Minggu, 22 Mei 2011

Well, UI Maupun Bukan...


Gue dulu sekali berfikir masuk UI alias Universitas Indonesia itu segalanya, sebuah pencapaian yang bergengsi untuk diraih. Sesuatu yang gue jadikan ambisi abstrak. Denger UI aja bikin gue merinding, setiap kenal sama orang yang di UI gue pasti langsung nyamber kayak petir. Kebetulan, dulu ada seorang cowok yang ternyata baca blog gue dan message di facebook. Ternyata dia anak UI bertanya banyak lah gue ke dia. Menyenangkannya lagi, kita punya kesamaan. Gue Chinese, dia Chinese. Tapi gue lupa apa dia hokum atau jurusan lain.



Dia bilang masuk ui itu ga susah, sekalipun gue china. Menyenangkan sih dengernya. Tapi hari demi hari berlalu, gue semakin melenceng. Maksud gue, dari mana sih bergengsinya UI, memang universitas itu terkenal. Lalu apa? Apa jebolan yang lain gak keren? UPH? UPH itu punya biaya kuliah setinggi langit ke tujuh, kecuali lo dapet beasiswa. Lalu kemarin, seorang alumni sekolah gue yang masuk hukum ke singapur, untuk ikut court gitu. Well, gue rasa UPH pun bahkan sangatlah bonavit dan super bergengsi.

Mendukung moto gue yang sekarang. “Sekolah itu penting, tapi bukan yang terpenting.” Membuat gue berpikir ulang mengenai keputusan-keputusan gue hendak mempertahankan UI atau enggak. Satu UI itu jauh di depok. Gue gay akin bokap ngasih. Dua. Masuk UI itu akan membuat gue merasa asing dan tidak di rumah, karena kalangannya akan jauh berbeda dari comfort zone gue yagn sekarang. Gimanapun, untuk meraih sesuatu kita emang harus keluar dari zona nyaman memang.

Ngomong-ngomong UI, salah seorang temen gue udah berhasil lolos ke sana dengan menyandang predikat anak psikologi. KEREN GAK SIH? Buat gue sih keren banget, gue memang tau orang ini pantas mendapatkan itu, gue sendiri juga tau tingkat kepintaran dia, oh ya bayangin aja waktu pemilihan jurusan, pilihan dia berkisar antara, geografi, dan ilmu-ilmu ipa yang ga umum seputarnya. Mendengar kabar teman gue ini memberikan euphoria tersendiri buat gue. Ya seneng kalo teman lo seneng.

Jadi masalah penjurusan kali ini, gue ga mau stuck dengan pilihan yang terlalu idealis. Masih banyak pilihan lain yang patut gue sorotin. Gak Cuma UI, ataupun hukum. Maksud gue, hati gue masih ke hukum dan akan ngambil hukum membayangkan gue jadi pengacara sukses cukup bikin merinding sih. Tapi gue pikir strategi jadi pebisnis yang punya banyak duit lalu beralih ke hukum juga bukan ide jelek. Kan? Punya duit, punya power. Kalo punya power, semua tunduk, jalanpun semulus aspal jalan tol.

Betewe, agak ga nyambung dengan pembuka yang di atas. Adalagi seorang “kenalan” gue yang juga jebol ke UI tahun ini dan masuk sastra cina. well, gue gak tau ya apa itu jurusan itu cukup keren atau enggak, yang jelas sih temen gue ngomong begini.

“Lo kalo mau di UI, ambil sastra jawa aja tuh passing grade nya rendah.” huuhh??

Dan ternyata menurut informasi temen gue yang psikolog itu, sastra jawa emang passing grade paling rendah. Oke, gue mulai memaklumi hal itu karena pasti si orang ini begitu senangnya dapet jabatan jadi anak UI. Dan menurut penilaian gue, UI itu memang seperti sesuatu yang dia inginkan banget, jadi begitu dia ngeraih, ya tanpa sadar mungkin kata-kata yang menunjukan bahwa dia begitu hebat akan tanpa sadar keluar. Minimal, kata-kata dia itu yang membuat gue berpikir ulang tentang UI. Jadi kita ambil beberapa sisi positifnya yang setelah gue pikirkan berulang kali, kata-kata dia cukup memberi banyak masukan.

