Tampilkan postingan dengan label planologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label planologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 September 2020

Beli Rumah Di Bawah Umur 30 Tahun? KPR Banget?

Kebanyakan nulis report kerjaan, bikin tangan kaku nge-blog.

Gue dari kemarin pengen banget nulis blog tentang topic yang berhubungan ama hidup gue sekarang, atau berhubungan sama properti. Tiap mau ngetik di blog, “Gue pengen ngasih pendapat soal...” yang keketik malah, “Terkait kondisi yang terjadi saat ini, maka konsultan menyarankan….”

Rrrrrr.

Jadi untuk nulis satu paragraf di atas, gue udah menghabiskan 30 menit dalam hidup gue.

Baiklah, supaya kebiasaan nulis report dan keinginan gue nulis blog bisa bersatu padu dan berharmoni, gue mau bahas soal properti aja. (properti, huruf kecil. GA USAH HURUF GEDE KAYA DI LAPORAN MARISA!).

Barusan gue nonton youtube dari salah satu channel arsitektur di Indonesia. Kebetulan pada saat itu dia bahas topic soal beli rumah di bawah umur 30. Lalu gue penasaran, tips and trick seperti apa nih yang mau dia kasih untuk orang-orang seperti gue yang mau beli rumah.

Lagi-lagi… solusi lo punya rumah di bawah umur 30 tahun cuman satu : KPR.

Minggu, 04 September 2016

Stupid and Restless







If anyone remember about caca, salah satu temen kuliah gue yang pernah gue bahas waktu awal semester satu, yang gue kagumin banget karena kepintarannya itu. You know... she is a really good brainstorming friend. Really, really, really good one. She knows everything. Like... everything. She has thought and perception about what she knows also. Which make us a really good discussion team.

So people, be stupid and restless forever.

Salam Roti!

Kamis, 16 Juni 2016

Save Me

I’m sick. Batuk yang entah karena bakteri atau virus. Just tossing and turning around in bed, lalu jalan, keliling rumah, buka kulkas tapi ga ada yang bisa dimakan. Buka laptop, nonton youtube. Nggak ada tenaga ngeliat judul “Bab V Analisis”. Sore-sore ditelpon Eki Cuma buat ngasih tau akhir bab 5 udah harus ada zona pengembangan. Agak malem di-line Mitha nanyain desain sketch up. Kepala gue buyar sebentar lagi. Karena gue baru ada di titik 5.5 dari bab 7, kesimpulan.

At this point, I’m trully, asking myself. With full honesty, dan dengan kelembutan, “Why on earth, Marisa. Waktu pemilihan topik lo milih penataan? Why? Ada ratusan mall di Jakarta ini yang butuh pengelolaan dengan baik. Then your last semester would be simple.”

Setiap gue ngeluh semua orang jawab, “Tenang, Mar. Gue yakin lu pasti kelar.”, mungkin jawaban semua orang yang ga tau mau jawab apa.

Tanpa mereka bener-bener tau gimana males dan tukang nundanya gue.

Tanpa mereka bener-bener tau gimana bencinya gue sama objek studi gue yang alay dan trashy itu.

Dimana, hari senin gue udah harus ada desain tapak entah via sketchup or autocad. Gue nggak tau sejak kapan syarat desain tapak itu jadi “wajib” untuk anak penataan.

P.s. In a stressful situation, however still find a way to watch “How to make a delicious italian ricotta cheesecake.” I think i wanna be a chef instead.

P.s.s. 3 days before deadline. Dan masih nggak tau analisis pasar gue harus diapain. I think i really like this part the most. Turns out...

P.s.s.s. I’m definitely a PRO-procrastinator.


Someone save me.

Kamis, 24 Maret 2016

Magang dan Skripsi

Jadi, I got into Colliers International, another property consultant company. Sebagai anak magang, not a big deal actually setelah dijalankan. But it’s fun untuk nambah pengalaman dan pengetahuan tentang suasana kerja, plus dapet ilmu tambahan di bidang Facility Management. Mumpung lagi skripsi, statusnya masih bisa magang dimana-mana tanpa ikatan, dan bisa sambil nyari passion yang sesungguhnya.

Jumat, 11 Maret 2016

Wang, CV, dan Office Kesayangan

*Seolah ada yang peduli sama hidup gue*

Anyway, many things happen lately. And I thank the universe for that, because what is life if there’s nothing change, right? Pertama, adalah kemaren laptop gue rusak entah keinjek siapa. Emang dasar kampret, but I still love Wang, because he is my first laptop dan gue belom ada duit buat ganti juga. Jadi kerusakan Wang kemarin cukup mengagetkan karena layarnya retak. Lalu gue udah deg-degan bakal ditipu sama abang-abang harko dan abis sejuta buat ganti layarnya ini.

