara brisik-brisik. Kirain si Mpok Ati sama Neni bikin susu di dapur, Cuma kan mereka nginep di sana, ada suara orang jalan keluar, tapi kok ga balik-balik lagi, ke kamar. begitu aku liat jam, ternyata sudah jam 3.”

“Terus mbak Heni keluar?”

“Enggak. Aku langsung kunci pintu kamar. Waduh. Itu siapa donk yang keluar kamar jam 3 pagi.”

“Ga tau, saya juga ga keluar kamar.” Kata enci gua

Hening.

“Cia, mungkin ga.. kemarin jam 3 pagi tanpa kamu sadar, si orang tak berwujud itu juga main-main ke kamar kamu pas kamu lagi tidur?”

RUJAAAAAAK!!!!

Ijah, temani aku lagi setiap malam.

Sabtu, 05 Juni 2010

Womanizer

YA OLOOH. gua masukin cerita gaje itu kemana-mana. berhubung gua pengen ngasih liat cerita gua ini ke seseorang dan hanya bisa lewat blog. ya sudahlah. gue masukan kembali di dalam blog.

KAMBING AWAS DIKAU GA KOMEN!

-----------------------------------------------------------------------------------------

By: Marisa Jaya

Gadis berlesung pipit, tahukah kau.. aku memliki lidah semanis madu, dan senakal pelacur jalanan, lidah yang sanggup meruntuhkan pertahanan perempuan, mampu melayukan rumput segar, bahkan membunuh.

Gadis bermata hijau emerald, tahukah kau.. aku memiliki mata yang menawan, mengerling nakal dan menggoda para perempuan. Aku akan menguasai mereka hanya dalam sejentikan telunjuk.

Gadis berambut pink, tahukah kau.. aku memiliki hidung sempurna, yang dapat menggelitik telingamu.

Gadis berhati malaikat, tahukah kau.. aku sungguh terpesona akan kecantikanmu. Biarkan lidahku menjelajahimu, biarkan jariku membelaimu, biarkan hidung ini menghirupmu. Naiklah ke pembaringanku..


Sang gadis beringsut maju dari sudut ruangan temaram, perlahan-lahan mendekati si tampan yang mempesona. Senyum malu-malunya berubah menjadi seringai nakal.

Syuuuutt..

Kusen jendela berayun-ayun, tertiup angin yang berdesir kencang. Anjing melolong, ranting-ranting pohon berderit penuh penderitaan. Seperti anak-anak setan yang berbaris di tengah malam pekat. Lampu bohlam kuning menyala redup di tengah langit-langit kamar sempit dan pengap. Kelelawar berayun-ayun dan mengepak-ngepakan sayap hitamnya. Sinar bulan yang redup seperti telah meluruh melawan kabut.

Si tampan memeluk tubuh sang gadis, seperti tidak akan melpaskan, seperti kupu-kupu yang sedang menemukan madu bunga.

Ayolah, biarkan aku malam ini menjamahmu, seperti mercusuar yang menjulang tinggi menyapa bulan.

Jemari lentiknya membelai tengkuk sang gadis, dengan begitu lembut… perlahan. Menyusuri rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar tengkuknya, membuat si gadis bergidik geli.

Syuuuuutt

Angin malam mengintip dari balik jendela kayu berwarna hijau kusam yang mengayun-ayun. Angin malam yang dingin menusuk bagaikan ribuan jarum, perlahan berubah. Menjadi hawa panas, hawa panas penuh nafsu.

Hai tampan, tahukah kau… aku bukan gadis berhati malaikat.. aku…

Lidahnya mulai bergerak liar, menyusuri leher sang gadis yang jenjang dan seputih kapas. Halus dan lembut, seperti bulu domba. Membuat si gadis mengerang dan melenguh. Kepalanya menengadah menerima telusuran lembut dan basah menggelitik.

,,, aku gadis berhati sejahat iblis, penuh iri dan dengki
. Sang gadis berkata dalam hati.
Di gelitiknya telinga sang gadis dengan lidah yang sedari tadi menari-nari lincah.

Hai tampan, tahukah kau… aku gadis yang sedang dipenuhi amarah kebencian dan cemburu buta. Sang gadis mengernyit jijik di dalam hati.