Satu, tentu aja gue gak menyangka kata itu maknanya gue bodoh dang a sepinter dia untuk ngambil passing grade yang setara dari dia. Jadi gue mengambil sisi positif, semua orang yang berhasil sedikit banyak akan jadi bersemangat banget dan ujung-ujungnya jadi songong. Itu jadi satu cerminan buat gue, bahwa gue harus tetap mengontrol diri gue saat sudah ataupun akan meraih kesusksesan. Gue sendiri pun mulai curiga, jangan-jangan gue pernah menjadi seperti dia dan bikin jijik teman gue yang jadi korban mulut songong gue. Sepertinya gue harus survey kembali sifat jelek gue.

Dua, orang seperti ini menjadi pengalaman. Semakin gue banyak bergaul, gue akan ketemu banyak sekali orang-orang yang mengeluarkan kata-kata seperti ini. Ya. Kalo kata nyokap gue sih orang jenis begini memang lagi banyak-banyaknya, mungkin bisa kita analogikan sama OKB (orang kaya baru) dan konglomerat. Well, gak perlu gue jelasin donk bedanya dua jenis itu apa? Coba tilik sendiri perbedaan sikap dua golongan itu.

Tiga, biar bagaimanapun, ada seorang temen nci gue yang juga kayak gini, tapi toh orang itu memiliki sikap yang baik dan santun. Dan sampe sekarang dia masih tetap lekat sama enci gue karena baiknya itu. anyway, gue belajar menjadi objektif dan optimis. Satu perkembangan yang baik banget loh.

Empat, ini dia. Terlalu bangga dengan UI melebihi apapun membuat dia menjadi senang bukan main. Itu hal yang bagus karena gue ikut senang dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi sekali lagi, elo bangga karena masuk UI lalu apa? Selain kebanggaan lo mengumumkan ke orang-orang “Gue lulusan UI” tapi selama gak ada tindakan nyata dari lo setelah keluarnya untuk meraih sukses yang selanjutnya, hmmnn.. gak ada artinya gue rasa. Berhasil atau enggak, ga ditentukan oleh jebolan mana elo, atau bahkan prestasi akademis lo selama hidup. Kecuali, otak karyawan. Ya ga heran, perusahaan sekarang nyarinya title dan ijazah. Lagian, gue gak bercita-cita jadi kuli orang kok.

Pilihan sekarang itu tergantung ke gue. Tapi gue lagi berfikir untuk masuk YEA (young enterpreuneur academy) dan tau gilanya apa? Gue ga akan dapat ijazah ataupun title selembarpun setelah mengeluarkan uang belasan juta. Tapi sebaliknya, dengan sistem pendidikan yang mengutamakan praktek, di jamin setelah keluar dari san ague akan menjadi pengusaha muda. Well, patut dipertimbangkan deh. berhubung enci gue pun juga nafsu masukin gue ke sana.

Hukum dan UI tetap lekat di otak gue sih. Gue masih belom lupa dengan keinginan gue untuk membuktikan ke bokap gue, masuk UI itu bukan kayak pungguk merindukan bulan. Ya sebutan apapun itu lah. Dan seandainya gue gagal. Masih ada tahun-tahun selanjutnya untuk mencoba toh..

Senin, 16 Mei 2011

Anak IPS Juga Pengen Buka Suara


Surat CINTA Anak IPA

Archimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet
yang berinduksi di antara kita
Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2
Ah tak sebanding dengan momen cintaku



Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku
Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa
maksimum

Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa
Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…

Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat
aphelium
Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku
Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih
Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak
terbatas

Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi
Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan
gaya
Energi kinetik cintaku = -mv~
Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi
hukum kekekalan di antara kita

Lihat hukum cinta kita
Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang
sempurna
Dengan inersia tak terhingga
Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya

Inilah resultan momentum cinta kita…

Surat CINTA Anak IPS

Dengan hormat,
Hal : Penawaran Kesepakatan

Saya sangat gembira memberitahukan Anda bahwa saya
telah jatuh cinta kepada Anda terhitung tanggal 17
April 2003.

Berdasarkan rapat keluarga kami tanggal 15 Mei lalu
pukul 19.00 WIB, saya berketetapan hati untuk
menawarkan diri sebagai kekasih Anda yang prospektif.

Hubungan cinta kita akan menjalin masa percobaan
minimal 3 bulan sebelum memasuki tahap permanen.

Tentu saja, setelah masa percobaan usai, akan diadakan
terlebih dahulu on the job training secara intensif
dan
berkelanjutan. Dan kemu dian , setiap tiga bulan
selanjutnya akan diadakan juga evaluasi performa kerja
yang bisa menuju pada pemberian kenaikan status dari
kekasih menjadi pasangan hidup.