Minggu, 20 Desember 2015

Hina... Mereka Hina

As you all know (kalo elo baca blog gue). Gue suka bilang di kampus gue punya temen nggak pernah bener. Buktinya ada di postingan ini. Berikut kompilasi isi chat gue dan teman-teman kampus gue.

Minggu, 06 Desember 2015

Dear Coffee, Thanks

Setelah sekian bulan kuliah, akhirnya gue bangun jam 8 pagi demi kelas di hari Sabtu jam 9 pagi. Lalu ada presentasi. Ketika gue mesen abang grabbike, lalu sampe di kampus dengan muka yang makin mirip femau dan siap-siap nelen si abang Grabbike gegara dia sempet nyasar. There was only one thing on my mind. I need coffee. Or I wont survive this day.

Minggu, 15 November 2015

Status: Identifying Passion

I was writing something about passion yesterday. The first pharagraph is great, gue menyatakan opini-opini orang tentang passion itu apa dan sebagainya. Because I’m serious about this article, so I tried to state some datas and facts regarding to passion. Supaya orang bisa relate itu ke logika mereka dan lebih ngerti kenapa passion begitu penting.

Senin, 02 November 2015

Anak Bungsu, The Next Leader

  1. Selalu dianggap anak bungsu dengan konotasi anak kecil – anak paling kecil
  2. We get use to this sentence, “Aduh lu tuh kerja apa-apa nggak bener, sih.”
  3. Kena stereotip “Ceroboh”, “nggak bisa mandiri”, “selalu ngandelin orang”, “kelewat dimanja”, sampe, “nggak bisa apa-apa”.
  4. Nggak dianggap “pantas” memusingkan masalah-masalah yang ada.
  5. Dianggap nggak bisa megang tanggung jawab dan dipercaya
  6. Sampe-sampe orangtua lo kayanya mikir, “Yaudahlah, nih anak gue tanggung aja ampe gede daripada nggak jejuntrungan.”
  7. Padahal barangkali di luaran sana, elo lebih “dependable” dan lebih “kreatif” dibanding kakak-kakak lo. Mungkin softskill lo lebih ada, visi dan misi lo lebih jelas, dan leadership lo jauh lebih bagus.

Selasa, 20 Oktober 2015

Sarjana Teknik (Just A Lil More)

Gue berada dalam kondisi stress yang sebenarnya baru gue sadari ciri-cirinya. Biasa. Skripsi. Selalu kebentuk dalam imajinasi gue mau gimana tapi nggak pernah dikerjain. Gue sampe mikir mau pura-pura mati aja pas sidang. Barangkali kalo ada senior yang baca blog gue ini, bakal komentar, “Elah lebay amat, Mar, ama kolokium.”

Gue nggak sedang berada di kondisi tingkat kepercaya dirian yang tinggi, which is itu jarang terjadi ketika berhubungan sama tugas. I always thought that I can do it nicely segimanapun males-malesannya gue. Not this time.

Temen-temen kuliah gue mah gitu, kalo gue bilang, gue stress, pasti ada aja yang komentar, “He? Muka lu santai aja, Mar, perasaan?”

Iya, muka gue emang kaya gitu... dari pas lahir. Mukanya udah nyantai.

Because I really want this Sarjana Teknik title so bad, and I know I definitely can do it. Tapi kalo gini terus caranya, stress karena gue nggak merasa telah mengeluarkan effort ke dalam skripsi gue. Bisa mencret-mencret gue.

Jerawat gue keluar semua, ya maksudnya nggak lebay. Cuma muka gue jadi ada satu sampe tiga jerawat. Tiap tidur, Cuma skripsi yang gue pikirin. Menghantui. Nggak lebay, emang serius rasanya kaya gitu.

Gue terus mempertanyakan, apakah gue sudah memilih topik yang tepat, apakah ini beneran passion gue. Kok gue males ngerjainnya? Karena gue nggak tertarik sama topiknya atau emang dasarnya gue males aja?

Imas selalu punya jawaban untuk pertanyaan seperti itu, “Udah, Mar. Jalanin dulu aja apa yang ada. Yang penting dikerjain ga usah dipikirin.”

One step at a time. Everything will be okay.

