Minggu, 23 November 2014

Extrovert (Implicitly Introvert)

Tadi baru ngestalk twitter salah satu penulis idola gue, she’s an introvert. Setelah gue pikir-pikir lagi, selama gue menjalani masa SMA, bahkan sampai kuliah ini. Gue selalu merasa lebih nyaman dan aman ketika berbicara dengan seorang introvert. Contohnya Fan-Fan, gue selalu ngerasa lebih nyaman dan aman ketika ngobrol sama dia.

Beda ketika gue becanda dan riuh-riuh sama teman-teman ekstrovert gue. Seru, tapi nggak aman. Ini bukan menstereoptipkan tipe-tipe orang berdasarkan kategori gue (misalnya introvert lebih bisa dipercaya, daripada mereka yang ekstrovert), bukan. Itu Cuma perasaan yang gue dapet gitu aja.

Plus, biasanya mereka yang lebih banyak mendengar , pemikirannya biasa lebih relevan dan logis. Gue suka ngedengerin persepsi mereka yang anomali daripada persepsi orang kebanyakan. Karena mereka lebih banyak melihat dan mendengar dibanding berbicara ataupun mengalami langsung. Ngerti maksud gue kan, ya?

Intinya gue ngerasa jadi semakin pintar kalo ngobrol sama mereka-mereka yang introvert. I mean, gue bisa mengerti dari persepsi yang berbeda. I’m a good listener ketika dibutuhkan, bahkan biasanya teman-teman introvert gue senang curhat ke gue. Itu semacam satu keuntungan sih, hahahaha. Karena selalu ada hal baru yang bisa lo ambil dari orang lain.

Kalo berdasarkan tes Jung and Briggs yang mana nggak akan gue kasih liat di sini, lucu karena tes gue mengalami perubahan sejak semester 4 kemarin gue ngerjain tes ini, dan sekarang. Dulu gue sempat dapet ENTP dan ENTJ pokoknya muter-muter gimanapun selalu dapat dua itu, dan baru-baru ini dapat INFP, dengan tingkat Introversi 11%.

Gue sebetulnya sadar, semakin ke sini gue semakin menikmati waktu sendiri, tapi manusia selalu berubah. Despite nggak ada satu orangpun yang setuju kalo gue introvert, gue selalu merasa, jauh di dalam sana, gue beneran introvert yang lebih suka dunia gue sendiri dibandingkan dunia luar.

Jadi... yaudah sih. Gitu aja.

Pengen banget ngobrol sama si anu2an yang gue ngefans itu.....................................


Salam Roti!

Jumat, 14 November 2014

Teman Imajinasi

Seharusnya gue enggak baca website semacam ini malam-malam. Enggak bukan bokep, kalo bokep mungkin gue nggak akan mengungkapkan penyesalan seperti di kalimat sebelumnya. Maksud gue yaudah sih, nonton bokep asik-asik aja. Masalahnya ini bukan bokep, dan gue sendirian ketika buka website ini.

Rabu, 12 November 2014

Prioritas

*Satu lagi postingan kebanyakan mikir nggak ada aksi*

Ada beberapa hal yang menjadi concern gue akhir-akhir ini. Satu aspek yang penting (tapi nggak sepenting “harus diprioritaskan”) biasanya masalah-masalah kayak gitu yang menyangkut hati. Tapi balik lagi ke masalah prioritas tadi. Kedua adalah hal-hal yang penting dan layak masuk prioritas, tapi nggak benar-benar menjadi sesuatu yang menggelisahkan gue.

Kamis, 06 November 2014

Pelitnya Cuma Stereotip

Hingga detik ini, gue semakin yakin bahwa stereotip lingkungan yang telah membentuk gue jadi sekarang ini. Sepelit dan seperhitungan ini. Pertama, gue cina. Kata orang cina itu pelit dan perhitungan, intinya gitu biarpun belakangan orang juga suka menambahkan, “Tapi itu yang bikin mereka kaya, sih.”. Emang, gue yakin bakal kaya. Tapi tadinya cita-cita gue adalah jadi orang kaya yang nggak pelit. Lagian apa gunanya lo kaya tapi pelit.

Selasa, 28 Oktober 2014

Masokis

Entah gue masokis atau apa, tapi sudah dua hari ini gue beli kopi hitam di kampus. Karena ceritanya di lantai gue ada warung kecil tempat anak-anak jajan gitu. Gue memang hobi beli kopi di sana, baru dua hari ini gue beli kopi, kopinya item nggak pake gula. Sampe si mbaknya nanya mulu berkali-kali, “nih kopi buat siapa, neng?”

Minggu, 26 Oktober 2014

Tugas Itu...

  1. Enggak bisa mengerjakan dirinya sendiri
  2. Kalo bisa ngerjain dirinya sendiri namanya bukan tugas
  3. Salah satu alasan mahasiswa malas bangkit dari tempat tidur setiap pagi
  4. Tapi toh itu kewajiban mahasiswa yang harus dijalankan
  5. Kalau menurut Fardi, anggap aja tugas itu karya kita sendiri. Ketika tugas lo bagus, karya lo bagus, dan sebaliknya.
  6. I know it’s hard. Tugas itu memang berat dengan kondisi dan perspektif masing-masing individu, tapi ketika lo sudah melakukan langkah pertama singkat. Seperti membuka word ataupun GIS dalam kasus gue, that’s a pretty good job
  7. Tugas kadang bikin alergi, bikin gue malas liat laptop. Bikin parno kalau belum kelar, tapi sangat malas untuk ngelarin.
  8. It is indeed, tapi ketika lo mengerjakan dengan sepenuh hati, dan hasilnya bisa lo banggakan (terlepas dia bagus ataupun jelek dibanding yang lainnya). Your effort will be worth it.
  9. So... the least you can do is Do It Now.