Biaya yang dikeluarkan untuk kerumah makan dan
shooping akan dibagi 2 sama rata antara kedua belah
pihak. Selanjutnya didasarkan pada performa dan
kinerja Anda, tidak tertutup kemungkinan bahwa saya
akan menanggung bagian yang lebih besar pengeluaran
total.

Akan tetapi, saya cukup bijaksana dan mampu menilai,
jumlah dan bentuk pengeluaran yang Anda keluarkan
nantinya.

Saya dengan segala kerendahan hati meminta Anda untuk
menjawab penawaran ini dalam waktu 30 hari
terhitung tanggal penerimaan surat . Lewat dari tanggal
tersebut, penawaran ini akan dibatalkan tanpa
pemberitahuan lebih lanjut, dan tentu saja saya akan
beralih dan mempertimbangkan kandidat lain.

Saya akan sangat berterimah kasih apabila Anda
berkenan untuk meneruskan surat ini kepada adik
perempuan, sepupu bahkan teman dekat anda, apabila
Anda menolak penawaran ini.

Demikian penawaran yang dapat saya ajukan dan
sebelumnya terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya,

Bakal calon pasanganmu

Sedikit jokes aja buat mengisi tulisan gue kali ini mengenai nikmatnya menjadi anak IPS yang kompak dan sehati. Membandingkan kekompakan IPA dan IPS tentu aja gue bakal mengacungi jempol untuk para anak IPA, ga seperti kata orang kebanyakan IPA itu kompetitif dan saling menjatuhkan, ya memang ada beberapa yang gitu, tapi so far gue liat mereka baik-baik aja dan solid banget. karena kebetulan, kita pernah sebis dan kelas gue merantau ke kelas ipa.

Dan jangan ditanya seberapa ngantuknya gue setiap hari, persis sesuai dugaan, gue bertemu pelajaran-pelajaran antik seperti ekonomi dan akuntansi dengan guru yang antic pula. Ternyata guru-guru ips itu seperti namanya ilmu sosial suka banget bersosialisasi, saking sukanya gue sampe suka melongo sampe ngeces dengerin mereka-mereka itu bersosialisasi secara satu arah, apalagi guru akuntansi gue yang suka banget ngoceh tapi gak ada yang dengerin.

Minimal, mendulang kesuksesan-kesuksesan anak IPS terdahulu yang katanya kreatif-kreatif itu, kita membuat beberapa grup gaul, dan ternyata lumayan beken di kalangan temen seangkatan, macam NASA, SWAT, atau LAPD. Yah setidaknya kita menang dalam hal ini, setelah kalah dalam seluruh pelajaran umum yang juga di pelajari mereka, seperti tugas presentasi, membuat mind map, bahkan main music ya.. kelas IPA selalu unggul.

“Di IPA gampang tuh gue..” kata seorang anak IPA yang najis bin songong, lalu ga lama kemudian gue ketawain abis-abisan.

“Besok jalan yuk?”

“Gak bisa! Musti bikin peer biologi gue.”

“Jah, kata lo IPA enak.”

Lagi chat MSN

“Aduh mati gue, besok ada kuis Kimia lagi, belajar dulu ya..”

Huhh???

Anak IPA, biar sesombong apapun mereka sesumbar, tetap aja semua orang tau, pelajaran membludak seperti itu akan membuat mereka bekerja dua bahkan tiga kali lipat lebih keras daripada kita anak IPS. Anak IPA tentu aja bukan produk kacrut yang culun dan gak bisa bergaul, justru gue pikir mereka jauh lebih keren daripada anak-anak IPS. Hanya aja kita punya jauh lebih banyak waktu luang untuk bersantai dan hangout, gue sendiri malah udah gak pernah hangout segala macem, dengan pertimbangan boros dan buang waktu.

Karena terkenal dengan kelas pembuat masalah dan juga sempat membuat guru matematika gue membanting seperangkat meja beserta dua kursinya, kelas gue menjadi semakin solid. Minimal, belasan tahun gue sekolah, ini pertama kalinya gue merasa kelas gue solid, kompak, dan mencetak sejarah di hati guru-guru. Sesuatu yang patut di banggakan ya sepertinya? Untuk mendukung itu, teman gue membuat grup di facebook untuk berbagi pikiran ataupun info seputar kelas gue. Well, good.