Lidah mereka bertautan seperti dua pedang yang sedang berperang, saling mengecap dan merasakan, tubuh mereka telah di banjiri lautan peluh birahi. Rambut sang gadis bertebaran seperti ular-ular mati saat di baringkan kepalanya ke atas kasur kecil yang berderit-derit. Tangannya merentang pasrah di sisi kiri kanan ranjang. Mata hijaunya meredup, dan bibirnya merekah. Pipinya bersemu merah seperti buah cherry yang telah matang.

Hai tampan, tahukah kau… kulit pucatmu begitu menjijikan, caramu merayu perempuan begitu menggelikan, ingin segera saja…

Sang gadis melenguh panjang, saat payudaranya di jamah oleh jemari kekar nan lembut. Perlahan-lahan.. menyentuhnya dengan begitu tepat. Seperti memegang trofi Kristal yang rentan pecah.

Syuuuuutt.

Kusen jendela kembali berayun, angin bertiup semakin kencang, angin seperti berlari. Berlari begitu cepat., Lolongan anjing yang menatap rembulan pucat terdengar seperti tangisan. Kabut melebar di permukaan malam. Membuat segala yang ada diluar jendela menjadi begitu buram dan mencekam.

Hai tampan, tahukah kau.. aku begitu membenci lidahmu. Membenci jemarimu. Membenci mata onyx mempesonamu. Membunuh. Kau hanya seonggok nyawa tak berguna,


“Aku tahu kau mencintaiku..” si tampan berkata di sela-sela belaian penuh nafsunya.

Bayangan tubuh polos mereka, bergerak mendesah di dalam kamar sepetak bernuansa hijau kusam. sedang, di intip angin, dan bulan. Burung hantu bernyanyi riang dari luar seraya menyanyikan lagu untuk mereka. “Krruuk.. krrrukk..” hewan-hewan malam berteriak-teriak kegirangan, menyanyikan lagu kegembiraan mereka. lagu selamat datang, lagu penyambutan, lagu kematian.

Hai tampan, tahukah kau.. aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya mencintai gadismu. Gadis yang kau bunuh dengan pesona matamu.


Si gadis kembali melenguh, mengalahkan nyanyian kegembiraan hewan malam di luar jendela. Saat jemari itu mulai bergerak turun, membelai dan mendesak. Membelah rerimbun hutan yang lebat di sela-sela kaki jenjang indah, putih, dan mulusnya. Seperti pemburu kehausan di tengah hutan yang mencari mata air.

Krrrtttt krrrttt..

Ranjang mulai berderit karena tubuh sang gadis yang menggelinjang kasar.

Hai tampan tahukah kau… aku tidak pernah merasakan gairah dengan belaian lembut jarimu. Hambar. Sehambar hatiku padamu. Sehambar kulit pucat, dan wajah tampanmu. Hambar. Aku hanya mencintai gadismu.


Si tampan merentangkan kaki sang gadis, membentuk segitiga, dengan sudut di ujung atasnya. Siap menerima.. sang gadis meredup. Peluh membanjir. Namun, bibirnya membentuk sudut. Dia menyeringai.

Hai tampan, tahukah kau.. aku menyimpan sebilah pisau berkilat di bawah ranjang jahanam ini.


Jrrrrreeeppp.

Matanya membelalak seketika.

“K-ka-kkau!”

Hai tampan, tahukah kau… darahmu jauh lebih menggiurkan di banding mata onyx mempesonamu.


Anjing melolong kembali, hewan-hewan bernyanyi semakin lantang, angin berhenti berlari. Berdesir perlahan, ranting-ranting pohon berhenti berderak tertiup angin. Terdiam. Sang gadis terdiam dengan senyuman.

Si tampan, mengalirkan darah dari perutnya, sebilah pisau tertancap di dalamnya. Tangan sang gadis telah merah. Mengalir darah yang merembes keluar dari perut si pucat yang telanjang. Di tendang si pucat itu ke atas semen.

Hai tampan, tahukah kau.. aku begitu tertarik melihat isi perutmu.