#SelfEncouragement


Salam Roti!

Kamis, 23 Oktober 2014

One Selfish Bitch

Oke, resmi hingga tiga jam yang lalu sudah lengkap ada 3 orang yang bilang gimana egoisnya gue. Satu, temen ngobrol gue yang masih setia setiap kali gue butuh (meskipun gue sering nyebelin ke dia), emang yang ini orangnya suka nggak enakan. Kalau gue bilang “kritik gue donk,” dia cenderungnya nggak ngomong langsung, tapi kalau di tengah-tengah percakapan suka ngritik secara implisit. Kadang bikin ngakak juga sih.

Rabu, 15 Oktober 2014

How to Be A Better Friend (For Those Whom You Trust)

Kenapa judulnya seperti di atas? Kalau lo pernah membaca betapa songongnya gue tentang “berdiri sendirian”, maka lo akan ngerti bahwa gue benar-benar nggak mengerti “How to...” berteman sama orang lain. Terutama karena teman gue semasa SMA tempat gue sharing dsb juga sama mandirinya kayak gue.

Senin, 13 Oktober 2014

Welcome, Jackie

Ceritanya, setelah ngidam beberapa lama pada akhirnya rumah gue beneran punya anjing lagi. Fyi, dulu bokap gue itu peternak herder. Jadi kebayanglah tanah gue yang terletak di pinggiran kota itu isinya beneran anjing semua. Salah satu alasan gue ngeliat anjing kampung yang sok-sok galak malah jadi keliatan culun.

Kamis, 09 Oktober 2014

TED IS A VIRGO!

Untuk beberapa dari elo yang suka dan sudah pernah nonton How I Met Your Mother, entah kenapa gue anjing-anjingan setiap nonton itu. Iyalah, gimana enggak. Hopeless romanticnya si Ted itu gue banget. Gue. Banget.

I mean, membutuhkan 8 season hanya untuk “Mencari soulmate di tengah kota besar seperti New York.” Dan dari sekian banyak cewek yang nyantol sama dia enggak pernah ada yang benar-benar nyantol sampai di season terakhir. WTF banget ya.

Maksudnya bukan hanya itu aja sih yang bikin gue ngerasa bahwa Ted dan gue itu bener-bener mirip.

  1. Ted suka ngoreksi kesalahan orang kalau ngomong. Entah pengejaan, dsb. And so do I, gue kesel banget kalo orang ngomong grammarnya salah. Di SMS ataupun ngomong secara langsung. Apalagi orang yang suka sok-sok ngomong inggris tapi grammarnya salah. Grammar gue berantakan, tapi kalo ada orang SMS yang grammarnya berantakan, gue akan gatel untuk searching di google dan kemudian membenarkan bahasa dia. Iya, sefanatik itu gue meskipun kalo nulis novel aja bikin editor mengumpat habis.
  2. We’re modest eventhough i thought we’re pretty fun.
  3. Visi gue dan Ted panjang. Sepanjang kali Ciliwung yang sering banjir. OMG banget deh, setiap kali si Ted bahas soal keluarga, rumah tangga, dan wanita impian (lalu mendapat sambutan jijik dari teman-temannya) I would like, “fuck you, Ted.”. (Yang dimaksud dengan “visi panjang” di sini adalah, kebanyakan ngimpi).
  4. Terlalu gampang menyimpulkan ketika kita suka/tidak suka kepada seseorang. Our judgement mostly wrong. Seperti ketika Ted segitu gampangnya bilang “I love you” ke satu cewek dan sebetulnya dia sama sekali belum menyadari bahwa perasaannya masih dan akan untuk Robin aja. Judgement kita nggak bisa dipercaya bahkan ketika itu menyangkut perasaan sendiri.
  5. He’s romantic in a modest, cliche, yet unique way. Romantisnya secara verbal, bisa buat orang langsung nyaman. Atau hal-hal umum seperti bunga dan dinner. Samanya kayak gue... ya... gitulah.
  6. Gampang excited akan sesuatu, tapi gampang juga malasnya. Setiap Ted dan teman-temannya berkumpul di Bar, dia sering banget sekonyong-konyong ngomong tentang sesuatu yang bikin dia excited lantas nggak ada kelanjutannya lagi.


Sebetulnya tujuan gue nulis ini di blog adalah:

Despite rumor semacam apa yang sudah lo temukan di blog tentang zodiak Ted, I’ll let you know that... 

TED ITU VIRGO BUKAN TAURUS!

DIA. ITU. VIRGO!

SAMA KAYAK GUE.

P.s. satu lagi info yang mungkin berguna buat lo, Robin itu Leo. Really, she’s a Leo. Suka hal baru, travelling, takut komitmen, ego-centric, tapi lovely. Entah kenapa, Virgo sering jatuh untuk Leo. Percaya sama gue, Robin itu Leo.


Salam Roti!