Akhir kata, hidup XI-SI!!

Selasa, 03 Mei 2011

NARDI IRAMA (Cekidot!!)


Briptu Norman yang sedang booming di kalangan masyarakat Indonesia berkat  video unggahannya di youtube lipsing adegan chaiya chaiya itu. *eeeuuuwww* gue rasa inilah yang menginspirasi para orang-orang yang hendak berbagi talenta tersembunyinya lewat situs youtube ini.



Nah, ini juga di anggap satu peluang oleh seorang OB di sekolah gue yang gak gue sangka2 punya talenta berekspresi dan bermain gitar. Si Mas Nardi itu membagikan selebaran untuk murid dan guru-guru, sehingga gue dengan hebohnya tereak-tereak di kelas membantu mempromosikan. Begini isi selebarannya

TELAH HADIR SEORANG BIDUAN MUDA
NARDI IRAMA!!
SAKSIKAN VIDEONYA DI SINI
http://www.youtube.com/watch?v=1Ik5uCGkXQQ

Untuk membantu publisitasnya, maka gue bagikan di sini juga. Check it out.. jenggotnya boookkkk ENGGAK NAHAANNN!!!

Sabtu, 23 April 2011

Promosi Promosi!!!!!

Guys, jika kamu-kamu sedang bosan dan bingung mau ngapain, silahkeeeeuuuunnn dibuka

http://www.4shared.com/file/pbtWFAvF/Mau_Dibawa_Kemana__Guitar_Vers.html

itu rekaman amatir suara gue aja sih, ceritanya gue nyanyi lagu mau di bawa kemana pake gitar. sekedar berbagi, kalau berkesan, silahkan ngasih pendapat..

ciaoooooo

Senin, 18 April 2011

Be Different


Pengucilan atau penggencetan memang gak pernah terjadi di sekolah gue yang terlihat damai dan berkelas ini. Tentu aja, sebagai siswa masa iya kita berperilaku layaknya orang ga berpendidikan macam itu? menggencet? Mengucilkan?? Memang. Tapi kalau di abaikan? Di buat lelucon? Menjadi sorotan di setiap gerak-geriknya? Tentu aja bukan dalam artian positif, jadi sorotan sebagai bahan gurauan.



Sepertinya gue pernah berada di dalam posisi itu. dan kemarin itu gue mempraktekan satu hal. Jadilah oposisi mereka kalau gak mau jadi seperti mereka. Jadilah oposisi dari para freakers itu kalau gak mau dianggap freakers. Jadilah orang yang memojokan mereka, kalau ga mau dipojokan. Yeah, di sekolah gue.. minimal.. di lingkungan anak SMA hal-hal semacam itu ternyata masih ada. Orang-orang nyentrik dengan cirri khas dan cara berpikir yang dianggap “aneh” dan tidak sama oleh kita-kita, akan dijadikan bahan lelucon untuk hiburan di penghujung sore sambil menertawakan mereka dengan begitu serunya.

Sedikit catatan. BAHKAN SAAT ORANG ITU BERADA DI SEKITAR KITA DAN KEMUNGKINAN BESAR DIA MENDENGAR SEMUA LELUCONNYA!

“Biarin aja! Biarin dia duduk sendirian!!!” kata gue waktu itu di satu tempat yang suka ditongkrongin abege alay sambil ketawa seolah-olah itu hal yang lucu. Dan begitu juga dengan tiga temen gue yang lain ikut ketawa.

“Kasian kali, Mar.” well.. jantung gue serasa mau copot, waktu seorang temen cowok gue menegur gue seperti itu. *selain dari 3 orang lain yang ketawa tadi* “Gak usah segitunya juga…”

Gue lalu mengamati tiga orang yang tertawa bersama-sama gue tadi. Mereka memang bukan orang nyentrik, mereka anak gaul. Popular, temennya banyak, sering hangout, yang satu tajir dan bawa mobil kemana-mana, yang satu cantik, dan yang satu lagi supel. Tapi mereka punya cara berpikir yang begitu mengerikan. Menusuk satu sama lain, menyindir satu sama lain, munafik, memberikan tatapan sinis kalau ada yang dibuat malu. Sejak kapan gue menjadi sama seperti mereka? Gue bukan siapa-siapa, enggak cantik, enggak tajir, enggak supel. Minimal, gue orang yang terlalu sombong. Gue sombong meskipun gue bukan siapa-siapa. Gue merasa gaul akhir-akhir ini, sok populer. Padahal menggenaskannya, gue hanya nemplok sama mereka.