Si gadis berjongkok di samping tubuh si pucat yang menggelepar. Di tancapkan lagi pisau itu ke lubang yang sama.

Jreeeeppp

Ditancapkan sedalam-dalamnya, dalam. Menembus tulang dan mengobok ususnya. Lalu sang gadis menarik kuat-kuat pisau itu, membelah pinggangnya. Si pucat menggelepar-gelepar, tidak satupun suara yang terdengar. Hanya desah nafasnya yang memburu dan suara pisau yang bergesek membelah kulit. Belum mati dia rupanya. Dia membelah lagi pisau itu ke arah yang berlawanan. Dan sang gadis tersenyum.

Hai tampan, tahukah kau.. ususmu yang terburai, darah yang mengalir, tubuhmu yang menggelepar-gelepar hampir membuatku orgasme.


Si gadis tersenyum, darah mengalir deras ke atas semen yang dingin. Ruangan berbau anyir, dan bernuansa merah. Merah darah. Nyanyian hewan-hewan semakin keras. Mendobrak-dobrak telinga sang gadis seperti nyanyian kemenangan.

Hai tampan, tahukah kau.. rasa darahmu adalah yang paling menggiurkan di banding semua cairan yang terkandung di dalam tubuhmu. Sperma ataupun saliva mu. Menjijikan, tapi darahmu. Membuatku ketagihan.


Sang gadis menjulurkan lidahnya, sambil memejamkan mata, dirasakan darah yang mengalir di tangannya, dihisapnya, di kecapnya, dengan begitu lahap. Seperti kehausan.

Syuuutttt

Jendela kembali berayun-ayun tertiup angin.

Hai tampan, tahukah kau.. sekarang aku ingin sekali mencumbu tubuh tak bernyawamu. Matamu begitu lucu saat membelalak, bibirmu begitu seksi saat terbuka seperti ini, dan perutmu lebih atletis saat terbelah dengan usus yang terburai. Kau tampan. Ya. kau memang tampan.

Hai tampan, tahukah kau.. aku pernah mencintai gadis pirangmu. Matanya berwarna biru aqua, cantik dan mempesona. Ingatkah kau dengannya? tubuhnya seksi, mengagumkan. Kami saling mencintai. Ya, kami saling mencintai. Lalu kau datang… dengan segala pesonamu, dengan segala cumbu rayumu. Dia tenggelam..

Hai tampan, tahukah kau.. kau membuatku mati. Saat kau campakkan dia, kau buang dia ke neraka. Kau menciptakan air mata yang tidak pernah mengalir saat dia bersamaku. Tubuhnya sekarang sedingin malam, sepucat dirimu. Kurus, lemah, dan tidak bersemangat. Kenapa kau? Kenapa kau?

Dengan jemarimu, kau membelainya waktu itu.



Sang gadis memotong jari-jemari si pucat satu-persatu. Tidak ada reaksi, tidak apa-apa. Hanya untuk kepuasan semata. Darah mengalir lagi saat kesepuluh jari itu di susun di atas semen abu-abu yang sekarang berwarna merah darah. Seperti batangan eskrim. Hanya saja, tidak pipih dan berwarna merah. Si gadis tertawa geli di dalam hati, membayangkan batangan eskrim.

Dengan lidahmu, kau menggodanya waktu itu.


Sang gadis merogohkan tangan kirinya kedalam mulut si pucat, lalu memasukan pisau di tangan kanannya, lebih mudah. Mulutnya telah terkuak kaku. Hanya saja, untuk memotong seonggok daging yang dapat meruntuhkan pertahanan gadis lain. Seonggok daging yang menciptakan kata-kata manis menghanyutkan. Lidah ini harus segera dimusnahkan. Diiris-iris perlahan daging yang berwarna merah keunguan itu.

Di angkat tinggi-tinggi daging yang telah berlumur darah itu lalu, sang gadis tersenyum. Ditaruh lidah itu di dekat jari-jari yang di susunnya tadi.

Syuuuutt.

Jendela kembali berayun.

Baru dia sadari, kesenangannya telah berlalu. Sekarang berganti kesunyian. Bukan, bukan kesunyian. Kelegaan. Bahagia. Dia sungguh bahagia. Dingin mulai menyelimuti, menusuk-nusuk seperti ribuan jarum. Hawa nafasnya berkabut, dia mulai menggigil.

