"Time has passed and I have loved many women. And as they've held me close and asked if I will remember them, I believed in my heart that I would. But the only one I've never forgotten is the one who never asked ... Malena" - Malena (2000)
My most favourite sentence from Renato, the main character of the movie, though I really hate him for being such a coward. Never even spoke about his obsession toward Malena. Like at all? Stand still and being passive when Malena was beaten up by the whole town? I know he is 12, and Malena is a 27 years old widow. But still. He was a boy, soon to be a man. He should have done something more "significant" to protect her than throwing stones to windows, right? Duuhh. Sebel.
And the only time this boy ever spoke to Malena was just once. At the ending part of the movie. Kesel ga sih, lo. Nonton segitu panjang interaksinya cuma sekali. Pas akhir pula. Ish.
Selasa, 19 Januari 2016
Minggu, 17 Januari 2016
Review: Tribute to Adinia Wirasti
Caca selalu bilang sama gue bahwa ada dua kriteria penting
untuk define apakah sebuah film itu bagus atau enggak: 1. Script. 2. Jalan cerita. Gue
bilang, gue ga percaya. Karena menurut gue apa yang membedakan film dan buku
adalah visualisasi itu sendiri. Itu kenapa efek visual dan teknik cinematografi
penting. “Iya, tapi sekeren apapun visualnya, kalo jalan ceritanya pada
dasarnya emang jelek, film itu bakal jelek kan? Cinematografi itu Cuma masalah
teknologi, Mar.”
Jumat, 15 Januari 2016
Them
Menurut gue setiap orang punya kriteria masing-masing untuk
menentukan siapa teman yang baik buat mereka. Meski menurut gue kriteria teman
yang baik secara umum pada dasarnya sama aja. That shit about “always be there
for your friend when they need you” while i have to admit that its true, i dont
think its 100% accurate. Kita kan manusia bukan power ranger, how could we.
Even untuk keluarga sendiri kita belum tentu bisa.
Kamis, 24 Desember 2015
Punya Koko Ganteng
Here are the perks of having a (people say) handsome older
brother.
Cie, Siapa tuh, Mar?
Kalo waktu sekolah, pas ketemu di koridor terus saling
nyapa. Temen-temen cewek gue bakal,
“Cie siapa tuh, Mar?”
“Koko gue.”
“Hah siapa?”
“Koko gue.”
“Hah? Gimana, gimana?”
“KOKO GUE!”
Label:
agak agak ga jelas,
cowok,
family,
friendship,
Remaja,
sensi
Minggu, 20 Desember 2015
Hina... Mereka Hina
As you all know (kalo elo baca blog gue). Gue suka bilang di kampus gue punya temen nggak pernah bener. Buktinya ada di postingan ini. Berikut kompilasi isi chat gue dan teman-teman kampus gue.
Label:
agak agak ga jelas,
friendship,
kampus,
nostalgia,
planologi,
Remaja
Minggu, 06 Desember 2015
Dear Coffee, Thanks
Setelah sekian bulan kuliah, akhirnya gue bangun jam 8 pagi
demi kelas di hari Sabtu jam 9 pagi. Lalu ada presentasi. Ketika gue mesen
abang grabbike, lalu sampe di kampus dengan muka yang makin mirip femau dan
siap-siap nelen si abang Grabbike gegara dia sempet nyasar. There was only one
thing on my mind. I need coffee. Or I wont survive this day.
Senin, 23 November 2015
Skill
Sebetulnya gue dapet definisi (yang menurut gue paling
akurat dan aplikatif) tentang ini dari main fussball. I have said before
tentang gimana culunnya gue dalam bermain fussball. Sampe dikata-katain sama
adek kelas kesayangan (cie kesayangan) gue itu, kalo gue orangnya gampang
nyerah segala macem.
Label:
agak agak ga jelas,
baru,
cita-cita,
friendship,
kampus,
Remaja
Minggu, 15 November 2015
Status: Identifying Passion
I was writing something about passion yesterday. The first
pharagraph is great, gue menyatakan opini-opini orang tentang passion itu apa
dan sebagainya. Because I’m serious about this article, so I tried to state
some datas and facts regarding to passion. Supaya orang bisa relate itu ke
logika mereka dan lebih ngerti kenapa passion begitu penting.
Rabu, 11 November 2015
The Truth Is...
I had a conversation with one of my (brainstorming) friend. Just a few hours ago. Pokoknya membahas sesuatu tentang bagaimana tulisan bisa memotivasi anak-anak muda to stand for themselves. While di postingan gue sebelumnya adalah (menurutnya) merupakan salah satu bentuk dari "stand for themselves" tersebut. Then I realize something, really, really crucial about myself.
Here are some of our chats that I screenshots.
Here are some of our chats that I screenshots.
Kenapa gue post ini? Karena gue nggak pernah benar-benar mengakui sisi yang semacam ini sebelumnya. While postingan gue yang sebelum-sebelumnya sebetulnya nunjukin banget bahwa gue orang yang rentan insecure. This time I really admit it. There are a few of my posts that I made based on anger or insecurities. So I really hope whoever reading this blog, kritis aja. Sejujurnya, karena...
Kadang tulisan gue itu asal jeplak.
P.s. I'm working on something that really interest me.
Salam Roti!
Senin, 02 November 2015
Anak Bungsu, The Next Leader
- Selalu dianggap anak bungsu dengan konotasi anak kecil – anak paling kecil
- We get use to this sentence, “Aduh lu tuh kerja apa-apa nggak bener, sih.”
- Kena stereotip “Ceroboh”, “nggak bisa mandiri”, “selalu ngandelin orang”, “kelewat dimanja”, sampe, “nggak bisa apa-apa”.
- Nggak dianggap “pantas” memusingkan masalah-masalah yang ada.
- Dianggap nggak bisa megang tanggung jawab dan dipercaya
- Sampe-sampe orangtua lo kayanya mikir, “Yaudahlah, nih anak gue tanggung aja ampe gede daripada nggak jejuntrungan.”
- Padahal barangkali di luaran sana, elo lebih “dependable” dan lebih “kreatif” dibanding kakak-kakak lo. Mungkin softskill lo lebih ada, visi dan misi lo lebih jelas, dan leadership lo jauh lebih bagus.
Langganan:
Postingan (Atom)