gue lupa dengan misi gue.. “bergaul dengan orang sebanyak-banyaknya..” tentu aja, niat gue di sini. Bergaul gak berarti, berteman, menjadi sama, dan ikut gaya pergaulan mereka? Sudah melenceng dari garis yang benar sepertinya. Orang-orang seperti itu tentu gak bisa diharapkan banyak hal, kecuali memang ada sesuatu yang bisa gue manfaatkan dari mereka. Seperti, teman jalan *kalo gue lagi punya duit dan waktu*, gak banyak hal positif yang jadi bahan omongan kita-kita selain ngegosipin kejelekan orang lain, dan mencibir di saat bersamaan. Gue udah gak berbeda dari dunia, dari kebanyakan orang.

Bahkan di waktu SMA pun gue bisa melihat sisi buruk orang-orang ini. Membuat gue semakin aware dalam mencari teman. Sekaligus juga membuat gue berpikir tentang sisi buruk gue yang kayaknya gak ada habisnya ini meskipun berkali-kali diperbaiki sih. Mematahkan teori gue bahwa teori “tidak ada yang sempurna” itu Cuma sugesti, sebetulnya manusia bisa sempurna. Tapi karna ada teori itu, kita jadi percaya kalo kita gak bisa sempurna.

Yaudahlah, daripada capek-capek mikir. Intinya harapan gue kali ini. Gue kepingin jadi orang yang berbeda dari pada abege lain. Punya cara pandang untuk kedepan, dan memiliki rasa simpati yang besar.

Rabu, 06 April 2011

Masih Jaman Aja Jadi Kafir..


Merasa gak sih hari-hari ini Jakarta nambah panas dan panas aja?? Gue pikir ini hanya perasaan gue semata, sampe si Jenny ngomong.. ‘Ini gara-gara gue yang sakit darah dingin, apa emang cuacanya seharian panas banget ya??’ errr, kelihatannya sihh. Jakarta sedang terpanggang sekarang. Begitu juga si cete yang memang kebetulan dua hari yang lalu sedang sakit.. “Kayaknya sakit gue parah banget nih, badan gue sampe kepanasan keringetan gini.” Errrr kayaknya emang panas buanget deh.



Jangankan mereka yang badannya mungil-mungil, gue yang gede begini aja serasa oksigennya terserap habis, pengap! Keringetan, dan tak berdaya. Enci gue pun juga bilang kemarin, cuaca akhir-akhir ini semakin parah. Itulah, fenomena ini yang memancing gue untuk membahas mengenai bumi dan kiamat. Seperti satu quotes yang pernah gue bagikan sewaktu presentasi, “The only thing, human have in common, is earth.” Well, gimana jadinya kalo bumi kita terbombardir oleh hujan meteor ataupun sinar ultraviolet?

Gak kebayang. Tapi gue gak pengen lagi membahas soal proses ilmiah tentang terjadinya kiamat bla  bla  bla.. terlalu membosankan, gue punya hal yang lebih menarik lagi *setidaknya buat gue*. Kisah ini mungkin udah ada beberapa di antara kalian yang denger, tapi cici dari teman gue tercinta si juvendi itu mengalami satu mimpi yang aneh. Mimpi yang di ceritakan ulang oleh si juvendi meskipun pake “emmh, emmh, gue lupa nih ya. Tapi gue cerita garis besarnya aja ya..” dan itu diucapkan kurang lebih 5 kali oleh dia. Errr, berhubung gue belom mendapat cerita lengkapnya, menyusul ya.

Anyway, gue inget banget gimana dulu, gue bukan tipikal orang yang percaya Tuhan. Ngomong-ngomong, gue bahkan sempet membuat pernyataan semacam ini “Tuhan itu mungkin Cuma karang-karangan yang di buat manusia supaya kita merasa punya pegangan dan keyakinan aja. Cuma sugesti, Tuhan itu gak ada. Cuma permainan yang dibuat pikiran manusia..” dan jangan Tanya seberapa sering gue bertanya “Dinosaurus apa Adam duluan sih yang muncul? Gak jelas banget.” Atau “Jadi Tuhan tuh tiga apa satu???” pokoknya pertanyaan2 skeptis dan sok logis itu ibarat udah jadi menu sehari-hari di pikiran gue deh.