Syuuuutt

Sang gadis berbalik hendak menutup jendela. Berharap dingin akan berkurang.

Syuuuutt.

Jendela masih berayun-ayun. Tertutup, terbuka, tertutup, terbuka.

Dia bergeming. Sejenak terpaku, sejenak tubuhnya tersetrum syok mendadak, lalu sejenak kemudian dia tersenyum.

Gadis berambut pirang, berdiri memaku di luar jendela. Rambutnya telah kusut masai dan berantakan. Terdapat bercak darah di ujung-ujung rambut pirang keemasannya. Matanya membelalak, kulitnya sepucat si tampan. Bibirnya membiru, wajahnya begitu tirus dan mengerikan. Tidak mempesona.

Gadis pirang cantikku.


Si pirang terisak. Darah mengalir dari matanya, air mata darah. Merah. Begitu kontras dengan kulit pucat putihnya. Dengungan malam di dalam hutan melatari isak tangis sang gadis.

Kau begitu mempesona. Begitu lama aku merindukanmu, lihatlah. Telah kuhentikan detak jantung si bocah pucat bermata onyx ini. si pemain perempuan ini. lihatlah maha karyaku. Telah kubuktikan cinta untukmu gadis pirangku.. yang tidak akan pernah dilakukan olehnya.

Kenapa? dia tidak pantas untuk hidup. Tidakkah kau terkesan? Kenapa harus menatapku begitu sih? cinta kita memang ada dan akan abadi selamanya. Tidakkah kau bahagia? Penghalang telah musnah? Jangan menangis lagi. Hentikan air mata darahmu itu. aku ada di sampingmu selalu, sebagai perempuanmu.

Wajahmu tirus sekarang, bibirmu membiru. Rambutmu tidak lagi pirang berkilauan, kenapa kau mengerikan sekarang? kau. Ya, kau sungguh mengerikan. Kau tidak cantik. Kau bukan gadis bermata biru aqua yang jernih lagi. Kau, kau mengerikan, kau jelek. Kau jelek seperti si pucat. Kau seburuk si pemain wanita itu!

He.. hei!! Jangan mendekat! Kau berbau busuk seperti mayat.. atau? Oh! Hahaha. Aku lupa. Kau memang sudah mati ya?

Kenapa kau berkeliaran? Bukankah aku sudah menyediakan kapuk beralaskan sutra, bertaburkan kelopak bunga mawar merah sebagai tempat pembaringanmu? Sudah terlihat damai kau berbaring, dan cantik. Lihatlah sekarang? kau merusak karya indahku!!

Kenapa kau melotot begitu sih? Apa salahku? Aku kekasihmu yang paling berjasa, kau tahu. Membuat tubuhmu diam selamanya begitu tidak mudah! Aku ingat, kau bahkan memukulku dengan balok kayu. Padahal, aku hanya ingin membelai lehermu dengan pisau. Pisau yang kugunakan untuk si pucat itu.

Kau pikir, menyusun kembali isi perutmu adalah pekerjaan yang mudah? Aku menghabiskan 3 hari untuk itu. aku ingin kau tetap cantik, seperti kau. Kau sebelum terjerat si pemain cinta itu. Seperti kau. Kau sebelum menangis terisak di tengah malam yang sunyi seraya menitikan air matamu ke atas fotonya. Aku hanya tidak ingin lagi melihat air matamu turun, aku mencopot kedua bola matamu, agar tidak ada lagi air mata yang mengalir. Dan tahu tidak? aku membutuhkan 2 hari untuk memasangnya kembali. Agar kau cantik.

Oh ayolah!! Kau bau busuk. Jangan mendekat! Tatapanmu tidak menawan lagi. Berhenti membelalakan matamu begitu! Matamu berdarah!



Syuuuutt.

Jendela kembali berayun. Namun, Sosok pirangnya tidak lagi di luar jendela. Tubuh ringkihnya merangsek masuk, rambut pirang kusamnya berkibar tertiup angin, hingga sebagian menutupi wajahnya.

Pluk.