P.s. gue bahas mengenai pengembangan kawasan pantai akhirnya untuk skripsi gue. Arahnya lebih ke perkotaan, dimana itu sesuatu yang nggak gue duga, pada akhirnya gue setuju-setuju aja ngambil ini topik. Semoga bisa terus lanjut, nggak dicut sama dosen.

P.s.s. Gue percaya doa adalah satu hal yang ampuh. Jadi doakan gue sukses untuk ini.

P.s.s.s. Setelah gue pikir-pikir lagi, orang di sekitar gue itu emang kepoh banget. Tapi kepoh adalah bentuk kepedulian, jadi setiap mereka nanya, “Eh, kolo lo gimana jadinya?” Dengan pandangan penuh kepedulian, I take it that they’re concern about their friends. And thats a good thing. Karena kolo itu sendirian, you walk alone in this, and you have to finish it. Pertanyaan sederhana kaya gitu bisa jadi salah satu bentuk cambukan dan motivasi.


Salam Roti!

Jumat, 09 Oktober 2015

Kado

Gue udah curiga, sejak si Eki bisik-bisik minta duit ama Louis, kalo mereka sebenernya patungan beli kado buat ultah gue. Gue sih ga ngarep, Cuma tiap liat mereka emang bawaannya inget terus kalo mereka emang belom ngasih kado buat ultah gue tanggal 20 kemarin. Jadi tiap mereka jalan tanpa ada gue, gue suka curiga kalo mereka lagi mau beli kado buat gue.

Contohnya:

Jumat, 02 Oktober 2015

Watch Your Daily Smartphone Intake, Carefully!

Sebagai orang yang suka ngritik nggak pake otak (kalo kata Devi, “Lo pikir lo udah sempurna?!”), gue suka impulsif ngomenin update-an status orang di twitter. Just now, gue ngeliat timeline seseorang yang udah agak lama nggak pernah kontak, never met in person, she used to be one of my wordpress reader. Begini kurang lebih bunyi statusnya, “I’m a melancholic asshole who’s always thinking about suicide but not daring to touch the needle.”

Kamis, 17 September 2015

Which Comes First? Temen atau Pacar?

I might not be the right person to state about this fact, seperti kata beberapa temen gue... “Marisa tuh pakar kalo soal percintaan. Kalo bisa gua kasih title ‘Pakar... Pakar Tanpa Pengalaman’” Yang ngomong tuh rasanya pengen gue gencet ke tembok, gue jedotin terus gue lempar dari lantai 6 gedung teknik. Abis itu gue lempar bangku dari atas. Btw, ini semacam korelasi antara hubungan pacaran dan pertemanan sih.

Jumat, 11 September 2015

TGIF, The Worst

Tonight is a total... disaster:

Satu, gue janjian mau jalan sama temen gue di GFC tadinya, lalu pada mau di Central Park.

Dua, saking niatnya untuk jalan malam ini, gue dandan (by dandan I mean gue pake eyeliner) Itu kan pakenya lama dan susah banget dan butuh niat banget.

Tiga, tiba-tiba mereka ngabarin mau nonton dan langsung nanya gue mau pesen tiket atau enggak.

Empat, begitu tau mereka nonton, gue udah pengen batalin perginya sekalian. Karena gue nggak mau nonton (dari kemarin ngajakin sisha tapi dicuekin), lalu balik ke poin dua. Gue udah capek-capek pake eyeliner.

Lima, akhirnya gue jalan dan nongkrong di Dante Coffee. Sendirian. Adalah kafe dengan rekor waitress terlemot sepanjang masa gue nongkrong di kafe-kafe sini.

Enam, gue duduk ada lima belas menit, boro-boro mesen. Dikasih buku menu aja enggak. Padahal karyawannya sempet nganggur-nganggur gitu nungguin pesanan.

Tujuh, akhirnya setelah gue minta baru buku menunya dikasih.

Delapan, jangan lo pikir masalah berhenti di situ. Gue harus nunggu setengah jam untuk si mbak nyamperin gue lagi dan nanyain pesanan gue. Iya gue tau emang gue bisa aja manggil, tapi masa sih waitressnya segitu ga ada inisiatifnya buat nyamperin dan nanyain pesanan gue. Atau kalau dia cukup peka, dia kan bisa nanyain perasaan gue.

Sembilan, akhirnya gue teriakin dia dari jauh. Baru dia nyamperin. Gue pesen bir.

Sepuluh, setelah birnya dateng, gue buka tutupnya (yang emang udah dibuka sama si waitress, tapi ditutupin asal gitu) dengan satu tangan, dan birnya tumpah. Kena laptop.

Sebelas, terbitlah postingan ini.

***

Gue tau, seharusnya gue...

