Minggu, 27 Maret 2016

Review: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children - Ransom Riggs (2011)

I think I have to, must, write my opinion about this book here. Ada dua alasan, karena satu it left an uneasy feeling inside me after I’ve done. Dua, sebenernya karena alasan pertama aja, sih, tapi mungkin disebabkan karena open ending di halaman terakhir. Bukan titik, bukan akhir kisah. Semacam rasa gusar tapi bikin lo senyum lalu menutup cerita dengan rasa tidak ikhlas karena kisah karakternya harus berakhir. Anyway, gue menghabiskan buku ini dengan lantunan lagu dari playlist Billie Holiday, baru sadar that she’s an awesome singer. Baru sadar juga gue ada playlistnya bersandingan sama Frank Sinatra. (My favourite, Solitude and Just The Way You Look Tonight).

Kamis, 24 Maret 2016

Magang dan Skripsi

Jadi, I got into Colliers International, another property consultant company. Sebagai anak magang, not a big deal actually setelah dijalankan. But it’s fun untuk nambah pengalaman dan pengetahuan tentang suasana kerja, plus dapet ilmu tambahan di bidang Facility Management. Mumpung lagi skripsi, statusnya masih bisa magang dimana-mana tanpa ikatan, dan bisa sambil nyari passion yang sesungguhnya.

Jumat, 11 Maret 2016

Wang, CV, dan Office Kesayangan

*Seolah ada yang peduli sama hidup gue*

Anyway, many things happen lately. And I thank the universe for that, because what is life if there’s nothing change, right? Pertama, adalah kemaren laptop gue rusak entah keinjek siapa. Emang dasar kampret, but I still love Wang, because he is my first laptop dan gue belom ada duit buat ganti juga. Jadi kerusakan Wang kemarin cukup mengagetkan karena layarnya retak. Lalu gue udah deg-degan bakal ditipu sama abang-abang harko dan abis sejuta buat ganti layarnya ini.

Sabtu, 20 Februari 2016

Please. Stop Your "Kepo-ness"

Momen: PMS

Ini konten bakal isinya gue nyampah dan marah-marah maksudnya.

Gue ga ngerti sama manusia-manusia di sekitar gue akhir-akhir ini. Gue rasa ini faktor PMS juga. Tapi anjir ya mengganggu banget. Kaya iritasi di vagina, insignifikan tapi bikin ga nyaman.

Kamis, 11 Februari 2016

Effortless Love

Setting: di akang tawakal sendirian makan indomie goreng kornet karena gue terlalu males untuk ke kamar si Mitha yang ada di lantai 4. Subahanallah tangganya banyak banget.

Nowadays, love has became effortless. Teknologi mengaburkan batas dan usaha yang dulu bikin hubungan jadi spesial. Ini hipotesis bego orang ga berpengalaman kaya gue. So you can take it as a bullshit.

Selasa, 09 Februari 2016

Why Chivalry is Dead

If any of you who read this, know who Trevor Wesley is, then blessed your world. Dan anjir gue benci banget karena baru tau dia dari youtube beberapa jam lalu from one of his song Chivalry is Dead. His songs are really my muse.

Lalu gue download lagu-lagu lainnya. Dan favorit gue selain lagu tadi adalah Why. Dengan lantunan gitar dan piano. Geez, nothing can light up my mood better than this.

Trevor, you came into my life right in time I need you.

Anyway, satu lagi lagu favorit gue dari dia, Out on The Town. If you like an easy listening, soul-ish kind of song, then you might like it too. Give em a try, and you'll fall in love just like me.

Salam roti!

P.s. I might not be an ideal, outgoing, easy, person to hangout with. But I can be anything if you need me to. Things are getting weird, but I have Trevor tonight. So whatever.

Selasa, 19 Januari 2016

Malena

"Time has passed and I have loved many women. And as they've held me close and asked if I will remember them, I believed in my heart that I would. But the only one I've never forgotten is the one who never asked ... Malena" - Malena (2000)

My most favourite sentence from Renato, the main character of the movie, though I really hate him for being such a coward. Never even spoke about his obsession toward Malena. Like at all? Stand still and  being passive when Malena was beaten up by the whole town? I know he is 12, and Malena is a 27 years old widow. But still.  He was a boy, soon to be a man. He should have done something more "significant" to protect her than throwing stones to windows, right? Duuhh. Sebel.

And the only time this boy ever spoke to Malena was just once. At the ending part of the movie. Kesel ga sih, lo. Nonton segitu panjang interaksinya cuma sekali. Pas akhir pula. Ish.

Minggu, 17 Januari 2016

Review: Tribute to Adinia Wirasti

Caca selalu bilang sama gue bahwa ada dua kriteria penting untuk define apakah sebuah film itu bagus  atau enggak: 1. Script. 2. Jalan cerita. Gue bilang, gue ga percaya. Karena menurut gue apa yang membedakan film dan buku adalah visualisasi itu sendiri. Itu kenapa efek visual dan teknik cinematografi penting. “Iya, tapi sekeren apapun visualnya, kalo jalan ceritanya pada dasarnya emang jelek, film itu bakal jelek kan? Cinematografi itu Cuma masalah teknologi, Mar.”

Jumat, 15 Januari 2016

Them

Menurut gue setiap orang punya kriteria masing-masing untuk menentukan siapa teman yang baik buat mereka. Meski menurut gue kriteria teman yang baik secara umum pada dasarnya sama aja. That shit about “always be there for your friend when they need you” while i have to admit that its true, i dont think its 100% accurate. Kita kan manusia bukan power ranger, how could we. Even untuk keluarga sendiri kita belum tentu bisa.