Bola mata kanannya jatuh, dan menggelinding. Dengan lumuran darah air mata, serta biji mata hitam yang membelalak, bulat dan licin berair. Seperti bola tenis, hanya ukurannya lebih kecil. Menggelinding dan menggelinding, hingga menabrak jari kaki sang gadis berambut pink. Bau anyir darah semakin santar di seluruh penjuru ruangan. Sekarang hidungnya mengernyit jijik, sejak kapan dia membenci nuansa darah? Kenapa keadaan mendadak mengerikan?

Si pirang, bergaun merah. Gaun indah yang di rajut dengan tangan lentik sang gadis. Gaun merah, dapat menyamarkan warna darah, jika ada bercak darah menempel. Lagipula, merah darah itu indah bukan?

Ke..kenapa? kenapa kau masuk? Aku.. aku tidak suka caramu yang begitu.


Brruuk.

Jendela tertutup. Angin menghantamnya. Begitu rapat. Suasana malam tetap seperti biasa, kelelawar mengepak-ngepak, burung hantu bertengger, anjing masih melolong, pepohonan masih berderak dan sesekali bergoyang menahan terpaan angin dingin menusuk. Suara jangkrik menggema menembus malam. Bersama-sama, penghuni malam menyanyikan lagu kemenangan mereka di bawah rembulan pucat yang semakin hilang di telan kabut.

TAMAT

Jumat, 09 April 2010

Gloomy Sunday

Sunday is gloomy, my hours
are slumberers
Dearest the shadows I live with
are numberless
Little white flowers will
Never awaken you
Not where the black coach
Of sorrow has taken you
Angel have no thought of ever returning you
Would they be angry if
I thought of joining you?

Gloomy Sunday

Gloomy is Sunday, with shadows
I spend it all
My heart and i
Have decide to end it all
Soon there’ll be candles
And prayer that are sad I know
Let them not weep
Let them know
That I’m glad to go
Death is no dream
For in death I’m caressing you
With the last soul of my soul
I’ll be blessing you

Gloomy Sunday

Dreaming, I was only dreaming
I wake and I find you asleep
In the deep of my heart, here
Darling, I hope that my dream
Never haunted you
My heart is telling you
How much I wanted you

Gloomy Sunday


Sayup-sayup terdengar lantunan melodi berirama yang berasal dari biola. Terkesan dalam dan penuh keputus asaan. Dan gue serius. Lagu gloomy Sunday ini bahkan di sebut lagu Suicide. Lagu ini telah membunuh banyak orang. Ini yang gue sebut.. karya mistis.

Konon katanya, jika kita terlalu menghayati atau berulang-ulang mendengar lagu ini, maka maut akan segera menggoda kita, nangkep maksudnya? Maut akan menggelitik tangan kita dan jiwa kita, untuk segera menghadapnya. Bunuh diri.

Lagu ini merupakan ciptaan dari seorang pianis sekaligus Komposer hungaria bernama Rezs Seress dan di beri judul Szomoru Vasarnap, artinya Gloomy Sunday pada tahun 1933. Yang gue dapet dari lagu ini adalah, keputus asaan. Oke, baca ulang teks di atas. Hayati maknanya, pasti baru bisa nangkep. Karena awal-awal gua ngedenger lagu ini, gua pun juga ga begitu nangkep maksudnya, lalu gua baca ulang terus teksnya hingga gua menangkap kata-kata yang sarat akan kesedihan dan keputus asaan.

Lagu ini di angkat dari puisi dari seorang pujangga Lazlo Javor dan berlatar belakang seorang penyanyi yang mati akibat depresi karena kematian kekasihnya lalu bunuh diri. Dan faktanya, setelah lagu itu dirillis oleh resz, Laslo Javor sang pengarang meninggal.

Karena bunuh diri.

Pada 1968, saat lagu ciptaannya itu sedang booming dan di pasang di radio-radio, Resz sang pencipta lagu, meninggal.

Bunuh diri dengan melompat dari jendela apartemennya.

Sebelum meninggal, Resz pernah mengungkapkan bahwa lagu yang sempat menjadi hits ini mewakilkan kepedihan hatinya karena entah mengapa dia tahu bahwa dia tidak akan pernah lagi membuat hits kedua. Lagu itu sudah menambah keputusasaan nya tentang hidup.