Satu, nggak usah sok-sokan pake eyeliner.

Dua, begitu tau temen gue pada nonton langsung aja gue batalin dan nonton Bintang Pantura di rumah atau makan martabak telor sambil minum coca cola.

Tiga, tapi gue udah excited banget pengen keluar malam ini.

Empat, menghabiskan waktu gue di Dante Coffee untuk ngerjain tugas alih-alih ngeluh kaya gini... tapi... LO PIKIR AJA GUE UDAH BAD MOOD GINI MASIH HARUS NGERJAIN TUGAS??!

HUFT

Gue lagi dapet. Gue lagi dapet.

Mungkin itu alasan sebenarnya malam ini terjadi.


Fuck.

Kamis, 10 September 2015

Nggak Bakat Komitmen

I'm basically the worst person in commiting. Gue ada tendensi untuk selalu mengabaikan apapun yang ga ada untungnya buat gue. While komitmen berarti lo terikat pada sesuatu dengan atau tanpa benefit/profit dari hal tersebut.

Jumat, 04 September 2015

Kolokium

Kadang gue ga nyangka seberapa stressnya gue akan satu hal. Saking seringnya “ngegampangin” segala hal, termasuk rasa khawatir gue sendiri. Baru nyadar waktu kemarin gue kebawa mimpi. Ceritanya, beberapa minggu belakangan temen-temen gue yang udah pada ngambil kolokium (kelas skripsi bab 1-3) lagi pada galau milih topik. While gue santainya bener-bener santai kaya orangutan kekenyangan.

Minggu, 30 Agustus 2015

Tips Menikmati Hari Minggu

  1. Setelah lo buka mata, terus (pasti) ngecek handphone, jangan tidur lagi. Langsung mandi. Mandi siang-siang bikin lo ngerasa lo “berhak” untuk tidur lagi sesiangan itu. While mungkin itu yang dilakukan sebagian besar orang (karena hari minggu waktunya libur dan bangun siang), I prefer minggu jadi hari yang produktif. Biar nggak jetlag waktu seninnya. Hari libur sebenarnya: Sabtu.
  2. Ngopi. The best time in every day of your life.
  3. Ngerjain tugas untuk hari senennya, karena gue paling biasa tuh nyisain kerjaan buat hari minggu. Jadi sabtunya puas-puasin jalan atau istirahat.
  4. Quality time sama binatang peliharaan (atau keluarga kalo keluarga lo pada ga sibuk)
  5. Beresin apapun yang perlu diberesin dalam hidup lo. Biasanya laci buku, kamar, atau pikiran lo sendiri.
  6. Jalan-jalan sore. Memperhitungkan bahwa lo menghabiskan hari sabtu hang out sama temen lo, means hari minggu adalah waktu untuk diri lo sendiri.
  7. Kalo kerjaan kelar, ngopi udah, kamar rapih. Do your hobbies. Baca buku seharian, nonton film seharian, atau nulis apa aja seharian. Bisa di rumah, atau cari tempat nongkrong yang asik.
  8. Tidur awal. Sekali lagi, supaya lo nggak jetlag pas hari seninnya.

Salam Roti!


(Ini tips dari gue, mahasiswi semester 7 pengangguran dan nggak harus musingin apa-apa tiap hari minggu)

Sabtu, 22 Agustus 2015

Najisnya Imas

Kalo kalian sempet baca beberapa postingan sebelumnya dan gue sempet bahas soal satu temen gue yang lumayan cantik, namanya Imas. Ini adalah beberapa kompilasi kenajisan dia sepanjang perkenalan gue sama nih anak dari semester satu. (Ini yang recently, sebetulnya banyak sih najisnya dia).

ADEGAN 1 Nonton Film Horor

Ceritanya malam minggu ini gue, Mitha, Imas, dan Eki menghabiskan waktu dengan nonton film horor. Idenya Eki, pake laptop gue. Padahal gue udah ngodein mereka berkali-kali untuk nonton bokep aja. Karena di laptop gue banyak koleksi bokep. Tapi dia tetep kekeh nonton Shutter.

Senin, 29 Juni 2015

Better Than Me?

Gue yakin lo pasti pernah dengar cerita tentang ikan yang dipaksa manjat dan tupai yang dipaksa berenang. Belum pernah? Googling deh. Itu cerita yang representatif banget untuk postingan gue kali ini. Here’s a fact tentang gue... gue adalah jenis orang dengan self-esteem yang sangat rendah. Gue selalu menemukan cara untuk merendahkan diri gue sendiri tanpa perlu orang lain ngelakuin itu.