Gue hobi banget, hobi debat sama orang Kristen dan memojokan Tuhan maupun si Kristen itu sendiri, dengan segala pandangan-pandangan gue yang sinis. Dan setiap kali tante gue nyuruh ke gereja, gue bakal memberi pertanyaan2 sok logis itu sampe dia mati kutu dan akhirnya pertanyaan terakhir gue.. “Buat apa ke gereja?” well, gua SEKIA banget. Sekia=childish

Hingga, gue dateng dan mengikuti komunitas orang-orang katolik. Gue suka di sini, mereka semua terbuka dan ramah. Pokoknya gue merasa seperti di rumah gue sendiri lah. Padahal sebelumnya gue selalu alergi di gereja, ibarat kayak ada kutu yang di tempel di bawah kulit gue. Dari sini gue baru belajar banyak tentang memuji Tuhan, karena kebetulan gue tiba-tiba jadi aktivis pemusik di sana. Gue punya banyak pertanyaan untuk si koko gereja, karena kebetulan dia juga ngalamin masa-masa gamang kayak gue.

“Tuhan itu dari mana sih? Tiga apa satu?” dan tiba-tiba dia cerita sama gue tentang kisah seorang anak bernama Santo. *err kyaknya udah gue ceritain di blog lalu. Yaudah deh cerita lagi*

Si anak bernama Santo ini tipikal bocah pintar yang penuh rasa ingin tahu, dan suatu hari dia mempertanyakan mengenai keberadaan Tuhan. Dia beli semua buku yang dia liat berhubungan sama hal itu, dan dia cari. Tapi bertahun-tahun dia nyari, dia gak pernah ketemu jawabannya. Hingga satu hari, dia jalan-jalan di pantai. Dia liat seorang bocah kecil yang gali pasir hingga membentuk satu lubang, lalu dia ambil ember dan dia ngisi lubang itu pake air laut. Terus-terus, hingga si Santo penasaran lalu nanya.

“Kamu ngapain mindahin air laut ke dalam sini?” dan ternyata si anak itu pengen mindahin air laut ke dalam lubang kecil itu. kemudian Santo baru berpikir, gimana mungkin, semesta yang sebesar ini di jejalkan ke otak dia yan gkecil? Seperti gue, yang mungkin nyerna teori fisika pun gue harus jambak rambut sampe botak?? Gimana mungkin gue mau mempelajari seluruh isi dunia?? Dan senior gue memang pernah bilang … “Tuhan jauh lebih jenius dari pada lo..” perlahan-lahan gue sih baru mulai mengendurkan hati dan membuka pikiran. Jadi gue gak mau ngebahas banyak soal Tuhan blab la bla, gue bukan orang yang sereligius itu. intinya satu, gue percaya. Dan semua langkah kehidupan gue itu sudah ada jalannya. Yang pasti itu yang terbaik.

Yang membuat gue geli, gue menemukan duplikat gue yang dulu baru-baru ini. Orang yang skeptic dan sinis. Man. Gue tau gimana rasanya jadi orang yang begitu, dan debat bukan satu solusi. Tapi gue juga gak memegang teguh “Persepsi kita beda, buat apa di perdebatin? Mungkin buat dia itu bener, dan gue harus bisa maklumin.” Karena tetep menurut persepsi gue pendapat-pendapat dia dan gue yang dulu itu kurang tepat, dan bukan satu hal yang bisa maklumin. Cuma seperti gue juga, selalu ada hal yang bisa merubah persepsi dan pemikiran orang lain, gue pikir pemaksaan dan tindak anarkis bukan satu cara yang baik untuk di praktekan. Makanya gue suka mendadak sebel kalo bokap gue dipaksa masuk ke agama oknum yang suka memaksa itu.

Mungkin si senior, temannya, dan teman gue yang lain itu orang-orang yang dikirim Tuhan untuk merubah gue. Well. Mungkin banget.

Ngomongin soal kiamat *berhubung paragraph pertama gue soal itu* gue percaya kiamat itu ada, dan seperti gue pernah ngomong dulu banget. silahkan anda datang. Bukannya memang itu pasti ada? Manusia hidup ada matinya. Mobil baru ada rusaknya. Kenapa bumi enggak??

Pasti gue kesurupan karena gue nulis ini jam sebelas malam, dan mat ague udah redup2 lima watt gimana gitu..