Semenjak awal di ciptakannya lagu itu, banyak kasus bunuh diri. Termasuk saat Billie Holiday menyanyikannya dan menjadi hits besar dimana lagu ini diputar di berbagai stasiun radio dan tercatat. Angka bunuh diri meningkat pesat saat lagu ini diputar. Stasiun radio BBC Inggris bahkan mengeluarkan ultimatum bagi stasiun radio untuk tidak mengkumandangkan lagu tersebut secara umum. Dan Gloomy Sunday menjadi sebuah legenda.

Selain itu Billie Mackenzie vokalis band The Associate pada tahun 1997 yang mengcover lagu Gloomy Sunday versi Billie Holiday mengakhiri hidupnya di rumah ayahnya di Dundee.

Ngomong-ngomong, ini sudah 15 kalinya lagu Gloomy Sunday melantunkan alunan-alunannya melalui speaker handphone gue. Hanya lagu ini dan suara jari gue yang beradu dengan keyboard yang memenuhi kamar. Semakin gue mendengar lagu ini, semakin aneh lah otak gue. Lagu ini merasuk betul ke dalem hati gue. Gue pikir biar dapet pas gue nulis di blog makanya gue ulang-ulang terus lagunya. Apakah gue akan bunuh diri? *merinding boy*

Gloomy Sunday
Will kill you
If just
You believe

Sabtu, 13 Maret 2010

Si Botak Berlari-lari

Masih tentang magis. Antara gua percaya atau enggak. Dirumah gua ada tuyul!!! Oke tepatnya bukan tuyul yang suka nyolong duit dsb itu sih. Toh dirumah gua kaga ada duit apa-apa. Tuh tuyul mau nyolong apa juga.

Tapi mirip tuyul!! Palanya botak, telanjang. Oke ga telanjang, tapi pake kain2 putih gitu. Gua syok! Emank sih gua ga liat sendiri. Tapi embak gua yang udah kerja 15 taon dirumah gua yang liat.

Begini ceritanya…

Hari2 gini kan lagi lebaran ceritanya. Nah ceritanya diruang tamu Cuma ada gua sama embak gua doank. Bokap nyokap gua lagi didepan rumah, enci2 gua lagi pada dikamar. Dan jangan pnya bayangan rumah gua itu kaya rumah biasa yang ruang tamunya juga biasa aja. Karna rumah gua luar biasa. Ruang tamunya ada mesin bolu yang gede, trus ada mesin ngaduk ayem yang gede juga. Udah gitu kosong melompong n arahnya memanjang kepintu belakang.

Jadi ceritanya rumah gua itu ada tempat sembahyangan diruang tamunya. Dan kemarin bokap gua baru pulang, gua rasa sih die ke wihara gitu. Nah dia bawa lukisan udah usang. Didalem lukisan itu ada gambar dewi (sesuai agama budha) n anak ajaibnya. (dan gua ga sangka tuh anak beneran ajaib). Tapi sayangnya tuh lukisan digeletakin gitu aja sama bokap gua diatas kardus kue.

Nah embak gua nyuruh gua beli nasi. Buat dia makan. Berhubung dia lagi masak, yaudah gua jalan beli nasi. Sepulangnya gua dari warteg, gua liat ada nyokap sama embak gua lagi ngobrol.

“Entar lu dapet hoki kali ti, liat anak kecil gitu. Gua juga pernh liat anak kecil langsung tembus 4 angka.”

“Iya siapa tau saya dapet duit” tapi gua denger suaranya rada geter gitu.

“Emank kenapa sih? Lu liat anak kecil?” gua yang baru masuk keruang tamu langsung nyambung aje.

“Iii…yaa.. ih tangan saya sampe merinding.” Dan itu tuh bener2 keliatan dari ekspresi mukanya yang ketakutan n suaranya yang gemeteran. Apalagi dia penakut banget. Dan gua BENER BENER bersyukur dia kaga PINGSAN!!! Soalnya selama 15 taon dia kerja di rumah gua, ga pernah sekalipun dia liat setan, tapi dia selalu paranoid ga jelas gitu. Dan gua sempet mikir kalo dia liat setan barangkali langsung pingsan n jatoh. Untungnya enggak.

