Gue dulu sekali berfikir masuk UI alias Universitas Indonesia itu segalanya, sebuah pencapaian yang bergengsi untuk diraih. Sesuatu yang gue jadikan ambisi abstrak. Denger UI aja bikin gue merinding, setiap kenal sama orang yang di UI gue pasti langsung nyamber kayak petir. Kebetulan, dulu ada seorang cowok yang ternyata baca blog gue dan message di facebook. Ternyata dia anak UI bertanya banyak lah gue ke dia. Menyenangkannya lagi, kita punya kesamaan. Gue Chinese, dia Chinese. Tapi gue lupa apa dia hokum atau jurusan lain.
Dia bilang masuk ui itu ga susah, sekalipun gue china. Menyenangkan sih dengernya. Tapi hari demi hari berlalu, gue semakin melenceng. Maksud gue, dari mana sih bergengsinya UI, memang universitas itu terkenal. Lalu apa? Apa jebolan yang lain gak keren? UPH? UPH itu punya biaya kuliah setinggi langit ke tujuh, kecuali lo dapet beasiswa. Lalu kemarin, seorang alumni sekolah gue yang masuk hukum ke singapur, untuk ikut court gitu. Well, gue rasa UPH pun bahkan sangatlah bonavit dan super bergengsi.
Mendukung moto gue yang sekarang. “Sekolah itu penting, tapi bukan yang terpenting.” Membuat gue berpikir ulang mengenai keputusan-keputusan gue hendak mempertahankan UI atau enggak. Satu UI itu jauh di depok. Gue gay akin bokap ngasih. Dua. Masuk UI itu akan membuat gue merasa asing dan tidak di rumah, karena kalangannya akan jauh berbeda dari comfort zone gue yagn sekarang. Gimanapun, untuk meraih sesuatu kita emang harus keluar dari zona nyaman memang.
Ngomong-ngomong UI, salah seorang temen gue udah berhasil lolos ke sana dengan menyandang predikat anak psikologi. KEREN GAK SIH? Buat gue sih keren banget, gue memang tau orang ini pantas mendapatkan itu, gue sendiri juga tau tingkat kepintaran dia, oh ya bayangin aja waktu pemilihan jurusan, pilihan dia berkisar antara, geografi, dan ilmu-ilmu ipa yang ga umum seputarnya. Mendengar kabar teman gue ini memberikan euphoria tersendiri buat gue. Ya seneng kalo teman lo seneng.
Jadi masalah penjurusan kali ini, gue ga mau stuck dengan pilihan yang terlalu idealis. Masih banyak pilihan lain yang patut gue sorotin. Gak Cuma UI, ataupun hukum. Maksud gue, hati gue masih ke hukum dan akan ngambil hukum membayangkan gue jadi pengacara sukses cukup bikin merinding sih. Tapi gue pikir strategi jadi pebisnis yang punya banyak duit lalu beralih ke hukum juga bukan ide jelek. Kan? Punya duit, punya power. Kalo punya power, semua tunduk, jalanpun semulus aspal jalan tol.
Betewe, agak ga nyambung dengan pembuka yang di atas. Adalagi seorang “kenalan” gue yang juga jebol ke UI tahun ini dan masuk sastra cina. well, gue gak tau ya apa itu jurusan itu cukup keren atau enggak, yang jelas sih temen gue ngomong begini.
“Lo kalo mau di UI, ambil sastra jawa aja tuh passing grade nya rendah.” huuhh??
Dan ternyata menurut informasi temen gue yang psikolog itu, sastra jawa emang passing grade paling rendah. Oke, gue mulai memaklumi hal itu karena pasti si orang ini begitu senangnya dapet jabatan jadi anak UI. Dan menurut penilaian gue, UI itu memang seperti sesuatu yang dia inginkan banget, jadi begitu dia ngeraih, ya tanpa sadar mungkin kata-kata yang menunjukan bahwa dia begitu hebat akan tanpa sadar keluar. Minimal, kata-kata dia itu yang membuat gue berpikir ulang tentang UI. Jadi kita ambil beberapa sisi positifnya yang setelah gue pikirkan berulang kali, kata-kata dia cukup memberi banyak masukan.
Satu, tentu aja gue gak menyangka kata itu maknanya gue bodoh dang a sepinter dia untuk ngambil passing grade yang setara dari dia. Jadi gue mengambil sisi positif, semua orang yang berhasil sedikit banyak akan jadi bersemangat banget dan ujung-ujungnya jadi songong. Itu jadi satu cerminan buat gue, bahwa gue harus tetap mengontrol diri gue saat sudah ataupun akan meraih kesusksesan. Gue sendiri pun mulai curiga, jangan-jangan gue pernah menjadi seperti dia dan bikin jijik teman gue yang jadi korban mulut songong gue. Sepertinya gue harus survey kembali sifat jelek gue.
Dua, orang seperti ini menjadi pengalaman. Semakin gue banyak bergaul, gue akan ketemu banyak sekali orang-orang yang mengeluarkan kata-kata seperti ini. Ya. Kalo kata nyokap gue sih orang jenis begini memang lagi banyak-banyaknya, mungkin bisa kita analogikan sama OKB (orang kaya baru) dan konglomerat. Well, gak perlu gue jelasin donk bedanya dua jenis itu apa? Coba tilik sendiri perbedaan sikap dua golongan itu.
Tiga, biar bagaimanapun, ada seorang temen nci gue yang juga kayak gini, tapi toh orang itu memiliki sikap yang baik dan santun. Dan sampe sekarang dia masih tetap lekat sama enci gue karena baiknya itu. anyway, gue belajar menjadi objektif dan optimis. Satu perkembangan yang baik banget loh.
Empat, ini dia. Terlalu bangga dengan UI melebihi apapun membuat dia menjadi senang bukan main. Itu hal yang bagus karena gue ikut senang dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi sekali lagi, elo bangga karena masuk UI lalu apa? Selain kebanggaan lo mengumumkan ke orang-orang “Gue lulusan UI” tapi selama gak ada tindakan nyata dari lo setelah keluarnya untuk meraih sukses yang selanjutnya, hmmnn.. gak ada artinya gue rasa. Berhasil atau enggak, ga ditentukan oleh jebolan mana elo, atau bahkan prestasi akademis lo selama hidup. Kecuali, otak karyawan. Ya ga heran, perusahaan sekarang nyarinya title dan ijazah. Lagian, gue gak bercita-cita jadi kuli orang kok.
Pilihan sekarang itu tergantung ke gue. Tapi gue lagi berfikir untuk masuk YEA (young enterpreuneur academy) dan tau gilanya apa? Gue ga akan dapat ijazah ataupun title selembarpun setelah mengeluarkan uang belasan juta. Tapi sebaliknya, dengan sistem pendidikan yang mengutamakan praktek, di jamin setelah keluar dari san ague akan menjadi pengusaha muda. Well, patut dipertimbangkan deh. berhubung enci gue pun juga nafsu masukin gue ke sana.
Hukum dan UI tetap lekat di otak gue sih. Gue masih belom lupa dengan keinginan gue untuk membuktikan ke bokap gue, masuk UI itu bukan kayak pungguk merindukan bulan. Ya sebutan apapun itu lah. Dan seandainya gue gagal. Masih ada tahun-tahun selanjutnya untuk mencoba toh..