Nah sbelum gua sambungin sama cerita si tuyul tadi. Nyokap gua emank pernah (sering) liat anak kecil yang ada dirumah gua. Tepatnya dikamar mandi. Tuh kamar mandi sumpah angker banget. Kaya yang wktu gua ceritain soal ada yang bunuh diri disana. Ternyata cici gua yang udah meninggal masih manteng dikamar mandi. N ga Cuma nyokap doank yang pernah liat. Koko ipar gua juga, katanya tuh anak lagi jongkok didalem bak mandi. Bak mandi di kamar mandi angker itu emank ga pernah diisi sekarang. semenjak itu tuh bak mandi selalu diisi ember kek, sabun kek. Pokoknya ga pernah kosong.

Tapi yang dibahas sama nyokap itu adalah cici gua. Atau kalo menurut alkitab itu iblis yang menyamar jadi cici gua. Cuma gua masih dilemma antara alkitab n kepercayaan keluarga gua. Dan dia itu rambutnya panjang. Lah kalo yang ini botak. Dalem ati gua mikir, yaoloh rumah gua banyak banget sih anak kecil. Pada iseng amat.

Nah lanjut ke yang tuyul tadi. Gua penasaran n nanya soal kronologis ceritanya. Jadi embak gua cerita, dia lagi mau kearah kamar mandi kan. (yang kali ini letaknya bukan dikamar mandi tapi), biasanya embak gua tuh apa2 minta ditemenin tapi kali ini mungkin dia pikir siang2 jadi ga takut, n gua disuruh bli nasi.

Udah gitu dia nengok kearah mesin ayem yang letaknya ditengah2 dapur n sembahyangan. Eh pas dia balik kebelakang dia liat anak kecil segede yong min gitu. Tapi wktu dia liat tuh anak kecil lari kearah sembahyangan n busss hilang bagaikan asap. Embak gua sampe syok n komat2 (mnurut cerita dia). Sebenernya pas denger cerita dia itu gua udah takut abis. Tapi gua belaga berani n ketawa2, sok ngetawain dia. Padahal mau ga mau gua merinding juga.

“emang anaknya semana ti?”

“Ya segede Yong min gitu.”

“Cakep ga? Cewe apa cowo?”

“Ga tau, tapi kayanya tadi liat sekelebatan botak2 gitu.” Oh berarti cowok donk. Nah lo!! tuyul donk! (pas itu ceritanya gua ga tau soal lukisan.)

Emak gua bolak2 terus kesembahyangan. Kayaknya emak gua juga komat-kammit disana. Udah gitu pas ngelewati sembahyangan emak gua baru nyadar. Ada lukisan!! Udah gitu emak gua langsung ngmg ke embak gua.

“Ti, anaknya kaya gini bukan?” gua yang lagi duduk disofa langsung bangun n ngeliat lukisan yang gede itu. EMANG BENER!!!! Ada anak kecilnya. Botaknya tuh kaya anak china jaman dulu yang ada jambulnya kecil. Trus telanjang Cuma dibungkus kain putih.

“Dih, iya nci. Ini anaknya tadi.” Emak gua langsung ketawa2. KETAWA!!! KETAWA!!! Gua aja udah merinding setengah mati. Tuh anak bandel amat keluar2 dari lukisan.. trus gua nanya lagi sama dia.

“Anaknya putih apa item?” buat memperjelas, kalo kulitnya item kan berarti pribumi n itu asli tuyul, tapi kalo putih, berarti emank orang china n itu anak ajaib.

“Putih, orang mirip2 yong min gitu”

Good!! Jadi tuh lukisan bener2 hidup n bisa keluar. Jujur KEREN ABIS tapi tetep gua merinding. N parahnya gua jadi penasaran. Jadi tiap malem gua keluar sendirian biar bisa ngeliat tuh penampakan. Gak tau, tuh lukisan kok ga pernah hidup2 lgi. Emank sih sekarnag udah dipasang di atas patung dewa. Jadi mungkin kemaren dia protes n iseng doank.

Tapi tetep keren lah.